Monday, 4 March 2019

My 4th FM : Jakarta Marathon 2018

Setelah bulan April tahun 2018 lalu saya mengikuti Yogya Marathon, saya belum berminat ikut FM lagi. Duh, males banget latiannya. Tapiii... karena ada info soal Jakarta City Marathon dan ternyata saya bisa mendapat free slot jadilah saya ikutan. Sekalian pengen remedial dari race Jakarta Marathon tahun 2014 dimana saat itu saya over cot, karena cedera sehingga kurang latihan.

Bulan puasa usai dan euforia libur Lebaran berakhir, saya mulai latihan lagi dengan menggunakan aplikasi Myasics.  Ternyata latihan kali ini merupakan latihan terakhir saya memakai aplikasi tersebut karena tidak berapa lama aplikasinya tutup, pindah ke Run Keeper dan jika ingin latihan dengan menggunakan aplikasi tersebut tidak gratis lagi alias berbayar.

Mendekati hari H perlombaan, latihan lumayan lancar walaupun long run terakhir hanya berhasil sejauh 24K saja, itupun 1K terakhir jalan kaki. Info dari teman di Mesarace hanya ada sedikit perubahan rute tetapi selain itu sesuai dengan jadwal. Sampai pada hari ke dua pengambilan racepack, saya mendapat kabar dari grup Whatsapp kalau race akan diundur. Sebenarnya tidak diundur sih tetapi sudah pasti batal karena tidak jelas pula kapan akan diselenggarakan. Kabarnya karena ada isu mengenai penutupan jalan oleh kepolisian dimana hanya selang 1 minggu ada penyelenggaraan Electric Jakarta Marathon.

Duh, rasanya kecewa banget. Latihan yang sudah dijalani selama ini rasanya sia-sia. Hari Minggu saya tetap lari di CFD bersama mak Indy yang cukup menghibur hati yang galau gundah gulana. Pengen cari slot Jakarta Marathon tapi masih males. Pokoknya belum ada action selanjutnya deh. Hari selasa saya nggak lari tetapi hanya latihan cardio biasa di gym apartemen. Malam harinya saya baru niat mencari slot. Iseng posting WTB Slot FM Jakarta Marathon. Dan ternyata langsung ada yang respon. Tetapi harganya lumayan mahal, minta harga Rp. 550.000,- Duh.. nggak deh kalo segitu.

Agak malam, ada pesan masuk ke FB messenger dan memberi info mengenai slot FM dia yang bisa dipakai secara gratis karena dia mendadak tugas keluar kota. Ternyata sama-sama dari komunitas Indorunners. Perjanjiannya saya hanya dapat medali saja, semua racepack dan jersey lomba serta finisher jadi milik yang punya BIB. Okelah. Yang penting gratis, bo.
Memang kalau sudah rejeki tidak akan kemana.

Walapun agak terlambat, saya akhirnya melakukan carboloading makanan dan minuman H-3 menjelang FM. Mudah-mudahan tidak terlambat dan bisa menjadi tenaga supaya bisa finish under COT.

H-1, penyakit saya menjelang FM adalah susah tidur. Dan saya mengalaminya lagi. Duh, sampai sekitar jam 10an saya belum bisa tidur padahal sejak pukul 8 malam saya sudah minum lelap. Hanya tidur-tidur ayam dan akhirnya saya nekat minum Tolak Angin dan Neozep yang mengantarkan saya tidur beberapa jam jarena jam 4 pagi saya harus bangun untuk besiap-siap.
Beruntung rumah saya cukup dekat dengan GBK jadi tidak memerlukan waktu lama saya sudah tiba. Berkat babang Gojek juga tentunya. Pagi itu hujan sempat turun rintik-rimtik yang sudah berhenti menjelang start sehingga mudah-mudaham Jakarta tidak terlalu panas hari ini.

