Sebelum tahun 2025
berganti saya harus menyelesaikan catatan perjalanan ke Jepang tahun ini. Tepatnya tanggal 17 Mei 2025 – 26 Mei 2025.
Perjalanan selama 9 hari yang sangat menyenangkan dan Alhamdulillah berjalan
lancar.
Saya mendapat info
tiket murah ke Jepang secara tidak sengaja ketika melihat IG Story teman saya,
ada promo pesawat Xiamen Airlines Jakarta – Osaka dengan transit di Xiamen.
Saya segera mencari tanggal yang pas dan akhirnya menemukan tanggal di bulan
Mei tersebut. Berangkatnya transit di Xiamen selama 5 jam tetapi pulangnya
harus stay 1 malam. Harganya memang cukup murah sih, jadi walaupun
stay 1 malam saya tetap ambil. Sekalian
untuk pengalaman bisa merasakan udara di China. Harga yang harus dibayar untuk tiket
pesawat Jakarta Osaka pp adalah 3,7 juta saja. Sebelumnya jika Xiamen Air
tujuan ke Jepang harus transit 1 malam di Xiamen mendapatkan free hotel tetapi
ternyata sejak awal tahun 2025 kebijakan tersebut berubah. Tidak lagi mendapat
free hotel. Jadilah saya booking hotel dekat airport Xiamen Gaoqi International
Airport dan mendapat harga cukup murah hanya sekitar 200 ribu rupiah dan free
shuttle antar jemput ke Airport. Lumayan banget.
Oh iya, setelah
mendapat tiket saya juga sudah mulai mencari info penginapan dan transportasi
serta menyusun itinerary karena itinerary menentukan Pass kereta apa yang harus
dibeli untuk transportasi selama di Jepang.
Untuk penginapan saya
mendapat info dari teman dan hasil browsing di internet. Kebetulan info yang
saya dapat dan info dari teman sama. Untuk hotel saya booking di
Toyo Backpacker Hotel selama 8 malam. Karena booking jauh hari saya mendapat harga
lumayan murah ditambah ada cash back dari Agoda.
Untuk transportasi, setelah dihitung oleh teman kantor,
masih lebih murah kalau saya tidak memakai Pass apapun jadi cukup memakai Suica
Card saja. Saya merasa tidak
ingin terikat pada suatu itinerary dan bisa bebas merubah rute perjalanan kapan
saja. Maklum karena jalan sendiri jadi bebas menentukan tujuan per harinya.
Untuk Visa, karena
paspor saya sudah ganti baru, saya harus apply Visa Waiver lagi dan proses
apply visa online berjalan lancar dan selesai dalam 3 hari. Untuk
apply visa waiver melalui online ini free ya. Jadi benar-benar dimudahkan untuk WNI yang mau travel
ke Jepang.
Hal-hal lain seperti pakaian,
karena pergi di bulan Mei, suhu udara sudah sejuk mengarah ke panas, baju bisa
bebas tidak perlu membawa baju tebal. Hanya membawa jaket tipis saja.
Tanggal 17 Mei,
perjalanan dimulai dari Terminal 3. Pesawat Xiamen Airlines ini cukup lumayan,
walau tidak ada TV dan tidak mendapat makan. Hanya snack berupa roti dan cemilan
serta pisang.
Ketika transit di
Airport Xiamen, karena hanya beberapa jam saya hanya berjalan-jalan dan
foto-foto di airport. Lumayan deg-degan karena kali ini perjalanan saya lebih
lama dari sebelumnya dan ke beberapa kota di Jepang sekaligus. Kalau jadi Solo
Traveller sudah sering tapi tetap saja selalu deg-degan campur excited. Ini
yang bikin nagih jadi solo traveller.
Akhirnya pesawat
mendarat dengan mulus di Kansai International Airport. Sebelum penerbangan saya
sudah mengisi Visit Japan Web dan bisa melewati imigrasi dengan mulus. Hanya
ditanya berapa hari saya di Jepang.
