Tuesday, 9 December 2025

Trip Jepang 2025 – Osaka, Kyoto, Nara, Kobe (Area Kansai) - Part 1

 


Sebelum tahun 2025 berganti saya harus menyelesaikan catatan perjalanan ke Jepang tahun ini.  Tepatnya tanggal 17 Mei 2025 – 26 Mei 2025. Perjalanan selama 9 hari yang sangat menyenangkan dan Alhamdulillah berjalan lancar.

Saya mendapat info tiket murah ke Jepang secara tidak sengaja ketika melihat IG Story teman saya, ada promo pesawat Xiamen Airlines Jakarta – Osaka dengan transit di Xiamen. Saya segera mencari tanggal yang pas dan akhirnya menemukan tanggal di bulan Mei tersebut. Berangkatnya transit di Xiamen selama 5 jam tetapi pulangnya harus stay 1 malam. Harganya memang cukup murah sih, jadi walaupun stay 1 malam saya tetap ambil. Sekalian untuk pengalaman bisa merasakan udara di China. Harga yang harus dibayar untuk tiket pesawat Jakarta Osaka pp adalah 3,7 juta saja. Sebelumnya jika Xiamen Air tujuan ke Jepang harus transit 1 malam di Xiamen mendapatkan free hotel tetapi ternyata sejak awal tahun 2025 kebijakan tersebut berubah. Tidak lagi mendapat free hotel. Jadilah saya booking hotel dekat airport Xiamen Gaoqi International Airport dan mendapat harga cukup murah hanya sekitar 200 ribu rupiah dan free shuttle antar jemput ke Airport. Lumayan banget.

Oh iya, setelah mendapat tiket saya juga sudah mulai mencari info penginapan dan transportasi serta menyusun itinerary karena itinerary menentukan Pass kereta apa yang harus dibeli untuk transportasi selama di Jepang.

Untuk penginapan saya mendapat info dari teman dan hasil browsing di internet. Kebetulan info yang saya dapat dan info dari teman sama. Untuk hotel saya booking di Toyo Backpacker Hotel selama 8 malam. Karena booking jauh hari saya mendapat harga lumayan murah ditambah ada cash back dari Agoda.

Untuk transportasi, setelah dihitung oleh teman kantor, masih lebih murah kalau saya tidak memakai Pass apapun jadi cukup memakai Suica Card saja. Saya merasa tidak ingin terikat pada suatu itinerary dan bisa bebas merubah rute perjalanan kapan saja. Maklum karena jalan sendiri jadi bebas menentukan tujuan per harinya.

Untuk Visa, karena paspor saya sudah ganti baru, saya harus apply Visa Waiver lagi dan proses apply visa online berjalan lancar dan selesai dalam 3 hari. Untuk apply visa waiver melalui online ini free ya. Jadi benar-benar dimudahkan untuk WNI yang mau travel ke Jepang.

Hal-hal lain seperti pakaian, karena pergi di bulan Mei, suhu udara sudah sejuk mengarah ke panas, baju bisa bebas tidak perlu membawa baju tebal. Hanya membawa jaket tipis saja.

Tanggal 17 Mei, perjalanan dimulai dari Terminal 3. Pesawat Xiamen Airlines ini cukup lumayan, walau tidak ada TV dan tidak mendapat makan. Hanya snack berupa roti dan cemilan serta pisang.




Ketika transit di Airport Xiamen, karena hanya beberapa jam saya hanya berjalan-jalan dan foto-foto di airport. Lumayan deg-degan karena kali ini perjalanan saya lebih lama dari sebelumnya dan ke beberapa kota di Jepang sekaligus. Kalau jadi Solo Traveller sudah sering tapi tetap saja selalu deg-degan campur excited. Ini yang bikin nagih jadi solo traveller.




Akhirnya pesawat mendarat dengan mulus di Kansai International Airport. Sebelum penerbangan saya sudah mengisi Visit Japan Web dan bisa melewati imigrasi dengan mulus. Hanya ditanya berapa hari saya di Jepang.