Setelah melakukan pemanasan, saya menuju garis start bersama peserta FM lainnya. Sepertinya tidak terlalu banyak karena peserta FM lebih memilih FM di Jacimar yang batal itu.

Bendera start dikibarkan, saya berlari dengan penuh semangat dan sudah berlari dengan pace 7 an membuat saya agak terkuras tenaganya setelah km 10. Saya mulai disalip oleh pacer pace 8 dan saya mulai merasa putus asa di KM 17. Hadeh...gimana sih saya ini.  Disitu saya bertemu dengan Revi dan mulai berkeluh kesah. "Ini kan masih km 17 masak udah nyeah sih, kata Revi. "Gw kurang tidur nih.. rasanya gak enak aja". Entah beneran atau hanya perasaan saja sebenarnya, membuat saya berjalan kaki sampai KM 18. Saya wa ke grup juga berkeluh kesah, pengen nyerah sampai saya akhirnya telp mak Indy yang memberi semangat untuk tetap meneruskan lari. Pace 9 aja mak.
OK deh, saya akhirnya tetap melanjutkan lari. Sebelumnya sempet juga wa yang punya BIB kalau saya sepertinya mau nyerah dan DNF jadi nggak bisa dapet kaos finisher.

Saya baru sadar kenapa saya seperti ini, sepertinya saya kurang gula. Jadi setelah melewati COT KM 21 yang dijaga oleh uda Yasri- sempat heran saya ikutan FM, saya mampir ke warung di sebelah kementrian luar negeri Jalan Pejambon dan beli minuman wajib saya untuk menambah tenaga, Teh Pucuk. 1 botol langsung saya habiskan dan akhirnya saya bisa berlari lagi melewati beberapa peserta yang lain. Lumayan banget deh pokoknya Teh Pucuk itu untuk menambah tenaga secara instan, walaupun menurut kacamata teori perlarian FM hal tersebut tidak baik tetapi bagaimana dong, saya sedang butuh teh Pucuk supaya bisa lari lagi.  Oh iya, di COT KM 21 ini saya hanya sekitar 15 menit menjelang batas waktu COT KM 21. Hadehh, nyaris aja kena garuk.

Rute lari Jakmar kali ini berbeda dari yang saya ikuti pada tahun 2015, dimana rute yang sekarang melewati tugu tani dan mengarah ke cikini, proklamasi dan tau-tau muncul di sekitar matraman, puter balik ke arah Jl Imam Bonjol dan masuk ke Jl Mangunsarkoro dimana disini saya ditemukan oleh Sabitha yang bersepeda bersama Didit untuk mencari saya. Duh, senengnya ketemu Bitha. Saya minta suply teh Pucuk lagi untuk km-km akhir nanti dan adegan manjapun mulai lagi. Hihihi... kayaknya pelari FM yang manja cuma saya deh.
































KM 30 terlewati dan saya mulai menanjak di fly over kuningan, saya sudah berlari campur jalan, bukan powerwalk tapi jalan biasa yang membuat saya sepertinya bakal over COT kalo begini terus. "Ayo mak lari dong.. nanti over COT loh. kata Bitha memberi semangat" Sempet telponan sama mak Indy juga disini, berkeluh kesah nggak mau FM lagi. hehehe...

Di penghujung Kuningan saya bertemu Harsi yang sedang foto-foto dan dengan masih lari jalan saya mengikuti jalur masuk ke jalan Gatot Subroto. Di sini jalan sudah tidak steril lagi, saya mesti lari di troroar dan bersebelahan dengan mobil yang penumpangnya melihat saya dengan tatapan aneh.
Saat itu udah jam 11 siang dan saya masih lari-lari di jalanan yang macet.

Selepas semanggi saya mulai berlari terus karena COT tinggal 30 menit lagi, saya terus berlari sampai Finish dan akhirnya saya berhasil finish dengan waktu 06.48. Yah lumayan... untuk hasil latihan yang biasa saja dan dengan keadaan kurang tidur. Dengan langkah gontai saya masuk ke dalam untuk ambil medali dan kaos Finisher. Ada Mae yang sempat kasih tos sebelum Finish dan ketika sudah Finish, teman saya Andi memberi pelukan. Udah hampir berkeluh kesah lagi tapi karena mau ambil medali nggak jadi deh. Hihi..

