Tuesday, 23 December 2025

Trip Jepang 2025 – Osaka, Kyoto, Nara, Kobe (Area Kansai) - Part 2

 



Hari ke 3 : Kyoto

Seperti biasa pagi-pagi saya sudah berangkat untuk berpetualang. Kali ini tujuan wisata masih ke kota Kyoto dengan obyek wisata Fushimi Inari.

Kuil ini memang sangat terkenal dan selalu ramai, karena itu saya berangkat lebih pagi. Hal yang menarik pagi itu adalah banyaknya anak sekolah yang ada di gerbong saya dan mereka bercanda dengan serunya. Walaupun tidak tau artinya tapi seneng aja liatnya.

Mendekati Kyoto saya baru sadar sepertinya saya salah naik kereta atau sedang ada perubahan stasiun saya tidak terlalu jelas saat ada pengumuman. Kereta tidak berhenti di stasiun dimana saya harus turun seperti diinfokan di Map. Aduuh, gawat deh, saya jadi terbawa ke stasiun berikutnya yang jaraknya cukup jauh. Saya turun di stasiun berikut dan jalan kaki keluar stasiun. Sempat bingung antara jalan kaki saja (jarak sekitar 2km) atau kembali ke stasiun seberangnya lalu naik kereta ke stasiun yang benar. Akhirnya saya pilih balik lagi ke stasiun seberangnya naik kereta ke stasiun yang benar. Pokoknya akhirnya saya berhasil sampai di Fushimi Inari ini setelah kebingungan, naik kereta bolak balik.

Sebelum masuk ke pintu masuk kuil yang agak jauh, saya sempatkan membeli minum dan camilan di Family Mart untuk mengisi perut nanti setelah lelah menanjak di kuil.

Akhirnya saya sampai juga, dari jauh sudah terlihat gerbang Torii raksasa berwarna merah. Senang sekali akhirnya bisa sampai disini.








Fushimi Inari Taisha adalah kuil Shinto utama dan paling terkenal di Kyoto, Jepang, yang didedikasikan untuk Inari, dewa padi, kesuburan, bisnis, dan kesuksesan. Berdiri pada tahun 711. Gerbang Torii ini merupakan sumbangan dari para pebisnis dan dimulai  sekitar 400 tahun yang lalu selama Periode Edo ( 1603–1868 ), dan secara bertahap jumlah gerbang torii bertambah sampai saat ini dan sudah mencapai ribuan torii.

Saya berjalan mengikuti tanda untuk menuju ke arah city view bersama wisatawan lain. Dari bawah hingga ke puncak tingginya 233 meter dengan melewati tangga-tangga yang sudah dibuat. Ada beberapa altar perhentian sebelum kita mencapai puncak dan hal ini sedikit membingungkan.

Melewati ribuan gerbang torii itu membuat perasaan saya campur aduk antara senang dan bingung. Bingung karena belum bisa memutuskan apakah akan mendaki sampai atas atau hanya sekedar foto-foto sampai di tempat dimana kita bisa melihat pemandangan kota Kyoto dari atas. Akhirnya saya mengikuti arus wisatawan lain yang menuju ke atas. Saya sempat membantu foto serombongan turis wanita kulit hitam asal USA karena saya melihat dari logatnya yang amerika banget. Dan mereka gantian fotoin saya. Tapi yang bikin menyesal sampai sekarang, saya tidak selfie bareng mereka untuk kenang-kenangan.

Saya melanjutkan perjalanan lagi dengan naik tangga yang berjajar rapi dengan hiasan torii di kanan kirinya. Yang awalnya saya bareng dengan rombongan turis USA itu saya jadi jalan sendiri, sambil menikmati setiap langkah dan suasana di sana. Kuil Fushimi Inari dikelilingi hutan yang rimbun dan ada tempat berdoa di beberapa tempat serta kios kecil yang menjual makanan dan minuman. Akhirnya saya sampai di tempat dimana saya bisa melihat pemandangan indahnya kota Kyoto dari atas sambil beristirahat dan minum susu yang tadi saya beli. Sebenarnya saya sudah mau turun lagi, tetapi saya sempat ngobrol dengan ibu dan anak asal Aussie yang sepertinya berminat untuk naik terus ke atas sampai puncak. Ketika melihat saya ragu-ragu karena sendirian, beliau memberi semangat dan terus mengajak saya supaya ikut. Dan akhirnya saya ikut dengan mereka naik ke puncak bukit Fushimi Inari, walaupun sudah diinfo kalau di atas bukit tidak ada pemandangan kota lagi.