Bagasi juga lancar dan sambil merasakan vibes Kansai International Airport saya mencari jalan ke arah stasiun kereta. Saya mau mengisi saldo Suica Card yang sudah saya miliki sebelumnya, hadiah dari adik saya. Sebenarnya di Osaka ini ada kartu sendiri namanya ICOCA Card walaupun Suica Card juga bisa dipakai. Tapi mesin yang bisa mengisi kartu ini yang mana bikin bingung karena ada banyak mesin di sana. Dari pada kelamaan bingung akhirnya saya minta tolong petugas dan berhasil mengisi kartu Suica saya.

Dengan bantuan google map saya berhasil naik kereta yang tepat menuju penginapan saya di Toyo Hotel, https://www.hotel-toyo.jp/  alamat : 1 Chome-3-5 Taishi, Nishinari Ward, Osaka, 557-0002.





Hotel ini hanya berjarak sekitar 200 meter dari stasiun kereta terdekat Shin Immamiya Station dan Dobutsuen Mae Station.

Hari sudah gelap saat saya menemukan hotel Toyo yang bagian depannya berwarna biru ini. Lega sekali rasanya setelah perjalanan panjang dari Jakarta. Saya segera check in dan mendapat kamar di lantai 3. Kamarnya ukuran single dengan bed berupa tatami yang diletakkan di lantai, beserta 1 bantal dan selimut. Kamar ini tanpa AC, tetapi ada jendela kecil yang bisa dibuka. Udara sejuk musim semi bisa masuk kamar dan mendinginkan ruangan secara alami. Toilet ada di lantai yang sama tetapi untuk kamar mandi hanya ada di lantai dasar. Di sana juga ada family room tempat para tamu hotel bisa duduk bersama, tapi saya nggak pernah kesana sama sekali, hanya melihat sekilas. Di lantai dasar ada laundry room juga, tetapi saya tidak pernah pakai. Oh iya, hotel ini ada rooftopnya juga, yang baru saya lihat pada hari terakhir ketika sudah mau check out. 

Setelah meletakkan barang di kamar saya segera keluar lagi untuk cari makan. Saya sudah cek peta dan akan menuju ke Tsutenkaku Tower karena lokasinya yang tidak terlalu jauh.

Dengan mengikuti google map saya menuju ke Tsutenkaku Tower, melewati lorong perbelanjaan dimana di sebelah kiri dan kanan terdapat Izakaya, bar khas Jepang. Rasanya pengen ikutan nongkrong walau tidak mungkin.

Distrik yang berlokasi di dekat Tsutenkaku Tower ini dikenal dengan nama Shinsekai (artinya dunia baru). Distrik ini sudah ada sejak tahun 1912, dimana mulai dibangun taman hiburan disana, yang menyerupai New York dan Paris.

Setelah melewati lorong perbelanjaan, sampailah saya di jalanan yang ramai dengan bilboard besar bermacam-macam gambar dengan neon berwarna warni yang semarak. Ada gambar cumi-cumi besar, pegulat sumo, semuanya meriah dan seru sekali. Toko-toko menjual berbagai macam makanan dan pernak pernik bertebaran. Saya sibuk foto-foto dan menikmati suasana yang meriah. Tsutenkaku Tower yang berdiri megah di sana seolah melambai kepada saya. Waah, senang sekali akhirnya bisa melihat tower ini yang merupakan simbol dari kota Osaka. Tsutenkaku Tower ini sejatinya adalah gedung observatorium setinggi 103 meter dan dibangun tahun 1912. Tetapi karena kebakaran yang melanda menara ini dibangun lagi pada tahun 1956. Saat malam hari menara ini berdiri megah dengan lampu yang bersinar di sekelilingnya.