Senang bangett akhirnya Finish FM ke 4. Mission accomplish. Thank you Sabitha dan Didit, atas foto-fotonya.
















Wednesday, 28 November 2018

Jalan-jalan di Rangkasbitung

Sudah lama sekali sejak terkahir saya update blog ini, bukannya nggak ada cerita sih tapi biasalah kebanyakan acara membuat banyak sekali alasan untuk tidak menulis. Biasalah, acara lari-larian yang membuat saya mesti latihan berbulan-bulan.

Nah, kali ini saya mau menceritakan pengalaman saya ke Rangkasbitung. Ada apa ya disana? Rangkasbitung adalah ibukota kabupaten Lebak dan merupakan kota yang sudah terkenal pada jaman penjajahan Belanda karena merupakan sumber penghasilan bagi penjajah berkat hasil alamnya yang melimpah. 

Saya berjalan-jalan ke Rangkasbitung karena mengantarkan mbak ART saya yang akan pulang kampung selamanya. Istilah kerennya for good ya...hihihihi...
Karena sakit usus buntu dan harus dioperasi dan menjalani masa penyembuhan yang cukup lama, si Neng tidak dapat kembali bekerja di rumah saya.  Seetelah beberapa bulan paska operasi baru bulan ini si Neng balik lagi ke rumah saya untuk mengambil sisa pakaiannya dan sekalian saya antar pulang supaya bisa ikutan melihat kota Rangkasbitung.
Mbak ARTku ini sudah cukup lama ikut membantu di rumah, sudah sejak umur anak saya 4 tahun, sampai sekarang 13 tahun, so saya jadi penasaran juga seperti apa kampungnya. Karena desanya masih cukup jauh dari Rangkasbitung, 2 jam perjalanan dengan minibus, saya memutuskan untuk jalan-jalan saja di kota Rangkasnya dan tidak sampai ke kampungnya di Kumpay. 

Untuk menuju Rangkasbitung, saya dan Neng naik kereta api Rangkasjaya dari stasiun Tanah Abang, 
Kami sampai di stasiun Tanah Abang yang sekarang sudah luas sekali sekitar jam 9 pagi, Beruntung kami tidak perlu menunggu lama, karena kereta langsung tiba dan kami bisa segera berangkat dari jalur 6, 

Perjalanan ditempuh selama 2 jam dan sekitar pukul 11 siang tibalah kami di stasiun kereta api Rangkasbitung yang sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda.  Stasiun kereta api ini termasuk bangunan bersejarah peninggalan jaman kolonial Belanda.  Transportasi kereta api termasuk penting pada saat itu.

Jalan di depan stasiun yang sempit bertambah sempit dengan banyaknya becak dan ojek yang mangkal disana. Neng menawar becak karena bawaan kami yang cukup banyak. Kami menuju ke warung ibunya Neng untuk meletakkan koper dan makan disana.  
 Hanya beberapa saat kami menelusuri jalan-jalan di kota Rangkas yang sepi dan akhirnya sampai juga kami di warung Soto dan Ayam Goreng Juju. Saya langsung pesan soto ayam karena sudah lapar berat.

Setelah makan saya dan Neng pergi menuju ke alun-alun Rangkasbitung dengan menumpang angkot. Saat itu sekitar jam 12 siang, alun-alun sepi dan panas, kami hanya foto-foti dan segera menuju tujuan utama perjalanan saya ke Rangkasbitung hari ini : Museum Multatuli dan Perpustakaan Saidjah Adinda.