Benar saja, ketika sampai di puncak bukit, lokasi itu adalah tempat berdoa dan penuh dengan ornamen gerbang torii mini. Disini ada tulisan TOP 233 meter. Setelah foto-foto kami melanjutkan perjalanan ke bawah sambil foto-foto di beberapa tempat. Kami saling foto dan bertukar nomor wa dengan anaknya ibu turis Aussie yang bernama Mia, si bule cantik. Sampai di bawa mereka segera pulang ke penginapan karena akan melanjutkan perjalanan ke Tokyo.



Sedangkan saya masih duduk dulu menikmati pemandangan sambil makan onigiri. Fushimi Inari semakin lama semakin ramai dan saya segera beranjak untuk menuju lokasi wisata berikutnya yaitu Arashimaya Bamboo Forest.

Perjalanan ke Arashimaya Bamboo Forest makan waktu sekitar 1 jam ditambah dengan jalan kaki dari stasiun ke lokasi. Lumayan jauh juga perjalanan dari stasiun sampai ke daerah hutan bambu dengan bambu-bambu raksasa yang tinggi. Jika suasananya sepi kesan magis berada di hutan bambu pasti lebih terasa, apalagi dengan cahaya matahari yang masuk dari sela-sela bambu. Suara desau angin di antara bambu ini memberi kesan suara yang berbeda sampai pemerintah Jepang menetapkan suara bambu tertiup angin ini sebagai bagian dari The 100 Soundscapes of Japan, proyek pemerintah untuk menjaga identitas alam negeri tersebut.







Untuk urusan foto, seperti biasa saya minta bantuan ke anak sekolah yang sedang study tour dan mereka dengan semangat membantu. Lucu sekali mereka, sepertinya sangat senang sekali kalau bisa berinteraksi dengan turis.

Setelah puas keliling-keliling di lokasi bamboo ini saya sudah agak malas untuk mencari sungai dengan jembatan Togetsukyo. Jadi saya memilih untuk langsung balik ke Osaka. Sampai di Osaka saya juga langsung balik ke penginapan. Surprisingly di depan penginapan ada 2 orang yang sedang main alat musik Sitar dan Tabla. Saya sempat ambil videonya beberapa saat. Oh iya, seperti biasa sesudah keluar dari stasiun saya pasti mampir ke kombini dekat hotel untuk membeli makan dan camilan serta roti.



 

Hari ke 4 : Nara dan Osaka

Pagi ini saya bangun dengan bersemangat karena akan menuju ke Nara, dimana banyak terdapat rusa di taman-tamannya. Saya suka dengan berbagai macam hewan jadinya seru aja kalo ada obyek wisata yang beda seperti ini.

Perjalanan ke Nara menempuh waktu sekitar 45 menit dan setelah keluar stasiun dengan mengikuti google map saya langsung menuju ke Nara Park. Benar saja di trotoar menuju taman saya sudah disambut oleh rusa jinak yang sedang berjalan-jalan. Menuju ke taman tambah banyak lagi rusa-rusanya. Disana juga ada penjual makanan rusa dimana kalau dikasih makan rusanya bakal mengelilingi kita dengan cukup agresif. Nah, ini yang agak mengerikan, karena walaupun rusa ini sepertinya jinak, kita tetap harus berhati-hati. Ada papan pemberitahuannya juga bagaimana kita harus bersikap terhadap rusa-rusa tersebut.




Setelah puas melihat rusa di taman, saya melanjutkan perjalanan menuju ke Todaiji Temple dan sebelumnya mampir ke Nara National Museum untuk foto gedungnya saja.












Di Todaiji museum ini saya hanya duduk-duduk dan foto-foto saja karena kalau masuk harus membayar. Disini ada patung Budha raksasa yang merupakan penjaga temple.

