Hari ke 3 : Kyoto
Seperti biasa pagi-pagi saya sudah berangkat untuk berpetualang. Kali ini tujuan wisata masih ke kota Kyoto dengan obyek wisata Fushimi Inari.
Kuil ini memang sangat
terkenal dan selalu ramai, karena itu saya berangkat lebih pagi. Hal yang
menarik pagi itu adalah banyaknya anak sekolah yang ada di gerbong saya dan
mereka bercanda dengan serunya. Walaupun tidak tau artinya tapi seneng aja
liatnya.
Mendekati Kyoto saya
baru sadar sepertinya saya salah naik kereta atau sedang ada perubahan stasiun
saya tidak terlalu jelas saat ada pengumuman. Kereta tidak berhenti di stasiun
dimana saya harus turun seperti diinfokan di Map. Aduuh, gawat deh, saya jadi
terbawa ke stasiun berikutnya yang jaraknya cukup jauh. Saya turun di stasiun
berikut dan jalan kaki keluar stasiun. Sempat bingung antara jalan kaki saja
(jarak sekitar 2km) atau kembali ke stasiun seberangnya lalu naik kereta ke
stasiun yang benar. Akhirnya saya pilih balik lagi ke stasiun seberangnya naik
kereta ke stasiun yang benar. Pokoknya akhirnya saya berhasil sampai di Fushimi
Inari ini setelah kebingungan, naik kereta bolak balik.
Sebelum masuk ke pintu
masuk kuil yang agak jauh, saya sempatkan membeli minum dan camilan di Family
Mart untuk mengisi perut nanti setelah lelah menanjak di kuil.
Akhirnya saya sampai
juga, dari jauh sudah terlihat gerbang Torii raksasa berwarna merah. Senang
sekali akhirnya bisa sampai disini.
Fushimi Inari Taisha
adalah kuil Shinto utama dan paling terkenal di Kyoto, Jepang, yang
didedikasikan untuk Inari, dewa padi, kesuburan, bisnis, dan kesuksesan.
Berdiri pada tahun 711. Gerbang Torii ini merupakan sumbangan dari para
pebisnis dan dimulai sekitar 400 tahun
yang lalu selama Periode Edo ( 1603–1868 ), dan secara bertahap jumlah gerbang
torii bertambah sampai saat ini dan sudah mencapai ribuan torii.
Saya berjalan
mengikuti tanda untuk menuju ke arah city view bersama wisatawan lain. Dari
bawah hingga ke puncak tingginya 233 meter dengan melewati tangga-tangga yang
sudah dibuat. Ada beberapa altar perhentian sebelum kita mencapai puncak dan
hal ini sedikit membingungkan.
Melewati ribuan
gerbang torii itu membuat perasaan saya campur aduk antara senang dan bingung.
Bingung karena belum bisa memutuskan apakah akan mendaki sampai atas atau hanya
sekedar foto-foto sampai di tempat dimana kita bisa melihat pemandangan kota
Kyoto dari atas. Akhirnya saya mengikuti arus wisatawan lain yang menuju ke atas.
Saya sempat membantu foto serombongan turis wanita kulit hitam asal USA karena
saya melihat dari logatnya yang amerika banget. Dan mereka gantian fotoin saya.
Tapi yang bikin menyesal sampai sekarang, saya tidak selfie bareng mereka untuk
kenang-kenangan.
Saya melanjutkan
perjalanan lagi dengan naik tangga yang berjajar rapi dengan hiasan torii di
kanan kirinya. Yang awalnya saya bareng dengan rombongan turis USA itu saya
jadi jalan sendiri, sambil menikmati setiap langkah dan suasana di sana. Kuil
Fushimi Inari dikelilingi hutan yang rimbun dan ada tempat berdoa di beberapa
tempat serta kios kecil yang menjual makanan dan minuman. Akhirnya saya sampai
di tempat dimana saya bisa melihat pemandangan indahnya kota Kyoto dari atas
sambil beristirahat dan minum susu yang tadi saya beli. Sebenarnya saya sudah
mau turun lagi, tetapi saya sempat ngobrol dengan ibu dan anak asal Aussie yang
sepertinya berminat untuk naik terus ke atas sampai puncak. Ketika melihat saya
ragu-ragu karena sendirian, beliau memberi semangat dan terus mengajak saya
supaya ikut. Dan akhirnya saya ikut dengan mereka naik ke puncak bukit Fushimi
Inari, walaupun sudah diinfo kalau di atas bukit tidak ada pemandangan kota
lagi.