Di bagian atas menara terdapat lampu yang menunjukkan cuaca esok hari. Neon warna putih berarti cerah, warna oranye berarti berawan, dan warna biru berarti hujan. Ada kalanya terdapat 2 warna. Jika bagian atas berwarna putih dan bagian bawah berwarna oranye, itu berarti "cerah kemudian berawan" atau "cerah dan kadang-kadang berawan"

Setelah puas saya kembali ke arah penginapan sambil mampir ke Family Mart untuk membeli Onigiri dan minuman. Minuman botol favorit saya di sini adalah lemon tea nya yang tidak terlalu manis. Kalau minuman teh lainnya itu semuanya no sugar jadi cuma lemon tea ini yang pas. Saya juga membeli minuman kopi di botol, roti dan cemilan untuk sarapan besok serta bekal di perjalanan.

Setiap traveling, saya selalu membawa botol kecil aromateraphy lavender dan cream calming balm supaya tidur lebih nyenyak dan pil lelap jika masih belum bisa tidur. Tidak lupa pula membawa obat-obatan, cream untuk pegal dan tolak angin.

Hari ke 2 : Kyoto

Pagi hari saya bangun dengan penuh semangat. Ternyata dari jendela kamar saya bisa melihat kereta api yang melintas di antara gedung-gedung yang ada di depan hotel saya. Lumayan juga ternyata hotel ini, walau murah tapi strategis dan ada pemandangan.




Setelah sarapan saya segera bersiap-siap menuju Kyoto. Dengan bantuan google map saya segera menuju stasiun dan menunggu kereta ke sana. Saya hanya mengandalkan Suica Card sehingga bebas naik kereta apa saja.

Tujuan pertama saya adalah Kyomizudera Temple.

Saya harus berjalan kaki sejauh sekitar 650 meter dari bus stop setelah naik kereta dari Osaka. Bersama rombongan turis lain dengan tujuan yang sama, saya berjalan di jalanan yang sedikit mendaki. Kyumizudera ini berada di atas bukit sehingga pemandangan kota Kyoto terlihat dari atas. Kuil ini dibangun tahun 778 dan sudah menjadi situs warisan UNESCO. Kuil ini dibangun tanpa menggunakan satu pun paku. Metode konstruksi yang digunakan disebut hell frame, sebuah teknik tradisional Jepang yang memungkinkan struktur tersebut berdiri kokoh selama berabad-abad.









Saya hanya menelusuri bangunan berwarna merah agak oranye cerah di bagian luar yang gratis, sambil berjalan-jalan dan merasakan suasana yang ramai disana. Karena sendirian saya meminta tolong kepada anak sekolah yang sedang wisata disana untuk membantu ambil gambar. Lucu banget anak sekolah itu diperhatikan gurunya ketika sedang berinteraksi dengan saya.

Setelah puas saya melanjutkan perjalanan menelusuri jalan-jalan di sana menuju Maruyama Park. Saya berjalan melalui jalan setapak berbatu yang bernama Ninenzaka & Sannenzaka. Sepanjang jalan banyak sekali toko-toko yang berjualan ice cream matcha, souvenir dan makanan serta minuman lainnya. Seru sekali.





Di depan sebuah temple yang megah, saya duduk membeli es krim matcha yang enak dan murah. Pokoknya paling murah diantara es krim matcha yang lain. Saya duduk menikmati es krim sambil mengamati kuil di depan saya. Saya baca di depannnya tulisan Hokan-ji Temple. Oh ini dia Hokan-Ji temple itu. Beneran strategis banget tempatnya, bisa selfi makan es krim dengan latar temple bersejaran.




Hokan-ji Temple ini disebut juga Pagoda Yasaka, merupakan pagoda 5 lantai dengan tinggi 46 meter. Didirikan pertama kali tahun 589.

Serombongan anak sekolah masuk untuk membeli es krim dan saya mengalah dan segera meninggalkan tempat itu untuk gantian duduk. Saya berjalan terus ke arah jalan utama Kyoto menuju distrik Gion



Di ujung jalan akhirnya saya menemukan kuil lagi yang terkenal dengan Kuil Gion San atau nama populernya Kuil Yasaka Jinja. Kalau datang saat musim panas kita bisa menikmati Festival Gion yang meriah.