Setelah puas menikmati Nara dan sekitarnya saya memutuskan untuk kembali lagi ke Osaka dan berjalan-jalan disana saja. Oh iya, sebelum memasuki kota Nara dari kereta saya sempat melihat Heijo Palace Historical Park, kawasan ini merupakan bekas lokasi istana kekaisaran dan pusat pemerintahan saat Nara menjadi ibu kota Jepang (Heijo-kyo) pada abad ke-8 (710–784 M).

Sebelumnya di TV NHK saya melihat acara tentang istana ini jadi seneng aja akhirnya bisa lihat secara langsung.

Setelah sampai di Osaka Station saya melanjutkan perjalanan saya menuju Umeda Sky Building, duduk-duduk di Umekita Park melihat kegiatan ibu-ibu yang mengajak anaknya main di taman. Lanjut jalan lagi ke HET Ferish Wheel, disini sempat mampir ke GU dan belanja karena ada produk diskon yang murah banget. Sempat ngopi di Tullys supaya bisa ngadem dan istirahat sebentar karena hari itu lumayan panas.














Lanjut lagi saya berjalan ke Osaka Station untuk menuju ke Nakanoshima Park. Saya mendapat info taman ini dari Mbak Ningsih karena di musim semi biasanya banyak bunga yang bermekaran dan taman ini salah satu yang direkomendasikan di musim semi.







Seperti biasa foto-foto di jalan kalau ada yang menarik. Sesampai di dekat taman awalnya saya bingung karena bunga-bunga yang ada hanya sedikit, ternyata saya salah lokasi, taman yang sebenarnya masih di ujung lagi dan benar saja, di taman tersebut banyak sekali bunga mawar berbagai warna dan jenis. Betah banget duduk duduk sambil menikmati suasana taman yang penuh dengan bunga. "Taman Nakanoshima," yang membentang seluas 11,3 hektar, didirikan pada tahun 1891 sebagai taman kota pertama Osaka. Di dalam area taman, pengunjung dapat menikmati "Taman Mawar Nakanoshima Osaka," yang menampilkan sekitar 310 varietas dan 3.700 semak mawar, serta "Lawn Plaza" (Shibafu Hiroba) yang terawat dengan baik.

Sebenarnya saya masih betah disana tapi terpaksa pulang setelah udara agak mendung dan hujan mulai turun rintik-rintik.

Hari 5 : Kobe

Perjalanan ke Kobe ini merupakan perjalanan yang sungguh berkesan karena banyak sekali yang didatangi dalam 1 hari saya berkunjung kesana.










Pagi hari saya sudah sampai di Kobe station dan sempat salah jalan menuju ke lokasi ropeway atau kereta gantung yang membawa saya ke Nunobiki Herb Garden. Pas saya sampai pas loket dibuka jadi saya termasuk pengunjung ke 2 yang naik ropeway. Karena saya sendiri saya bebas menikmati suasana dan pemandangan dari dalam kabin. Pemandangan kota Kobe nampak jelas di kejauhan serta pemdangan dari kebun bunga di bawah sungguh memanjakan mata.


Akhirnya saya sampai juga di atas di Kobe Nunobiki Herb Garden. Taman yang penuh dengan bunga-bunga cantik serta berbagai jenis tanaman rempah. Dilihat dari websitenya taman ini terdiri dari : Welcome Garden, di bagian depan taman ada bangunan bergaya Wartburg Castle dengan tempat untuk foto yang dihiasi bunga-bunga. Rose Symphony Garden, Fragrant Garden, Herb Museum, disini kita bisa mencium aroma parfum yang wanginya diambil dari berbagai tanaman, Kitchen Garden, Glass House, Lavender Garden, Four Seasons Garden, Waterfall Patio, Oriental Garden, Lily Garden, Kaze no Oka Flower Garden.



















Di bagian luar dari garden sebenarnya ada jalan setapak yang bisa dipakai untuk hiking ke Gunung Rokko tapi sewaktu saya datang gerbangnya ditutup. Jadi saya hanya berjalan menuju Glass House dan mencoba Herbal Foot Spa disana. Lumayan merendam kaki supaya relax.