Sebelum datang ke Rangkas saya sudah googling dan menemukan bahwa dikota kecil ini terdapat Museum canggih bernama museum Multatuli yang diresmikan oleh Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya dan Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid pada Minggu, 11 Februari 2018. Bangunan museum, yang merupakan bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak  yang dibangun pada tahun 1920-an.

Eduard Douwes Dekker, atau yang dikenal pula dengan nama pena Multatuli, adalah penulis Belanda yang terkenal dengan buku karangannya Max Havelaar (1860) Saat menjalani jabatan sebagai asisten Wedana Lebak, pria kelahiran Amsterdam, 2 Maret 1820 ini menyaksikan praktik pemerasan oleh bupati setempat terhadap rakyat Lebak. Max Havelaar, novel yang ditulisnya, berisi kritik atas perlakuan buruk para penjajah terhadap orang-orang pribumi di Hindia-Belanda.








Tetapi, sesampainya kami disana ternyata museum tutup pada hari Senin dan kamipun gagal melihat isi museum. Tetapi kami cukup beruntung karena di halaman depan museum terdapat pameran benda-benda bersejarah yang digelar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten. 








Benda-benda yang dipamerkan merupakan replika dari benda-benda yang berada di balai pelestarian cagar budaya Banten, seperti bekas tapak kaki, dan info-imfo seputar obyek wisata yang berada di kabupaten Lebak. 

Berikut saya lampirkan dari brosur yang saya dapatkan disana : 





Di halaman museum Multatuli terdapat patung karya Dolorosa Sinaga yang terbuat dari tembaga yang terdiri atas tiga objek utama: Multatuli, Saidjah, dan Adinda. Saidjah dan Adinda adalah dua karakter yang dicuplik dari salah satu bab di Max Havelaar. 
Patung Saidjah setinggi orang dewasa berada di bagian depan. Tubuhnya tegap bertelanjang dada. Hanya mengenakan celana sepanjang betis. Tangannya terbuka seakan mempersilakan pengunjung untuk masuk melihat dua objek patung lainnya yang berada di atas panggung.
Di atas panggung, patung Adinda seorang diri duduk di bangku panjang. Matanya menatap lemari yang berisi beragam buku. Adinda digambarkan sedang melihat koleksi buku di lemari. Itu menunjukkan ketertarikannya akan sejarah. 

Di samping lemari, duduk sosok Multatuli. Kepalanya tertunduk menatap buku. Bukunya dibuat jauh lebih besar daripada tubuh Adinda, . Dolorosa sengaja membuatnya demikian karena ada pesan yang ingin disampaikan.Buku Multatuli itu melambangkan sumber persatuan yang mencerdaskan kita semua, baik pikiran maupun jiwa. Ukurannya lebih besar daripada dirinya karena buku itu sangat berharga. 






Di sebelah museum Multatuli terdapat perpustakaan daerah Rangkasbitung yang bernama Saidjah dan Adinda. Saidjah dan Adinda adalah pasangan muda mudi yang ceritanya berakhir tragis pada masa kolonialisme Belanda di Rangkasbitung. 

Bangunan perpustakaan yang modern dan unik terlihat mencolok diantara bangunan di sekitar alun-alun dan kota Rangkasbitung.  Keren banget.





Setelah puas foto-foto di museum dan perpustakaan, kami melanjutkan perjalanan ke Balong Ranca Lentah.  Balong yang artinya Kolam Lintah Rawa. Ini arti berdasarkan google translate. 
Menurut google map si Balong ini hanya sekitar 4 menit berjalan kaki dari museum. Dalam perjakanan menuju ke sana kami melewati Watertoren alias menara air yang tadi ada tulisannya di pameran cagar budaya.  (lihat gambar)



Sesampainya di Balong Ranca Lentah, yang ternyata adalah telaga kecil ber air hijau kami foto-foto dan berjalan memutari telaga dan menemukan mobil yang menjual sop duren. Wah, lumayan nih sebagai penghilang dahaga di siang yang panas, Sambil minum es kami duduk-duduk di bawah pohon dan melihar-lihat keadaan. Rangkasbitung kota kecil yang sepi sehingga tidak terlalu banyak kendaraan yang lalu lalang. 