Bagasi juga lancar dan
sambil merasakan vibes Kansai International Airport saya mencari jalan ke arah
stasiun kereta. Saya mau mengisi saldo Suica Card yang sudah saya miliki
sebelumnya, hadiah dari adik saya. Sebenarnya di Osaka ini ada kartu sendiri
namanya ICOCA Card walaupun Suica Card juga bisa dipakai. Tapi mesin yang bisa
mengisi kartu ini yang mana bikin bingung karena ada banyak mesin di sana. Dari
pada kelamaan bingung akhirnya saya minta tolong petugas dan berhasil mengisi
kartu Suica saya.
Dengan bantuan google
map saya berhasil naik kereta yang tepat menuju penginapan saya di Toyo Hotel, https://www.hotel-toyo.jp/ alamat : 1
Chome-3-5 Taishi, Nishinari Ward, Osaka, 557-0002.
Hotel ini hanya
berjarak sekitar 200 meter dari stasiun kereta terdekat Shin Immamiya Station
dan Dobutsuen Mae Station.
Hari sudah gelap saat
saya menemukan hotel Toyo yang bagian depannya berwarna biru ini. Lega sekali
rasanya setelah perjalanan panjang dari Jakarta. Saya segera check in dan
mendapat kamar di lantai 3. Kamarnya ukuran single dengan bed berupa tatami
yang diletakkan di lantai, beserta 1 bantal dan selimut. Kamar ini tanpa AC,
tetapi ada jendela kecil yang bisa dibuka. Udara sejuk musim semi bisa masuk
kamar dan mendinginkan ruangan secara alami. Toilet ada di lantai yang sama
tetapi untuk kamar mandi hanya ada di lantai dasar. Di sana juga ada family
room tempat para tamu hotel bisa duduk bersama, tapi saya nggak pernah kesana
sama sekali, hanya melihat sekilas. Di lantai dasar ada laundry room juga,
tetapi saya tidak pernah pakai. Oh iya, hotel ini ada rooftopnya juga, yang baru saya lihat pada hari terakhir ketika sudah mau check out.
Setelah meletakkan
barang di kamar saya segera keluar lagi untuk cari makan. Saya sudah cek peta
dan akan menuju ke Tsutenkaku Tower karena lokasinya yang tidak terlalu jauh.
Dengan mengikuti google map saya menuju ke Tsutenkaku Tower, melewati lorong perbelanjaan dimana di sebelah kiri dan kanan terdapat Izakaya, bar khas Jepang. Rasanya pengen ikutan nongkrong walau tidak mungkin.
Distrik yang berlokasi
di dekat Tsutenkaku Tower ini dikenal dengan nama Shinsekai (artinya dunia
baru). Distrik ini sudah ada sejak tahun 1912, dimana mulai dibangun taman
hiburan disana, yang menyerupai New York dan Paris.
Setelah melewati
lorong perbelanjaan, sampailah saya di jalanan yang ramai dengan bilboard besar
bermacam-macam gambar dengan neon berwarna warni yang semarak. Ada gambar
cumi-cumi besar, pegulat sumo, semuanya meriah dan seru sekali. Toko-toko
menjual berbagai macam makanan dan pernak pernik bertebaran. Saya sibuk
foto-foto dan menikmati suasana yang meriah. Tsutenkaku Tower yang berdiri
megah di sana seolah melambai kepada saya. Waah, senang sekali akhirnya bisa
melihat tower ini yang merupakan simbol dari kota Osaka. Tsutenkaku Tower ini
sejatinya adalah gedung observatorium setinggi 103 meter dan dibangun tahun
1912. Tetapi karena kebakaran yang melanda menara ini dibangun lagi pada tahun
1956. Saat malam hari menara ini berdiri megah dengan lampu yang bersinar di
sekelilingnya.