Benar saja, ketika
sampai di puncak bukit, lokasi itu adalah tempat berdoa dan penuh dengan
ornamen gerbang torii mini. Disini ada tulisan TOP 233 meter. Setelah foto-foto
kami melanjutkan perjalanan ke bawah sambil foto-foto di beberapa tempat. Kami
saling foto dan bertukar nomor wa dengan anaknya ibu turis Aussie yang bernama
Mia, si bule cantik. Sampai di bawa mereka segera pulang ke penginapan karena
akan melanjutkan perjalanan ke Tokyo.
Sedangkan saya masih
duduk dulu menikmati pemandangan sambil makan onigiri. Fushimi Inari semakin
lama semakin ramai dan saya segera beranjak untuk menuju lokasi wisata
berikutnya yaitu Arashimaya Bamboo Forest.
Perjalanan ke
Arashimaya Bamboo Forest makan waktu sekitar 1 jam ditambah dengan jalan kaki
dari stasiun ke lokasi. Lumayan jauh juga perjalanan dari stasiun sampai ke
daerah hutan bambu dengan bambu-bambu raksasa yang tinggi. Jika suasananya sepi
kesan magis berada di hutan bambu pasti lebih terasa, apalagi dengan cahaya
matahari yang masuk dari sela-sela bambu. Suara desau angin di antara bambu ini
memberi kesan suara yang berbeda sampai pemerintah Jepang menetapkan suara
bambu tertiup angin ini sebagai bagian dari The 100 Soundscapes of Japan,
proyek pemerintah untuk menjaga identitas alam negeri tersebut.
Untuk urusan foto, seperti
biasa saya minta bantuan ke anak sekolah yang sedang study tour dan mereka
dengan semangat membantu. Lucu sekali mereka, sepertinya sangat senang sekali
kalau bisa berinteraksi dengan turis.
Setelah puas
keliling-keliling di lokasi bamboo ini saya sudah agak malas untuk mencari
sungai dengan jembatan Togetsukyo. Jadi saya memilih untuk langsung balik ke
Osaka. Sampai di Osaka saya juga langsung balik ke penginapan. Surprisingly di
depan penginapan ada 2 orang yang sedang main alat musik Sitar dan Tabla. Saya
sempat ambil videonya beberapa saat. Oh iya, seperti biasa sesudah keluar dari
stasiun saya pasti mampir ke kombini dekat hotel untuk membeli makan dan
camilan serta roti.
Hari ke 4 : Nara dan
Osaka
Pagi ini saya bangun
dengan bersemangat karena akan menuju ke Nara, dimana banyak terdapat rusa di
taman-tamannya. Saya suka dengan berbagai macam hewan jadinya seru aja kalo ada
obyek wisata yang beda seperti ini.
Perjalanan ke Nara
menempuh waktu sekitar 45 menit dan setelah keluar stasiun dengan mengikuti
google map saya langsung menuju ke Nara Park. Benar saja di trotoar menuju
taman saya sudah disambut oleh rusa jinak yang sedang berjalan-jalan. Menuju ke
taman tambah banyak lagi rusa-rusanya. Disana juga ada penjual makanan rusa
dimana kalau dikasih makan rusanya bakal mengelilingi kita dengan cukup
agresif. Nah, ini yang agak mengerikan, karena walaupun rusa ini sepertinya
jinak, kita tetap harus berhati-hati. Ada papan pemberitahuannya juga bagaimana
kita harus bersikap terhadap rusa-rusa tersebut.
Setelah puas melihat
rusa di taman, saya melanjutkan perjalanan menuju ke Todaiji Temple dan
sebelumnya mampir ke Nara National Museum untuk foto gedungnya saja.
Di Todaiji museum ini
saya hanya duduk-duduk dan foto-foto saja karena kalau masuk harus membayar.
Disini ada patung Budha raksasa yang merupakan penjaga temple.
