Wednesday, 28 November 2018

Jalan-jalan di Rangkasbitung

Sudah lama sekali sejak terkahir saya update blog ini, bukannya nggak ada cerita sih tapi biasalah kebanyakan acara membuat banyak sekali alasan untuk tidak menulis. Biasalah, acara lari-larian yang membuat saya mesti latihan berbulan-bulan.

Nah, kali ini saya mau menceritakan pengalaman saya ke Rangkasbitung. Ada apa ya disana? Rangkasbitung adalah ibukota kabupaten Lebak dan merupakan kota yang sudah terkenal pada jaman penjajahan Belanda karena merupakan sumber penghasilan bagi penjajah berkat hasil alamnya yang melimpah. 

Saya berjalan-jalan ke Rangkasbitung karena mengantarkan mbak ART saya yang akan pulang kampung selamanya. Istilah kerennya for good ya...hihihihi...
Karena sakit usus buntu dan harus dioperasi dan menjalani masa penyembuhan yang cukup lama, si Neng tidak dapat kembali bekerja di rumah saya.  Seetelah beberapa bulan paska operasi baru bulan ini si Neng balik lagi ke rumah saya untuk mengambil sisa pakaiannya dan sekalian saya antar pulang supaya bisa ikutan melihat kota Rangkasbitung.
Mbak ARTku ini sudah cukup lama ikut membantu di rumah, sudah sejak umur anak saya 4 tahun, sampai sekarang 13 tahun, so saya jadi penasaran juga seperti apa kampungnya. Karena desanya masih cukup jauh dari Rangkasbitung, 2 jam perjalanan dengan minibus, saya memutuskan untuk jalan-jalan saja di kota Rangkasnya dan tidak sampai ke kampungnya di Kumpay. 

Untuk menuju Rangkasbitung, saya dan Neng naik kereta api Rangkasjaya dari stasiun Tanah Abang, 
Kami sampai di stasiun Tanah Abang yang sekarang sudah luas sekali sekitar jam 9 pagi, Beruntung kami tidak perlu menunggu lama, karena kereta langsung tiba dan kami bisa segera berangkat dari jalur 6, 

Perjalanan ditempuh selama 2 jam dan sekitar pukul 11 siang tibalah kami di stasiun kereta api Rangkasbitung yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda.  Stasiun kereta api ini termasuk bangunan bersejarah peninggalan jaman kolonial Belanda.  Transportasi kereta api termasuk penting pada saat itu.

Jalan di depan stasiun yang sempit bertambah sempit dengan banyaknya becak dan ojek yang mangkal disana. Neng menawar becak karena bawaan kami yang cukup banyak. Kami menuju ke warung ibunya Neng untuk meletakkan koper dan makan disana.  
 Hanya beberapa saat kami menelusuri jalan-jalan di kota Rangkas yang sepi dan akhirnya sampai juga kami di warung Soto dan Ayam Goreng Juju. Saya langsung pesan soto ayam karena sudah lapar berat.

Setelah makan saya dan Neng pergi menuju ke alun-alun Rangkasbitung dengan menumpang angkot. Saat itu sekitar jam 12 siang, alun-alun sepi dan panas, kami hanya foto-foti dan segera menuju tujuan utama perjalanan saya ke Rangkasbitung hari ini : Museum Multatuli dan Perpustakaan Saidjah Adinda.



Sebelum datang ke Rangkas saya sudah googling dan menemukan bahwa dikota kecil ini terdapat Museum canggih bernama museum Multatuli yang diresmikan oleh Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dan Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid pada Minggu, 11 Februari 2018. Bangunan museum, yang merupakan bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak  yang dibangun pada tahun 1920-an.

Eduard Douwes Dekker, atau yang dikenal pula dengan nama pena Multatuli, adalah penulis Belanda yang terkenal dengan buku karangannya Max Havelaar (1860) Saat menjalani jabatan sebagai asisten Wedana Lebak, pria kelahiran Amsterdam, 2 Maret 1820 ini menyaksikan praktik pemerasan oleh bupati setempat terhadap rakyat Lebak. Max Havelaar, novel yang ditulisnya, berisi kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia-Belanda.








Tetapi, sesampainya kami disana ternyata museum tutup pada hari Senin dan kamipun gagal melihat isi museum. Tetapi kami cukup beruntung karena di halaman depan museum terdapat pameran benda-benda bersejarah yang digelar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten. 








Benda-benda yang dipamerkan merupakan replika dari benda-benda yang berada di balai pelestarian cagar budaya Banten, seperti bekas tapak kaki, dan info-imfo seputar obyek wisata yang berada di kabupaten Lebak. 