Di bagian atas menara
terdapat lampu yang menunjukkan cuaca esok hari. Neon warna putih berarti
cerah, warna oranye berarti berawan, dan warna biru berarti hujan. Ada kalanya terdapat
2 warna. Jika bagian atas berwarna putih dan bagian bawah berwarna oranye, itu
berarti "cerah kemudian berawan" atau "cerah dan kadang-kadang
berawan"
Setelah puas saya
kembali ke arah penginapan sambil mampir ke Family Mart untuk membeli Onigiri
dan minuman. Minuman botol favorit saya di sini adalah lemon tea nya yang tidak
terlalu manis. Kalau minuman teh lainnya itu semuanya no sugar jadi cuma lemon
tea ini yang pas. Saya juga membeli minuman kopi di botol, roti dan cemilan
untuk sarapan besok serta bekal di perjalanan.
Setiap traveling, saya
selalu membawa botol kecil aromateraphy lavender dan cream calming balm supaya
tidur lebih nyenyak dan pil lelap jika masih belum bisa tidur. Tidak
lupa pula membawa obat-obatan, cream untuk pegal dan tolak angin.
Hari ke 2 : Kyoto
Pagi hari saya bangun
dengan penuh semangat. Ternyata dari jendela kamar saya bisa melihat kereta api
yang melintas di antara gedung-gedung yang ada di depan hotel saya. Lumayan
juga ternyata hotel ini, walau murah tapi strategis dan ada pemandangan.
Setelah sarapan saya
segera bersiap-siap menuju Kyoto. Dengan bantuan google map saya segera menuju
stasiun dan menunggu kereta ke sana. Saya hanya mengandalkan Suica Card
sehingga bebas naik kereta apa saja.
Tujuan pertama saya
adalah Kyomizudera Temple.
Saya harus berjalan
kaki sejauh sekitar 650 meter dari bus stop setelah naik kereta dari Osaka.
Bersama rombongan turis lain dengan tujuan yang sama, saya berjalan di jalanan
yang sedikit mendaki. Kyumizudera ini berada di atas bukit sehingga pemandangan
kota Kyoto terlihat dari atas. Kuil ini dibangun tahun 778 dan sudah menjadi
situs warisan UNESCO. Kuil ini dibangun tanpa menggunakan satu pun paku. Metode
konstruksi yang digunakan disebut hell frame, sebuah teknik tradisional Jepang
yang memungkinkan struktur tersebut berdiri kokoh selama berabad-abad.
Saya hanya menelusuri
bangunan berwarna merah agak oranye cerah di bagian luar yang gratis, sambil berjalan-jalan
dan merasakan suasana yang ramai disana. Karena sendirian saya meminta tolong
kepada anak sekolah yang sedang wisata disana untuk membantu ambil gambar. Lucu
banget anak sekolah itu diperhatikan gurunya ketika sedang berinteraksi dengan
saya.
Setelah puas saya
melanjutkan perjalanan menelusuri jalan-jalan di sana menuju Maruyama Park. Saya
berjalan melalui jalan setapak berbatu yang bernama Ninenzaka & Sannenzaka.
Sepanjang jalan banyak sekali toko-toko yang berjualan ice cream matcha,
souvenir dan makanan serta minuman lainnya. Seru sekali.
Di depan sebuah temple
yang megah, saya duduk membeli es krim matcha yang enak dan murah. Pokoknya
paling murah diantara es krim matcha yang lain. Saya duduk menikmati es krim
sambil mengamati kuil di depan saya. Saya baca di depannnya tulisan Hokan-ji
Temple. Oh ini dia Hokan-Ji temple itu. Beneran strategis banget tempatnya,
bisa selfi makan es krim dengan latar temple bersejaran.
Hokan-ji Temple ini
disebut juga Pagoda Yasaka, merupakan pagoda 5 lantai dengan tinggi 46 meter. Didirikan
pertama kali tahun 589.
Serombongan anak
sekolah masuk untuk membeli es krim dan saya mengalah dan segera meninggalkan tempat
itu untuk gantian duduk. Saya berjalan terus ke arah jalan utama Kyoto menuju distrik
Gion
Di ujung jalan
akhirnya saya menemukan kuil lagi yang terkenal dengan Kuil Gion San atau nama
populernya Kuil Yasaka Jinja. Kalau datang saat musim panas kita bisa menikmati
Festival Gion yang meriah.