Setelah puas menikmati suasana, saya dan Neng naik angkot yang lewat untuk langsung menuju stasiun. Sesampai disana saya masih sempat jalan tahu crispy dan tepat ketika saya masuk stasiun kereta Rangkasjaya menuju Jakarta telah tiba dan saya langsung naik. 

Berakhirlah petualangan saya di Rangkasbitung dan saya akan kembali lagi untuk melihat museum Multatuli. Ada yang mau ikut? 















Thursday, 7 June 2018

Mandiri Jogja Marathon : Race Day (Bagian 2)




Sekitar pukul 3 pagi saya akhirnya terbangun karena mati lampu yang mengharuskan semuanya bangun untuk bersiap-siap.  Perasaan campur aduk mewarnai hati ini, antara senang, cemas, takut, deg-degan dan lain-lain semua perasaan campur jadi satu. Setelah semua beres, saya, Andi dan teman satu lagi berjalan menuju garis start di area Candi Prambanan. Karena Andi telah ikut race yang sama tahun lalu membuat kami tidak kesulitan menuju lokasi start. Sekitar 1k kami berjalan, yah, hitung-hitung sebagai pemanasan dan setibanya di lokasi lomba saya sempatkan untuk ke toilet dan pemanasan lagi.   Bos saya di kantor Bu Wanda dan Pak Nico juga ikut serta dan sempat telpon-telponan walau tidak bisa ketemu. Saya sudah harus menuju garis start untuk bersiap-siap. 
Pemandangan candi Prambanan di waktu subuh tampak menakjubkan, terasa magis karena pendar lampunya di tengan gelapnya malam. Sayang saya tidak sempat foto di depannya karena harus mengejar waktu start FM jam 5 pagi.  Tetapi beruntung saya sempat foto candinya.







Akhirnya, setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya dan berdoa serta sekedar kata sambutan dari perwakilan Bank Mandiri,  bendera startpun dikibarkan.
Dalam kegelapan subuh pagi itu saya berlari bersama dengan peserta lainnya. Saya berlari santai saja karena jalanan yang sempit dan masih ada puluhan km lagi yang harus ditempuh. Jalanan khas yang biasa ditemui di pedesaan jawa dengan pemandangan sawah dan rumah-rumah penduduk mewarnai km demi km menuju garis finish. Dimulai dari km 6 jalanan sudah mulai menanjak sehingga pace saya mulai melambat. Saya tidak bisa memenuhi target pace 7 yang saya targetkan untuk 21K pertama kurang dari 3 jam.  Disini saya sudah mulai putus asa.  Putus asa yang terlalu dini menurut saya. Entah kenapa saya selalu mengalami hal seperti ini jika berlari Full Marathon. 
Saya wa teman saya yang juga panitia, Bangko.  Yah, hanya sekedar menghubungi seseorang untuk berkeluh kesah supaya bisa menghibur hati dan ternyata  ditanggapi serius oleh teman saya (ikuti terus ceritanya sampai akhir ya..)

Setelah curhat di wa hati saya mulai agak tenang dan saya masih bisa melanjutkan langkah menuju km berikutnya. Sampai di sini saya teringat akan seseorang di Jakarta yang bisa membuat saya tetap melaju menuju garis finish. Saya bertekad akan langsung pulang ke Jakarta jika bisa menginjakkan kaki di garis finish sebelum waktu COT. Rencana saya untuk jalan-jalan dan pulang pada hari Rabu akan saya batalkan. Pokoknya saya harus langsung pulang ke Jakarta besok.
Dengan ketetapan hati seperti itu dengan semangat saya menuju garis finish. KM 21 telah saya lalui dalam 3 jam dan saya bertekad untuk mencapai km km berikutnya. Apalagi setelah km 21 jalan mulai menurun sehingga langkah kaki terasa lebih ringan. Di sini saya juga mampir ke warung untuk membeli teh pucuk. Yes, saya perlu asupan gula rupanya supaya lebih semangat.  Setelah sampai di km 25 saya semakin semangat untuk mencapai km 30.  Rute yang semula berada di jalan pedesaan sudah mulai memasuki jalan perkotaan yang bercampur dengan kendaraan besar dan sengatan panas matahari mulai terasa.  Dengan semangat yang masih tersisa saya tetap mengayunkan kaki selangkah demi selangkah menuju garis finish.