Berikut saya lampirkan dari brosur yang saya dapatkan disana : 





Di halaman museum Multatuli terdapat patung karya Dolorosa Sinaga yang terbuat dari tembaga yang terdiri atas tiga objek utama: Multatuli, Saidjah, dan Adinda. Saidjah dan Adinda adalah dua karakter yang dicuplik dari salah satu bab di Max Havelaar. 
Patung Saidjah setinggi orang dewasa berada di bagian depan. Tubuhnya tegap bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana sepanjang betis. Tangannya terbuka seakan mempersilakan pengunjung untuk masuk melihat dua objek patung lainnya yang berada di atas panggung.
Di atas panggung, patung Adinda seorang diri duduk di bangku panjang. Matanya menatap lemari yang berisi beragam buku. Adinda digambarkan sedang melihat koleksi buku di lemari. Itu menunjukkan ketertarikannya akan sejarah. 

Di samping lemari, duduk sosok Multatuli. Kepalanya tertunduk menatap buku. Bukunya dibuat jauh lebih besar daripada tubuh Adinda, . Dolorosa sengaja membuatnya demikian karena ada pesan yang ingin disampaikan.Buku Multatuli itu melambangkan sumber persatuan yang mencerdaskan kita semua, baik pikiran maupun jiwa. Ukurannya lebih besar daripada dirinya karena buku itu sangat berharga. 






Di sebelah museum Multatuli terdapat perpustakaan daerah Rangkasbitung yang bernama Saidjah dan Adinda. Saidjah dan Adinda adalah pasangan muda mudi yang ceritanya berakhir tragis pada masa kolonialisme Belanda di Rangkasbitung. 

Bangunan perpustakaan yang modern dan unik terlihat mencolok diantara bangunan di sekitar alun-alun dan kota Rangkasbitung.  Keren banget.





Setelah puas foto-foto di museum dan perpustakaan, kami melanjutkan perjalanan ke Balong Ranca Lentah.  Balong yang artinya Kolam Lintah Rawa. Ini arti berdasarkan google translate. 
Menurut google map si Balong ini hanya sekitar 4 menit berjalan kaki dari museum. Dalam perjakanan menuju ke sana kami melewati Watertoren alias menara air yang tadi ada tulisannya di pameran cagar budaya.  (lihat gambar)



Sesampainya di Balong Ranca Lentah, yang ternyata adalah telaga kecil ber air hijau kami foto-foto dan berjalan memutari telaga dan menemukan mobil yang menjual sop duren. Wah, lumayan nih sebagai penghilang dahaga di siang yang panas, Sambil minum es kami duduk-duduk di bawah pohon dan melihar-lihat keadaan. Rangkasbitung kota kecil yang sepi sehingga tidak terlalu banyak kendaraan yang lalu lalang. 





Setelah puas menikmati suasana, saya dan Neng naik angkot yang lewat untuk langsung menuju stasiun. Sesampai disana saya masih sempat jalan tahu crispy dan tepat ketika saya masuk stasiun kereta Rangkasjaya menuju Jakarta telah tiba dan saya langsung naik. 

Berakhirlah petualangan saya di Rangkasbitung dan saya akan kembali lagi untuk melihat museum Multatuli. Ada yang mau ikut? 















Thursday, 7 June 2018

Mandiri Jogja Marathon : Race Day (Bagian 2)




Sekitar pukul 3 pagi saya akhirnya terbangun karena mati lampu yang mengharuskan semuanya bangun untuk bersiap-siap.  Perasaan campur aduk mewarnai hati ini, antara senang, cemas, takut, deg-degan dan lain-lain semua perasaan campur jadi satu. Setelah semua beres, saya, Andi dan teman satu lagi berjalan menuju garis start di area Candi Prambanan. Karena Andi telah ikut race yang sama tahun lalu membuat kami tidak kesulitan menuju lokasi start. Sekitar 1k kami berjalan, yah, hitung-hitung sebagai pemanasan dan setibanya di lokasi lomba saya sempatkan untuk ke toilet dan pemanasan lagi.   Bos saya di kantor Bu Wanda dan Pak Nico juga ikut serta dan sempat telpon-telponan walau tidak bisa ketemu. Saya sudah harus menuju garis start untuk bersiap-siap. 
Pemandangan candi Prambanan di waktu subuh tampak menakjubkan, terasa magis karena pendar lampunya di tengan gelapnya malam. Sayang saya tidak sempat foto di depannya karena harus mengejar waktu start FM jam 5 pagi.  Tetapi beruntung saya sempat foto candinya.