Disini saya juga bertemu dengan serombongan anak sekolah yang sedang study tour. Saya minta tolong mereka untuk foto saya dan ada 1 anak perempuan yang berkomunikasi dengan bahasa Inggris dengan saya dan teman-temannya langsung tertawa senang.

Ketika saya sedang duduk saya iseng melihat brosur yang ada di bangunan utama. Saya lihat ada tulisan Nunobiki Waterfall yang lokasinya tidak terlalu jauh hanya sekitar 1 km. Wah.. menarik sekali, saya harus kesana nih.

Jadi setelah puas menikmati suasana di Nunobiki Herb Garden saya segera naik ropeway turun dan dengan menggunakan google map mengikuti arah ke waterfall. Karena terlalu excited ini saya tidak turun di perhentian ke 2 ke dimana ada beberapa taman bunga lain.

Saya sempat agak bingung menentukan arah ke air terjun karena ada beberapa percabangan. Sempet ngikutin orang jalan tapi ternyata salah arah. Tapi setelah itu akhirnya saya menemukan jalan yang benar dan ternyata baru nemu kalo ada petunjuk arahnya juga. Jalannya memang sepi jadi saya sedikit was-was. Ketika ada anak muda sedang berjalan ke arah waterfall juga saya nekat memanggilnya biar bisa bareng. Kami sempat ngobrol sedikit karena dia tidak terlalu fasih bahasa inggris tapi lumayan jadi ada yang fotoin juga.












Air terjunnya bagus dengan air yang cukup deras serta suasananya juga adem dan tenang. Ada beberapa orang disana duduk menikmati air terjun, semuanya orang Jepang. Sepertinya ini bukan tempat yang lazim didatangi turis asing.

Saya datang ke 2 air terjun yang letaknya berdekatan, yang pertama bernama Nunobiki Falls (Ontaki/Meotodaki) dan yang satunya lagi Nunobiki Falls (Mentaki). Air terjun yang ke dua benar-benar memanjakan mata karena seperti ada dua air terjun sekaligus karena airnya jatuh melebar ke bawah.

Air terjun Nunobiki telah menjadi bagian penting dalam sastra dan seni Jepang. Keindahan air terjun ini telah diabadikan dalam berbagai karya seni dan sastra, dan sering disebut sebagai salah satu air terjun “suci” paling indah di Jepang. Keindahan alam air terjun Nunobiki telah menginspirasi banyak seniman dan penulis, dan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menikmati keindahan alam Jepang.

Sayang sekali tidak bisa berlama-lama menikmati air terjun karena saya harus melanjutkan perjalanan lagi menuju Kobe Port Tower. Dengan kereta dan lanjut jalan kaki akhirnya sampai juga di tower yang merupakan ikon kota Kobe ini. Menara berwarna merah setinggi 108 meter ini mempunyai bentuk yang unik seperti drum khas Jepang. Kobe Port Tower ini terdiri dari 3 lantai di bagian bawah dan 5 lantai di bagian atas. Sebenarnya Kobe Port Tower ini paling bagus di foto saat malam hari karena ada lampunya yang keren tapi saat siangpun tidak kalah menarik.  Saya juga tidak datang ke tower tersebut supaya bisa melihat lebih dekat tapi hanya melihat dari Kobe Harborland saja.












Kobe Harborland sendiri adalah kompleks perbelanjaan dimana terdapat tempat wisata seperti ferish wheel, berbagai macam restaurant dan mall Umie yang luas. Pemandangan ke arah Kobe Port yang cantik sangat memanjakan mata. Di Mall ini saya istirahat dan makan, duduk-duduk sampai agak sore dan segera pulang lagi ke Osaka.

Ketika sudah hampir sampai hotel tiba-tiba saya merasakan sakit pada kaki saya. Aduh, sepertinya saya terlalu banyak jalan selama 5 hari ini. Untuk mengistirahatkan kaki, malam hari saya merubah itinerary dan mencari obyek wisata baru yang menarik.

To be continued

No comments:

Post a Comment