Setelah puas menikmati
Nara dan sekitarnya saya memutuskan untuk kembali lagi ke Osaka dan
berjalan-jalan disana saja. Oh iya, sebelum memasuki kota Nara dari kereta saya
sempat melihat Heijo Palace Historical Park, kawasan ini merupakan bekas lokasi istana kekaisaran dan pusat
pemerintahan saat Nara menjadi ibu kota Jepang (Heijo-kyo) pada abad ke-8
(710–784 M).
Sebelumnya di TV NHK saya melihat
acara tentang istana ini jadi seneng aja akhirnya bisa lihat secara langsung.
Setelah sampai di Osaka Station saya
melanjutkan perjalanan saya menuju Umeda Sky Building, duduk-duduk di Umekita
Park melihat kegiatan ibu-ibu yang mengajak anaknya main di taman. Lanjut jalan
lagi ke HET Ferish Wheel, disini sempat mampir ke GU dan belanja karena ada
produk diskon yang murah banget. Sempat ngopi di Tullys supaya bisa ngadem dan
istirahat sebentar karena hari itu lumayan panas.
Lanjut lagi saya berjalan ke Osaka
Station untuk menuju ke Nakanoshima Park. Saya mendapat info taman ini dari
Mbak Ningsih karena di musim semi biasanya banyak bunga yang bermekaran dan
taman ini salah satu yang direkomendasikan di musim semi.
Seperti biasa foto-foto di jalan
kalau ada yang menarik. Sesampai di dekat taman awalnya saya bingung karena
bunga-bunga yang ada hanya sedikit, ternyata saya salah lokasi, taman yang
sebenarnya masih di ujung lagi dan benar saja, di taman tersebut banyak sekali
bunga mawar berbagai warna dan jenis. Betah banget duduk duduk sambil menikmati
suasana taman yang penuh dengan bunga. "Taman Nakanoshima," yang
membentang seluas 11,3 hektar, didirikan pada tahun 1891 sebagai taman kota
pertama Osaka. Di dalam area taman, pengunjung dapat menikmati "Taman
Mawar Nakanoshima Osaka," yang menampilkan sekitar 310 varietas dan 3.700
semak mawar, serta "Lawn Plaza" (Shibafu Hiroba) yang terawat dengan
baik.
Sebenarnya saya masih betah disana
tapi terpaksa pulang setelah udara agak mendung dan hujan mulai turun
rintik-rintik.
Hari 5 : Kobe
Perjalanan ke Kobe ini merupakan
perjalanan yang sungguh berkesan karena banyak sekali yang didatangi dalam 1
hari saya berkunjung kesana.
Pagi hari saya sudah sampai di Kobe
station dan sempat salah jalan menuju ke lokasi ropeway atau kereta gantung
yang membawa saya ke Nunobiki Herb Garden. Pas saya sampai pas loket dibuka
jadi saya termasuk pengunjung ke 2 yang naik ropeway. Karena saya sendiri saya
bebas menikmati suasana dan pemandangan dari dalam kabin. Pemandangan kota Kobe
nampak jelas di kejauhan serta pemdangan dari kebun bunga di bawah sungguh
memanjakan mata.
Akhirnya saya sampai juga di atas di
Kobe Nunobiki Herb Garden. Taman yang penuh dengan bunga-bunga cantik serta
berbagai jenis tanaman rempah. Dilihat dari websitenya taman ini terdiri dari :
Welcome Garden, di bagian depan taman ada bangunan bergaya Wartburg Castle
dengan tempat untuk foto yang dihiasi bunga-bunga. Rose Symphony Garden,
Fragrant Garden, Herb Museum, disini kita bisa mencium aroma parfum yang
wanginya diambil dari berbagai tanaman, Kitchen Garden, Glass House, Lavender
Garden, Four Seasons Garden, Waterfall Patio, Oriental Garden, Lily Garden,
Kaze no Oka Flower Garden.
Di bagian luar dari garden
sebenarnya ada jalan setapak yang bisa dipakai untuk hiking ke Gunung Rokko
tapi sewaktu saya datang gerbangnya ditutup. Jadi saya hanya berjalan menuju
Glass House dan mencoba Herbal Foot Spa disana. Lumayan merendam kaki supaya
relax.