Akhirnya, setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berdoa serta sekedar kata sambutan dari perwakilan Bank Mandiri,  bendera startpun dikibarkan.
Dalam kegelapan subuh pagi itu saya berlari bersama dengan peserta lainnya. Saya berlari santai saja karena jalanan yang sempit dan masih ada puluhan km lagi yang harus ditempuh. Jalanan khas yang biasa ditemui di pedesaan jawa dengan pemandangan sawah dan rumah-rumah penduduk mewarnai km demi km menuju garis finish. Dimulai dari km 6 jalanan sudah mulai menanjak sehingga pace saya mulai melambat. Saya tidak bisa memenuhi target pace 7 yang saya targetkan untuk 21K pertama kurang dari 3 jam.  Disini saya sudah mulai putus asa.  Putus asa yang terlalu dini menurut saya. Entah kenapa saya selalu mengalami hal seperti ini jika berlari Full Marathon. 
Saya wa teman saya yang juga panitia, Bangko.  Yah, hanya sekedar menghubungi seseorang untuk berkeluh kesah supaya bisa menghibur hati dan ternyata  ditanggapi serius oleh teman saya (ikuti terus ceritanya sampai akhir ya..)

Setelah curhat di wa hati saya mulai agak tenang dan saya masih bisa melanjutkan langkah menuju km berikutnya. Sampai di sini saya teringat akan seseorang di Jakarta yang bisa membuat saya tetap melaju menuju garis finish. Saya bertekad akan langsung pulang ke Jakarta jika bisa menginjakkan kaki di garis finish sebelum waktu COT. Rencana saya untuk jalan-jalan dan pulang pada hari Rabu akan saya batalkan. Pokoknya saya harus langsung pulang ke Jakarta besok.
Dengan ketetapan hati seperti itu dengan semangat saya menuju garis finish. KM 21 telah saya lalui dalam 3 jam dan saya bertekad untuk mencapai km km berikutnya. Apalagi setelah km 21 jalan mulai menurun sehingga langkah kaki terasa lebih ringan. Di sini saya juga mampir ke warung untuk membeli teh pucuk. Yes, saya perlu asupan gula rupanya supaya lebih semangat.  Setelah sampai di km 25 saya semakin semangat untuk mencapai km 30.  Rute yang semula berada di jalan pedesaan sudah mulai memasuki jalan perkotaan yang bercampur dengan kendaraan besar dan sengatan panas matahari mulai terasa.  Dengan semangat yang masih tersisa saya tetap mengayunkan kaki selangkah demi selangkah menuju garis finish.

Untuk memberi semangat kepada para peserta panitia memberikan hiburan di sepanjang jalan yang sebelumnya sudah di informasikan kepada para peserta. Yaitu : Jathilan di 6,22,40. Badui di km 9,26, Karawitan di km 12, Hardroh di km 18, Reog di km 32, Keroncong di km 34, Gejog Lesung di km 35 dan Barongan di km 38.  Hmmm… tapi kok saya nggak merasakan semuanya yaa.. terlalu serius nih larinya. Atau pas saya lewat karena udah terlalu siang jadinya udah bubar. Hihihi.. tapi yang jelas sepanjang jalan saya masih merasakan anak-anak sekolah yang memberikan semangat kepada peserta dengan memberikan tos dan teriakan semangat dengan logat jawa yang khas. 



Menjelang km 35 saya melihat teman saya Mario di pinggir jalan, dia membawa kamera dan sedang foto-fotoin peserta. Ada Mario berarti ada sohib saya Harsi dong. Duh senangnya, langsung saya semangat lari sampai di ujung jalan. Km 35 itu sedang melalui jalan di tengah sawah yang panasss… jadi ketemu Harsi itu seperti ada oase di tengah gurun, teman untuk berbagi keluh kesah tepatnya.  Duh kayaknya 42 ini kok gak sampe-sampe sih… mau nangis rasanya.  Kapok deh gak mau lari FM lagi.

Saya dan Harsi sibuk foto-foto sambil lari dan setelah puas saya kembali meneruskan lomba, masih ada 7 km lagi menuju finish. Semangat.

Memasuki km 36 keadaan saya sudah semakin payah, ketika lari Garmin saya selalu memberi peringatan bahwa heart rate too high jadi saya hanya bisa jalan cepat dan lari bergantian, walaupun lebih banyak jalannya. 

Candi yang bertaburan di kompleks Prambanan mulai terlihat, saya tidak bisa foto-foto karena HP mati selain itu mesti memburu waktu karena COT semakin dekat.  Candi Plaosan Lor dan Kidul, Candi Sewu, Candi Bubrah,  Candi Lumbung hanya bisa saya lihat sekilas.  Sambil berkhayal bisa foto-foto di depan candi itu.





Menjelang finish saya kembali bertemu Harsi yang terus menemani sampai menjelang Finish.  Jauh banget finisnya.. hiks.. tetapi akhirnya dengan dukungan semangat akhirnya bisa lari lagi beberapa ratus meter menjelang finish dan akhirnya ..FINISH.  Saya berhasil melalui serombongan orang-orang yang masuk finish dengan lambat dan menguasai gerbang finish sendirian demi foto kece. Mudah-mudahan dapet foto kece di finish deh.