Untuk memberi semangat kepada para peserta panitia memberikan hiburan di sepanjang jalan yang sebelumnya sudah di informasikan kepada para peserta. Yaitu : Jathilan di 6,22,40. Badui di km 9,26, Karawitan di km 12, Hardroh di km 18, Reog di km 32, Keroncong di km 34, Gejog Lesung di km 35 dan Barongan di km 38.  Hmmm… tapi kok saya nggak merasakan semuanya yaa.. terlalu serius nih larinya. Atau pas saya lewat karena udah terlalu siang jadinya udah bubar. Hihihi.. tapi yang jelas sepanjang jalan saya masih merasakan anak-anak sekolah yang memberikan semangat kepada peserta dengan memberikan tos dan teriakan semangat dengan logat jawa yang khas. 



Menjelang km 35 saya melihat teman saya Mario di pinggir jalan, dia membawa kamera dan sedang foto-fotoin peserta. Ada Mario berarti ada sohib saya Harsi dong. Duh senangnya, langsung saya semangat lari sampai di ujung jalan. Km 35 itu sedang melalui jalan di tengah sawah yang panasss… jadi ketemu Harsi itu seperti ada oase di tengah gurun, teman untuk berbagi keluh kesah tepatnya.  Duh kayaknya 42 ini kok gak sampe-sampe sih… mau nangis rasanya.  Kapok deh gak mau lari FM lagi.

Saya dan Harsi sibuk foto-foto sambil lari dan setelah puas saya kembali meneruskan lomba, masih ada 7 km lagi menuju finish. Semangat.

Memasuki km 36 keadaan saya sudah semakin payah, ketika lari Garmin saya selalu memberi peringatan bahwa heart rate too high jadi saya hanya bisa jalan cepat dan lari bergantian, walaupun lebih banyak jalannya. 

Candi yang bertaburan di kompleks Prambanan mulai terlihat, saya tidak bisa foto-foto karena HP mati selain itu mesti memburu waktu karena COT semakin dekat.  Candi Plaosan Lor dan Kidul, Candi Sewu, Candi Bubrah,  Candi Lumbung hanya bisa saya lihat sekilas.  Sambil berkhayal bisa foto-foto di depan candi itu.





Menjelang finish saya kembali bertemu Harsi yang terus menemani sampai menjelang Finish.  Jauh banget finisnya.. hiks.. tetapi akhirnya dengan dukungan semangat akhirnya bisa lari lagi beberapa ratus meter menjelang finish dan akhirnya ..FINISH.  Saya berhasil melalui serombongan orang-orang yang masuk finish dengan lambat dan menguasai gerbang finish sendirian demi foto kece. Mudah-mudahan dapet foto kece di finish deh.


Setelah memasuki garis finish, mulai drama lagi dengan duduk di pinggir jalan membuat dua orang petugas kesehatan buru-buru mendatangi dan melakukan serangkaian pertolongan pertama.  Betis rasanya kaku banget dan seluruh badan sakit, biasa sih sepertinya tapi ditambah cuaca panas kayakya jadi tambah parah ..(lebay.. hihihi)..  Akhirnya saya berhasil memaksa diri untuk jalan ke tempat pengambilan medali, refreshmentnya dapet minuman hydro coco yang bisa diambil sepuasnya.  Ini surga banget karena Hydro coconya ada di bak isi es dingin. Sebenernya panitia menyediakan jajanan tradisional di area finish tetapi saya sudah terlalu capek untuk melihat-lihat.