Disini saya juga bertemu dengan
serombongan anak sekolah yang sedang study tour. Saya minta tolong mereka untuk
foto saya dan ada 1 anak perempuan yang berkomunikasi dengan bahasa Inggris
dengan saya dan teman-temannya langsung tertawa senang.
Ketika saya sedang duduk saya iseng
melihat brosur yang ada di bangunan utama. Saya lihat ada tulisan Nunobiki
Waterfall yang lokasinya tidak terlalu jauh hanya sekitar 1 km. Wah.. menarik
sekali, saya harus kesana nih.
Jadi setelah puas menikmati suasana
di Nunobiki Herb Garden saya segera naik ropeway turun dan dengan menggunakan
google map mengikuti arah ke waterfall. Karena terlalu excited ini saya tidak
turun di perhentian ke 2 ke dimana ada beberapa taman bunga lain.
Saya sempat agak bingung menentukan
arah ke air terjun karena ada beberapa percabangan. Sempet ngikutin orang jalan
tapi ternyata salah arah. Tapi setelah itu akhirnya saya menemukan jalan yang
benar dan ternyata baru nemu kalo ada petunjuk arahnya juga. Jalannya memang
sepi jadi saya sedikit was-was. Ketika ada anak muda sedang berjalan ke arah
waterfall juga saya nekat memanggilnya biar bisa bareng. Kami sempat ngobrol
sedikit karena dia tidak terlalu fasih bahasa inggris tapi lumayan jadi ada
yang fotoin juga.
Air terjunnya bagus dengan air yang
cukup deras serta suasananya juga adem dan tenang. Ada beberapa orang disana
duduk menikmati air terjun, semuanya orang Jepang. Sepertinya ini bukan tempat
yang lazim didatangi turis asing.
Saya datang ke 2 air terjun yang
letaknya berdekatan, yang pertama bernama Nunobiki Falls (Ontaki/Meotodaki) dan
yang satunya lagi Nunobiki Falls (Mentaki). Air terjun yang ke dua benar-benar
memanjakan mata karena seperti ada dua air terjun sekaligus karena airnya jatuh
melebar ke bawah.
Air terjun Nunobiki telah menjadi
bagian penting dalam sastra dan seni Jepang. Keindahan air terjun ini telah
diabadikan dalam berbagai karya seni dan sastra, dan sering disebut sebagai
salah satu air terjun “suci” paling indah di Jepang. Keindahan alam air terjun
Nunobiki telah menginspirasi banyak seniman dan penulis, dan menjadi daya tarik
bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam Jepang.
Sayang sekali tidak bisa
berlama-lama menikmati air terjun karena saya harus melanjutkan perjalanan lagi
menuju Kobe Port Tower. Dengan kereta dan lanjut jalan kaki akhirnya sampai
juga di tower yang merupakan ikon kota Kobe ini. Menara berwarna merah setinggi
108 meter ini mempunyai bentuk yang unik seperti drum khas Jepang. Kobe Port
Tower ini terdiri dari 3 lantai di bagian bawah dan 5 lantai di bagian atas. Sebenarnya
Kobe Port Tower ini paling bagus di foto saat malam hari karena ada lampunya
yang keren tapi saat siangpun tidak kalah menarik. Saya juga tidak datang ke tower tersebut supaya
bisa melihat lebih dekat tapi hanya melihat dari Kobe Harborland saja.
Kobe Harborland sendiri adalah
kompleks perbelanjaan dimana terdapat tempat wisata seperti ferish wheel,
berbagai macam restaurant dan mall Umie yang luas. Pemandangan ke arah Kobe
Port yang cantik sangat memanjakan mata. Di Mall ini saya istirahat dan makan,
duduk-duduk sampai agak sore dan segera pulang lagi ke Osaka.
Ketika sudah hampir sampai hotel tiba-tiba saya merasakan sakit pada kaki saya. Aduh, sepertinya saya terlalu banyak jalan selama 5 hari ini. Untuk mengistirahatkan kaki, malam hari saya merubah itinerary dan mencari obyek wisata baru yang menarik.
To
be continued













.heic)



















































































No comments:
Post a Comment