Setelah memasuki garis finish, mulai drama lagi dengan duduk di pinggir jalan membuat dua orang petugas kesehatan buru-buru mendatangi dan melakukan serangkaian pertolongan pertama.  Betis rasanya kaku banget dan seluruh badan sakit, biasa sih sepertinya tapi ditambah cuaca panas kayakya jadi tambah parah ..(lebay.. hihihi)..  Akhirnya saya berhasil memaksa diri untuk jalan ke tempat pengambilan medali, refreshmentnya dapet minuman hydro coco yang bisa diambil sepuasnya.  Ini surga banget karena Hydro coconya ada di bak isi es dingin. Sebenernya panitia menyediakan jajanan tradisional di area finish tetapi saya sudah terlalu capek untuk melihat-lihat.

Sesuai dengan tagline acara Mandiri Jogja Marathon  yang mengedepankan produksi dalam negeri, semua fasilitas dan sponsor pun meggunakan produksi dalam negeri. Mulai dari jersey race dan finisher, menggunakan produksi Indonesia, termasuk pisangnya hasil kebun penduduk dan  minuman isotoniknya juga produksi dalam negeri.
Sampai di bagian tempat runner istirahat saya bertemu dengan Andi yang dengan sabar mendengar segala keluh kesah saya yang kecapean berat. Di tempat ini panitia sudah menyediakan bed-bed untuk pelari yang membutuhkan stretching supaya otot tidak sakit setelah melakukan lari berjam-jam.
Saat di tempat ini lah saya meminta salah satu panitia memanggil Bangko teman saya. Dan ketika Bangko datang dia tampak lega setelah mengetahui bahwa saya baik-baik saja. Soalnya sewaktu saya menghubungi dia by wa, Bangko sempat menghubungi panitia di km 20 untuk membantu saya yang sepertinya mengalami masalah. Tetapi ketika di hubungi by HT panitianya malah bilang, wah orangnya sudah lewat, pak. Ihik.. jadi Bangko langsung beranggapan saya sudah baik-baik aja.  Nggak nyangka loh sampe di hubungi ke lapangan gitu.. jadi terharu.  Ini kan salah satu drama biar Marathonnya berkesan. Hahaha... Tapi serius waktu kejadian tuh emang menderita banget.. udah pengen nyerah aja, ngapain sih lari sampe puluhan km gitu.  Manjanya langsung keluar.
Setelah ngobrol panjang lebar dengan Bangko yang bercerita mengenai suka duka menjadi EO Jogmar, saya dan Andi pulang ke penginapan.  Beruntung sebelum pulang kami sempat bertemu dengan Harsi sehingga bisa mendapatkan beberapa spot foto kece dengan latar candi Prambanan. 

Sampai di penginapan, semua orang sudah sibuk check out. Saya sibuk mencharge HP yang mati total supaya bisa memberi kabar kepada  teman-teman. Setelah itu mandi dan beres-beres. Belum sempat untuk istirahat sama sekali, hanya duduk sebentar dan bercerita mengenai jalur FM yang panas.  Rencana saya sih habis ini langsung menuju ke rumah tante saya yang di Yogya karena sodara saya yang membawa kunci sudah datang dan saya bisa menginap di sana. Untuk transportasinya kalau tidak  bisa ikut mobil rombongan ya pesen gocar.


Akhirnya setelah di urusin sama mas Toton dan Andi, teman-teman Couchsurfing Runners saya bisa ikut mobil mereka menuju resto Warung Sawah di  Gito Gati, Dusun Gondanglegi, Sari Harjo, Ngaglik, Sariharjo, Kec. Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581.  Sekalian alamat lengkapnya. :)

Pokoknya saya ikutan aja deh karena memang sehabis lari tidak ada acara dan tadinya mau langsung pulang. Tapi karena diajak untuk gabung dan masih ada tempat di mobil saya pasrah aja. Lagian saya lapar belum makan. 

Acara mereka sore itu adalah ketemuan sesama anggota Couchsurfing yang ada di Yogya.  Couchsurfing sendiri adalah komunitas traveler global yang anggotanya menyediakan tempat tinggal sementara secara gratis bagi traveler yang berkunjung ke suatu daerah dan berfokus pada cultural exchange dan juga membangun networking services bagi para anggotanya. Yang berminat untuk jadi anggota silahkan googling aja ya...
Saya juga daftar jadi anggota Couchsurfing karena mempunyai hobby traveling tapi bukan merupakan anggota yang aktif.  
Warung Sawah ini lokasinya asyik, bisa menikmati hijaunya sawah membentang sambil makan dan kongkow serta foto-foto. Pokoknya seneng bangett  bisa ikutan, happy karena akhirnya bisa finish FM yang ke 3 di Yogya sesuai target under COT dan terhibur dengan adanya temen-temen baru. 