Sesuai dengan tagline acara Mandiri Jogja Marathon  yang mengedepankan produksi dalam negeri, semua fasilitas dan sponsor pun meggunakan produksi dalam negeri. Mulai dari jersey race dan finisher, menggunakan produksi Indonesia, termasuk pisangnya hasil kebun penduduk dan  minuman isotoniknya juga produksi dalam negeri.
Sampai di bagian tempat runner istirahat saya bertemu dengan Andi yang dengan sabar mendengar segala keluh kesah saya yang kecapean berat. Di tempat ini panitia sudah menyediakan bed-bed untuk pelari yang membutuhkan stretching supaya otot tidak sakit setelah melakukan lari berjam-jam.
Saat di tempat ini lah saya meminta salah satu panitia memanggil Bangko teman saya. Dan ketika Bangko datang dia tampak lega setelah mengetahui bahwa saya baik-baik saja. Soalnya sewaktu saya menghubungi dia by wa, Bangko sempat menghubungi panitia di km 20 untuk membantu saya yang sepertinya mengalami masalah. Tetapi ketika di hubungi by HT panitianya malah bilang, wah orangnya sudah lewat, pak. Ihik.. jadi Bangko langsung beranggapan saya sudah baik-baik aja.  Nggak nyangka loh sampe di hubungi ke lapangan gitu.. jadi terharu.  Ini kan salah satu drama biar Marathonnya berkesan. Hahaha... Tapi serius waktu kejadian tuh emang menderita banget.. udah pengen nyerah aja, ngapain sih lari sampe puluhan km gitu.  Manjanya langsung keluar.
Setelah ngobrol panjang lebar dengan Bangko yang bercerita mengenai suka duka menjadi EO Jogmar, saya dan Andi pulang ke penginapan.  Beruntung sebelum pulang kami sempat bertemu dengan Harsi sehingga bisa mendapatkan beberapa spot foto kece dengan latar candi Prambanan. 

Sampai di penginapan, semua orang sudah sibuk check out. Saya sibuk mencharge HP yang mati total supaya bisa memberi kabar kepada  teman-teman. Setelah itu mandi dan beres-beres. Belum sempat untuk istirahat sama sekali, hanya duduk sebentar dan bercerita mengenai jalur FM yang panas.  Rencana saya sih habis ini langsung menuju ke rumah tante saya yang di Yogya karena sodara saya yang membawa kunci sudah datang dan saya bisa menginap di sana. Untuk transportasinya kalau tidak  bisa ikut mobil rombongan ya pesen gocar.


Akhirnya setelah di urusin sama mas Toton dan Andi, teman-teman Couchsurfing Runners saya bisa ikut mobil mereka menuju resto Warung Sawah di  Gito Gati, Dusun Gondanglegi, Sari Harjo, Ngaglik, Sariharjo, Kec. Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581.  Sekalian alamat lengkapnya. :)

Pokoknya saya ikutan aja deh karena memang sehabis lari tidak ada acara dan tadinya mau langsung pulang. Tapi karena diajak untuk gabung dan masih ada tempat di mobil saya pasrah aja. Lagian saya lapar belum makan. 

Acara mereka sore itu adalah ketemuan sesama anggota Couchsurfing yang ada di Yogya.  Couchsurfing sendiri adalah komunitas traveler global yang anggotanya menyediakan tempat tinggal sementara secara gratis bagi traveler yang berkunjung ke suatu daerah dan berfokus pada cultural exchange dan juga membangun networking services bagi para anggotanya. Yang berminat untuk jadi anggota silahkan googling aja ya...
Saya juga daftar jadi anggota Couchsurfing karena mempunyai hobby traveling tapi bukan merupakan anggota yang aktif.  
Warung Sawah ini lokasinya asyik, bisa menikmati hijaunya sawah membentang sambil makan dan kongkow serta foto-foto. Pokoknya seneng bangett  bisa ikutan, happy karena akhirnya bisa finish FM yang ke 3 di Yogya sesuai target under COT dan terhibur dengan adanya temen-temen baru. 