Untuk makan siang hari
ini saya memilih makan siang di Sukiya. Rice bowl dengan sup sukses mengisi
perut yang keroncongan. Minumnya free teh hijau.
Tujuan saya selanjutnya adalah Kyoto Imperial Palace. Karena lokasinya berjarak sekitar 1,5 km dari Gion
saya memutuskan untuk jalan kaki sambil menikmati kota Kyoto. Ternyata masuk ke
dalam Palacenya sendiri cukup jauh dari jalan raya dan ternyata tutup sodara2. Yah,
bete juga sih, tapi apa daya, akhirnya saya hanya foto-foto bangunan palace
dari luar saja. Kyoto Imperial Palace ini adalah bekas kediaman resmi Kaisar
Jepang selama lebih dari 1.000 tahun hingga ibu kota pindah ke Tokyo pada tahun
1869.
Menurut itinerary setelah dari Kyoto Imperial Palace tujuan
berikutnya adalah Kyoto Tower. Karena sudah capai saya memutuskan naik bus dan harus
berjalan kaki cukup jauh ke halte terdekat. Setelah bus tiba, lumayan juga
jadinya bisa mengelilingi kota Kyoto, melewati beberapa bangunan kuil yang
tidak tau namanya.
Akhirnya sampai juga saya di Kyoto Tower yang terletak di depan Stasiun Kyoto. Kyoto Tower adalah menara baja yang merupakan bangunan tertinggi di Kyoto yang mempunyai balkon observasinya pada ketinggian 100 meter dan puncak menaranya pada 131 meter. Berat menara ini 800 ton, berdiri di atas gedung 9 lantai. Pembangunan menara ini pada tahun 1964, awalnya menjadi kontroversi karena dianggap terlalu modern untuk kota Kyoto.
Karena sudah sampai di
Kyoto Station tidak ada pilihan lain selain kembali ke Osaka. Setelah istirahat
sebentar di hotel saya memutuskan ke Dotonburi untuk mencari maskot Osaka yang
terkenal itu. Apalagi kalau bukan Glico Man, tujuan sejuta umat. Takjub juga saya
akhirnya bisa sampai di Dotoburi dan ikut berfoto dengan gaya seperti si Glico
Man itu. Beruntung ada mbak-mbak genZ jepang yang pintar mengambil foto
sehingga hasilnya cukup bagus.
Dotonburi ini adalah sungai yang di kanan kirinya terdapat banyak toko dan restaurant serta ada pula hiburan berupa bianglala mini. Di tengah sungai juga ada boat yang hilir mudik mengangkut menyusuri sungai. Sebenernya jika membeli Osaka Amazing Pass, saya bisa menikmati naik ke dua wahana itu secara gratis. Tetapi karena saya orangnya malas terikat dan takut tiba-tiba itinerary berubah saya batal membeli pass itu. Tetapi saya tidak menyesal karena setelah melihat tempatnya saya tidak terlalu tertarik untuk mencoba.
Sebelum hari menjadi
gelap saya segera pulang kembali ke Hotel. Maklum hotel saya sebenarnya berada
di daerah yang agak bronx. Daerah Nishinariku adalah daerah yang berdekatan
dengan wilayah Kamagasaki tempat berkumpulnya para homeless. Bahkan di dekat
stasiun Shin Imammiya saya pernah melihat salah satu homeless masuk ke Family
Mart dari tempatnya berteduh di trotoar. Kadang kalau malam saya mendengar suara
orang ribut di jalanan, mungkin mabuk pulang dari bar. Waktu hari pertama saya
pulang malam itu sebenernya biasa saja, tapi saya memang membiasakan sekitar
jam 7 sudah sampai di hotel lagi supaya bisa total istirahat karena biasanya
jam 7 pagi saya sudah jalan.
-to be continued-




















































No comments:
Post a Comment