Disini rencana saya juga berubah karena ternyata ada teman baru saya yang sudah booking hotel tapi tidak mau tidur sendirian, saya akhirnya diajak lagi untuk nemenin.  Nama temen baru saya ini  Fay, yang baru pertama kali lari-lari serta langsung ikut HM. Buset deh, nekat. Alhasil, kami berdua jadinya senasib, sama-sama jompo karena pegel. 


Kenyang makan, sekitar jam 5 sore, saya dan Fay menuju hotel dengan Go Car dan setelah sampai di kamar kami berdua tepar dan tidur sampai pagi. Hotelnya merupakan hotel jadul yang namanya agak unik yaitu OGH Doni tapi yang bikin lumayan walaupun hotel jadul tapi tetep dapet sarapan. 




Pagi hari saya bangun dengan keadaan yang lebih segar dan pegal sudah mulai hilang. Dari hotel saya menuju ke rumah untuk meletakkan tas dan langsung ke stasiun untuk menukar tiket.  Sekarang untuk proses tukar tiket lumayan cepat, mbak petugasnya langsung menghituang harga tiket setelah dikurangi denda dan langsung ditambahkan di harga kereta yang tersedia hari itu. Saya mendapat kereta Gajayana yang berangkat jam 8 malam. 



Setelah selesai urusan tiket saya menghubungi teman saya yang ternyata sedang ada di Malioboro, jadilah saya kesana dan ikut sarapan di kedai dekat pasar Klewer tapi setelah itu saya memisahkan diri dan nongkrong menghabiskan waktu di Kedai Kopi Mataram lalu balik ke rumah saya di Yogya setelah sebelumnya janjian dengan Putri teman kuliah dulu di Ciao Gelato deket rumah nanti jam 4 sore. 

Putri datang dianter misua dan anaknya yang berumur 5 tahun. Lucu banget. Kangen-kangenan membahas jaman kuliah dan pekerjaannya sekarang yang jadi guide wisata dan rental mobil membantu suaminya. Jika perlu rental mobil dan info wisata Yogya bisa menghubungi : jogjakartadriver.com/tours.html. 
Pulangnya saya diantar Putri dan keluarga ke rumah, sebelumnya mampir dulu ke toko HP untuk beli charger dan saya dibekelin cake talas yang tokonya ada di sebelah toko HP itu. Wah, senangnya... rejeki anak soleh nih.

Ciao Gelato


Akhirnya saatnya pulang pun tiba, yeaaay.. setelah menunggu sejenak di stasiun Tugu dan lumayan terhibur dengan adanya penyanyi jalanan yang mebawakan lagu-lagu jadul, saya akhirnya menempati kursi nyaman saya di KA Gajayana.  KA ini memang KA executive yang mewah karena memakai rangkaian kereta terbaru buatan INKA  tahun 2017. Selain model kursinya yang seperti kursi kelas bisnis di pesawat, setiap penumpang juga mendapat selimut dan bantal gratis. Dan karena di sebelah saya kosong jadinya lebih asyik lagi karena bisa selonjoran.  Benar-benar sepadan deh naik kereta super nyaman ini setelah kemarin lelah setelah lari-larian. 

Setiap lari Full  Marathon pasti punya ceritanya sendiri  dan kali ini saya mendapat banyak pengalaman yang tidak bakal saya lupakan dan menjadi pelajaran untuk mengikuti race FM berikutnya.  Tadi katanya kapok? iya siiih, kapok juga. Tapi masih pengen punya waktu yang agak bagusan dikit nih untuk FM, jadi kalau ada kesempatan lagi masih mau deh ikutan. 







Mandiri Jogja Marathon : Persiapan dan Perjalanan (Bagian 1)




Setelah sekian lama cuti akhirnya saya kembali lagi menulis. Hmm.. sebenarnya ada beberapa bagian cerita, tentang persiapan latihan untuk lari Full Marathon saya yang ke 3 dan tentang lombanya dan pengalaman trip ke Yogyanya sendiri.

Persiapan Full Marathon ke 3
Sejak tahun lalu saya sudah merencanakan bahwa di tahun 2018 saya akan ikut lari FM di Jogja.  Jadi saya selalu mengikuti perkembangan mengenai lomba ini mengingat slot lomba tahun lalu laris bak kacang goreng.  Sejak awal tahun 2018 saya sudah latihan dengan memakai aplikasi Myasics.com. Dengan memakai aplikasi ini kita tinggal memasukkan data-data seperti berapa kali seminggu akan berlatih, target yang akan dicapai dan lain-lain dan dengan sekali klik akan muncul jadwal latihan yang telah disusun oleh MyAsics ini. 