Untuk makan siang hari ini saya memilih makan siang di Sukiya. Rice bowl dengan sup sukses mengisi perut yang keroncongan. Minumnya free teh hijau.






Tujuan saya selanjutnya adalah Kyoto Imperial Palace. Karena lokasinya berjarak sekitar 1,5 km dari Gion saya memutuskan untuk jalan kaki sambil menikmati kota Kyoto. Ternyata masuk ke dalam Palacenya sendiri cukup jauh dari jalan raya dan ternyata tutup sodara2. Yah, bete juga sih, tapi apa daya, akhirnya saya hanya foto-foto bangunan palace dari luar saja. Kyoto Imperial Palace ini adalah bekas kediaman resmi Kaisar Jepang selama lebih dari 1.000 tahun hingga ibu kota pindah ke Tokyo pada tahun 1869.






Menurut itinerary setelah dari Kyoto Imperial Palace tujuan berikutnya adalah Kyoto Tower. Karena sudah capai saya memutuskan naik bus dan harus berjalan kaki cukup jauh ke halte terdekat. Setelah bus tiba, lumayan juga jadinya bisa mengelilingi kota Kyoto, melewati beberapa bangunan kuil yang tidak tau namanya.








Akhirnya sampai juga saya di Kyoto Tower yang terletak di depan Stasiun Kyoto. Kyoto Tower adalah menara baja yang merupakan bangunan tertinggi di Kyoto yang mempunyai balkon observasinya pada ketinggian 100 meter dan puncak menaranya pada 131 meter. Berat menara ini 800 ton, berdiri di atas gedung 9 lantai. Pembangunan menara ini pada tahun 1964, awalnya menjadi kontroversi karena dianggap terlalu modern untuk kota Kyoto.





 

Karena sudah sampai di Kyoto Station tidak ada pilihan lain selain kembali ke Osaka. Setelah istirahat sebentar di hotel saya memutuskan ke Dotonburi untuk mencari maskot Osaka yang terkenal itu. Apalagi kalau bukan Glico Man, tujuan sejuta umat. Takjub juga saya akhirnya bisa sampai di Dotoburi dan ikut berfoto dengan gaya seperti si Glico Man itu. Beruntung ada mbak-mbak genZ jepang yang pintar mengambil foto sehingga hasilnya cukup bagus.







Dotonburi ini adalah sungai yang di kanan kirinya terdapat banyak toko dan restaurant serta ada pula hiburan berupa bianglala mini. Di tengah sungai juga ada boat yang hilir mudik mengangkut menyusuri sungai. Sebenernya jika membeli Osaka Amazing Pass, saya bisa menikmati naik ke dua wahana itu secara gratis. Tetapi karena saya orangnya malas terikat dan takut tiba-tiba itinerary berubah saya batal membeli pass itu. Tetapi saya tidak menyesal karena setelah melihat tempatnya saya tidak terlalu tertarik untuk mencoba.

Sebelum hari menjadi gelap saya segera pulang kembali ke Hotel. Maklum hotel saya sebenarnya berada di daerah yang agak bronx. Daerah Nishinariku adalah daerah yang berdekatan dengan wilayah Kamagasaki tempat berkumpulnya para homeless. Bahkan di dekat stasiun Shin Imammiya saya pernah melihat salah satu homeless masuk ke Family Mart dari tempatnya berteduh di trotoar. Kadang kalau malam saya mendengar suara orang ribut di jalanan, mungkin mabuk pulang dari bar. Waktu hari pertama saya pulang malam itu sebenernya biasa saja, tapi saya memang membiasakan sekitar jam 7 sudah sampai di hotel lagi supaya bisa total istirahat karena biasanya jam 7 pagi saya sudah jalan.

-to be continued-

 

No comments:

Post a Comment