Disini rencana saya juga berubah karena ternyata ada teman baru saya yang sudah booking hotel tapi tidak mau tidur sendirian, saya akhirnya diajak lagi untuk nemenin.  Nama temen baru saya ini  Fay, yang baru pertama kali lari-lari serta langsung ikut HM. Buset deh, nekat. Alhasil, kami berdua jadinya senasib, sama-sama jompo karena pegel. 


Kenyang makan, sekitar jam 5 sore, saya dan Fay menuju hotel dengan Go Car dan setelah sampai di kamar kami berdua tepar dan tidur sampai pagi. Hotelnya merupakan hotel jadul yang namanya agak unik yaitu OGH Doni tapi yang bikin lumayan walaupun hotel jadul tapi tetep dapet sarapan. 




Pagi hari saya bangun dengan keadaan yang lebih segar dan pegal sudah mulai hilang. Dari hotel saya menuju ke rumah untuk meletakkan tas dan langsung ke stasiun untuk menukar tiket.  Sekarang untuk proses tukar tiket lumayan cepat, mbak petugasnya langsung menghituang harga tiket setelah dikurangi denda dan langsung ditambahkan di harga kereta yang tersedia hari itu. Saya mendapat kereta Gajayana yang berangkat jam 8 malam. 



Setelah selesai urusan tiket saya menghubungi teman saya yang ternyata sedang ada di Malioboro, jadilah saya kesana dan ikut sarapan di kedai dekat pasar Klewer tapi setelah itu saya memisahkan diri dan nongkrong menghabiskan waktu di Kedai Kopi Mataram lalu balik ke rumah saya di Yogya setelah sebelumnya janjian dengan Putri teman kuliah dulu di Ciao Gelato deket rumah nanti jam 4 sore. 

Putri datang dianter misua dan anaknya yang berumur 5 tahun. Lucu banget. Kangen-kangenan membahas jaman kuliah dan pekerjaannya sekarang yang jadi guide wisata dan rental mobil membantu suaminya. Jika perlu rental mobil dan info wisata Yogya bisa menghubungi : jogjakartadriver.com/tours.html. 
Pulangnya saya diantar Putri dan keluarga ke rumah, sebelumnya mampir dulu ke toko HP untuk beli charger dan saya dibekelin cake talas yang tokonya ada di sebelah toko HP itu. Wah, senangnya... rejeki anak soleh nih.

Ciao Gelato


Akhirnya saatnya pulang pun tiba, yeaaay.. setelah menunggu sejenak di stasiun Tugu dan lumayan terhibur dengan adanya penyanyi jalanan yang mebawakan lagu-lagu jadul, saya akhirnya menempati kursi nyaman saya di KA Gajayana.  KA ini memang KA executive yang mewah karena memakai rangkaian kereta terbaru buatan INKA  tahun 2017. Selain model kursinya yang seperti kursi kelas bisnis di pesawat, setiap penumpang juga mendapat selimut dan bantal gratis. Dan karena di sebelah saya kosong jadinya lebih asyik lagi karena bisa selonjoran.  Benar-benar sepadan deh naik kereta super nyaman ini setelah kemarin lelah setelah lari-larian. 

Setiap lari Full  Marathon pasti punya ceritanya sendiri  dan kali ini saya mendapat banyak pengalaman yang tidak bakal saya lupakan dan menjadi pelajaran untuk mengikuti race FM berikutnya.  Tadi katanya kapok? iya siiih, kapok juga. Tapi masih pengen punya waktu yang agak bagusan dikit nih untuk FM, jadi kalau ada kesempatan lagi masih mau deh ikutan.