Jadwal latihan sudah dapat, saatnya berburu slot FM di Jogmar. Info awal yang saya dapat adalah penjualan early bird untuk komunitas dengan diskon 50% menjadi Rp. 275 ribu. Tetapi saya tidak mendapat slot karena memang tidak terlalu aktif di komunitas. Beruntung, ada teman saya yang mendapat slot dan untuk 1 orang mendapat jatah membeli slot untuk 2 orang. Masalahnya, pada hari H saya ikut race di daerah Monas, jadi tidak bisa ikutan antri. Untunglah teman saya yang  baik hati itu bersedia antri sendirian. Setelah race selesai barulah saya datang ke lokasi penjualan dan Alhamdulilah, teman saya berhasil mendapat 2 tiket. Asyik. 

Setelah slot di tangan, berikutnya yang harus diurus adalah transportasi menuju Yogya. Saya berhasil membeli tiket Lion Air dengan harga murah, berangkat Kamis malam dan kembali ke Jakarta pada Rabu pagi dengan naik kereta api. Lama juga ya saya pergi dan ini adalah hal yang saya sesali kemudian… 

Nah, semua sudah beres dan tinggal menjalani latihan hari demi hari. Tidak boleh ada rasa malas karena di FM kali ini saya mempunyai rencana untuk memperbaiki catatan waktu saya. Sengaja pakai aplikasi supaya tidak terlalu terikat dengan jadwal dari coach. Biasalaaah saya kan malas dan manja, hahahaha…

Sesuai aplikasi saya hanya berlari 3 kali seminggu dengan total km per minggu sekitar 35-40 km.Menurut coach Andri mileage seminggu harus min 50km, jadi menurut mas Andri latihan FM kali sebenarnya kurang maksimal. Tapi gimana dong…  jalanin aja deh..  
Sesi latihan saya jalani dengan rajin,walaupun kadang-kadang malas, tapi demi finish FM dengan PB (Persoanl Best) saya menjalani hari-hari latihan dengan semangat.  Berusaha memberi motivasi kepada diri sendiri bahwa dengan latihan yang rutin pasti bisa mendapatkan hasil yang baik. Apalagi teman-teman yang lain semuanya sudah mempunyai hasil yang baik ketika berlari FM. Sehingga saya yang telah dua tahun absen menjadi terpacu juga untuk mempunyai hasil yang sama.  Apalagi race FM di Yogya ini sudah saya jadwalkan sejak 1 tahun lalu. Dan masuk dalam bucket list tahun 2018. 
Saya memilih jadwal latihan semingga 3x di aplikasi MyAsics dengan prediksi finish 6.30 sehingga target pace yang ditetapkan selama latihan berkisar 8-8.30 bahkan untuk easy jog bisa pace 9. Tetapi karena selama latihan saya selalu memasukkan hasil yang lebih cepat, aplikasi MyAsics lalu meng adjust saya dan memberikan target baru dengan Finish 5.30. Duh, bisa nggak ya…
Jika tidak berlatih di GBK saya berlari keliling Mega Kuningan atau di treadmill. Untuk long run hari minggu sudah pasti di CFD dengan rut eke arah kota, atau bahkan ada satu hari minggu baru tau kalo ke arah Harmoni ada CFD juga. Jalan di perempatan jl Sukarjo Wirjopranoto ke arah RS Tarakan. Tidak terlalu jauh sih CFDnya tapi lumayan juga biar nggak bosen.

Selama mengikuti jadwal yang telah ditentukan oleh aplikasi saya berusaha disiplin kecuali 1 hari dimana saya harus long run terakhir sejauh 30K. Hari itu saya ikut race Run for Water yang diselenggarakan oleh Palyja sejauh 5K. Pengennya sih abis itu lanjut lari lagi, tapi ternyata jadwal startnya molor, jadilah saya lari duluan dan setelah ambil medali saya lari lagi dan moodpun udah berantakan sehingga akhirnya cuma lari 21K doang. Apalagi abis itu ada acara lagi Healthy Talk Show di FX yang diadakan oleh Indorunners tambah males deh. Ih emang banyak alesannya kalo lagi males ya.. ampun deh..

Perjalanan ke Yogya

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba, hari Kamis tanggal 12 April 2018 saya sudah duduk manis di Bandara Sokarno Hatta terminal 1 menunggu keberangkatan pesawat Lion Air yang telat lagi. Udah pasrah kalo telat jadinya terima nasib aja.  Sampai di Yogya, sudah jam 9 malam dan bus Trans Yogya sudah tidak beroperasi. Tapi saya berhasil nebeng bus Transjogja yang mau pulang dan turun di daerah Janti depan RS dan dari sana saya memesan Gojek untuk ke rumah Tante. Sebenarnya saya agak was-was karena selama tante Ninik tidak ada di rumah, ada keponakan yang tinggal disana tetapi dari kemarin saya kontak tidak ada kabar.  Feeling saya kuncinya tidak dititip. Akhirnya, benar saja, saya tidak bisa masuk ke dalam rumah dan sekitar jam 10 malam saya memesan penginapan melalui Booking.com.

Saya memilih penginapan model dorm yang lokasinya dekat alun-alun, namanya Rumah Zen Homestay. Alamatnya : Jl. P Mangkurat Gamelan Raya No. 24 Panembahan, Kraton, the Kraton, Yogyakarta, 55133, Indonesia - Phone: +62 823-8443-0000.  Harganya murah Cuma Rp. 50.000,-  dan dilihat dari reviewnya cukup bagus. Dengan Gojek saya menuju penginapan itu dan sempat bingung sedikit karena letaknya tidak terlalu jelas jika malam, tetapi akhirnya saya sampai dengan selamat.

Rumah Zen Yogya

Wah, kesan pertama hostel ini homey sekali. Dengan lampu-lampu di dalam sangkar burung dan teras rumah dilengkapi dengan sofa serta jalanan dengan batu koral.  Tampak petugas guest house sedang bercakap-cakap dengan tamu orang asing. Sepertinya sih selama saya menginap semua tamu adalah orang asing, hanya saya yang lokal.  Ini juga kepepet sih, kalo nggak karena kejadian itu saya pasti nggak akan tinggal di hostel seperti ini.

Sambil menunggu kamar disiapkan saya duduk sambil mengambil foto disana sini. Hostel model rumahan memang sedang menjamur di Yogya. Saya sempat ngobrol dengan sang pemilik, Daniel, yang merenovasi rumah warisan dari orang tuanya dan dibuat hostel serta mengelola sendiri hostel tersebut.  Hasilnya cukup lumayan dan rata-rata yang menginap memang turis dari luar negeri.
Saya mendapatkan tempat tidur di bagian bawah dari dari dua tempat tidur tingkat yang ada disana. Saya satu kamar dengan turis asal Singapore yang tidur di tempat tidur seberang saya. Kami sempat berkenalan tapi tidak ngobrol banyak karena saya sibuk beres-beres, mandi dan mencari makan malam. Kebetulan dekat hostel ada angkringan jadilah saya makan saja disana. Murah meriah. Cuek ajalah nongkrong bareng bapak-bapak disana abis laper bo’.

Setelah itu saya balik lagi ke kamar dan siap-siap tidur. Tempat tidurnya cukup private karena ada kelambunya.  Pengalaman baru karena menginap di penginepan model dorm gini kan biasanya di luar negeri, baru kali ini nyobain di Yogya. Jadi seru aja rasanya.
Sebelum tidur saya dapet WA dari teman saya, Santi yang seharusnya akan menginap bareng di rumah saya yang di Yogya. Karena kejadian kunci tidak ada jadi terpaksa Santi yang mencari hotel untuk kita besok.  Dia memberi kabar sudah booking hostel di the Good Karma.  Kali ini di kamar yang untuk 2 orang walaupun bentuk penginapannya hostel rumahan juga.  Sepertinya sih bagus, karena ratingnya tinggi, jadi kita lihat saja besok.

Pagi-pagi jam 5.30 saya sudah bangun dan siap-siap untuk lari pagi di Yogya. Rute saya adalah menyusuri jalan depan hostel menuju kea rah Wijilan lalu menuju ke alun-alun dan mengitari Kraton. Akhirnya setelah berputar2 mengelilingi alun-alun beberapa kali saya berhasil lari sejauh 5K. Lari terakhir sebelum FM hari Minggu besok. Yeaay..

Keraton

Alun-alun

Kedai Kopi Margomulyo



Tadi sewaktu saya sedang lari-lari mengelilingi alun-alun melewati kedai kopi yang kelihatan asyik. Namanya Kedai Kopi Margomulyo, so setelah selesai lari saya akhirnya menuju ke sana. Tempat mearacik kopi berada di tengah bangunan kecil seperti rumah dan meja-meja berada di sekeliling meja tersebut. Saya memilih es kopi susu dan mengambil sendiri bubur gudeg di meja. Sistemnya memang ambil sendiri untuk menu bubur gudegnya.  Setelah itu saya duduk di meja yang berada di luar, minum kopi dan makan bubur sambil menikmati pemandangan alun-alun Yogya.  Jumat pagi itu alun-alun Ypgya ramai oleh orang yang berolahraga.  Di pinggir lapangan ada acara senam bersama.
Setelah kenyang saya kembali ke hostel dan setelah mandi saya pergi ke Manding lihat-lihat kerajinan kulit dan setelah itu kembali ke hostel, packing dan pindah ke hostel Good Karma. Hostel Good Karma terletak di jalan Timuran MG III/100, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55153. Telepon: (0274) 382896.  Hostelnya terlatak di gang, tetapi interornya cukup keren dan kekinian. Dengan hiasan dinding yang ceria dan berwarna-warni.  Di ruang duduknya terdapat sofa besar dengan bantal-bantal nyaman. Ada hamock dan kursi ayunan juga.  Pokoknya instagramable dan bikin betah.  Jl Timuran ini dekat dengan Jl Parangtritis dan Prawirotaman. Hanya jalan sekitar 300 meter sudah sampai.  Yang paling unik adalah kamar mandinya terletak di luar dan tanpa atap. Jadi bisa mandi sambil melihat langit.  Seru deh...




Setelah check in saya mencari makan siang dan menemukan sebuah kedai yang menjual soto ayam kampung dengan penjualnya ibu-ibu yang sudah sepuh. Feeling saya sih sotonya enak. Dan bener kan, sotonya berkuah bening, gurih dan segar. 




Kenyang makan soto, saya balik ke hostel untuk tidur siang. Nggak ada acara juga dan males kemana-mana, jadilah mager di kamar ber ac. Di luar juga panas banget.  Saya di hostel sampai Santi datang dan sorenya kami bersama-sama ke Hotel Royal Ambarukmo untuk mengambil racepack. 


Sampai sama hari sudah sore, saya bertemu dengan teman-teman yang lain, foto-foto dan lanjut makan malam ke Klangenan Resto.




Tempatnya asyik, luas dan makanannya murah meriah.  Dari sana saya kembali ke hostel dan istirahat, menyimpan tenaga untuk hari Minggu. Duh, deg-degan euy.

Hari minggu, saya bangun sekitar jam 6 pagi dan leyeh-leyeh serta sarapan dengan menu homemade pancake with pineapple, coconut and maple syrup dan kopi .  Acara saya hari ini adalah janjian dengan Yeny di Mall Malioboro untuk menuju ke acara kawinan teman SD di Pesona Pingka Resto Jl. Raya Bakungan, Wedomartani, Ngemplak, Kabupaten Sleman.  Undangan perkawinan memang datang mendadak dan kebetulan saya sedang tidak ada acara pada hari Sabtu itu jadinya saya ajak Yeny kesana.  Lumayan untuk karboloading, hehehe…



Pesona Pingka ini adalah resto yang modelnya saung-saung di tengah kebun, jadi konsep kawinannya garden party gitu. Dengan mempelainya  membaur dengan tamu.

Sekitar jam 1 siang kami ke daerah benteng Vredeburgh di Malioboro untuk ngopi di sana. Kami sengaja mencari lokasi cafĂ© yang berada di dekat area Malioboro supaya mudah dijangkau. Yenny juga gampang pulangnya.  Kedai kopi yang kami datangi Indische Koffie terletak satu area dengan Benteng Vredeburgh. Jika kita bilang ingin ke kedai kopi ini tidak dikenakan charge masuk ke Benteng. Di benteng ini memang ada museumnya yang  berisi - bangunan-bangunan peninggalan Belanda, yang dipugar sesuai bentuk aslinya. Diorama-diorama yang menggambarkan perjuangan sebelum Proklamasi Kemerdekaan sampai dengan masa Orde Baru. Koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.









Saya dan Yenny hanya ngopi dan  minum juice karena sudah makan di kawinan tadi dan setelah foto-foto di sekitar benteng kami pulang. Saya balik ke Good Karma sedang Yenny pulang ke Solo.
Saya menunggu Santi di Good Karma sambil leyeh-leyeh di sofa karena sudah check out dari tadi pagi dan akhirnyaSanti datang sekitar jam 4 sore.  Kami memutuskan untuk makan Tempo Gelato yang kondang itu.  Hmm.. di udara kota Yogya yang panas emang udah bener makan gelato sih. 



Rame bener nih toko gelato yang paling kondang se  Yogya dan setelah membeli makan untuk dimakan nanti di penginapan saya dan Santi segera cus pesan GoCar. Mayan bisa istirahat di mobil.
Untuk malam menjelang race saya sudah ikutan booking penginapan bersama teman-teman di Maqmil Homestay Prambanan.  Hostel ini adalah sebuah rumah yang besar dengan 9 kamar sehingga kami semua sekitar 36 orang bisa muat didalamnya.  Beruntung banget, saya 1 kamar dengan Andy dan mendapat kamar di depan yang ber AC.  Jadi setelah mandi, beres-beres perlengkapan untuk lari besok, makan dan mencoba tidur.  Berdasarkan pengalaman dari race sebelumnya yang selalu susah tidur malam sebelum race saya akhirnya minum pil Lelap sebelum tidur. Jam 9 berhasil tidur, tetapi masih kurang nyenyak dan akhirnya jam 11 malam saya minum pil Lelap 1 lagi dan berhasil lelap sampai pagi.