Tuesday, 30 December 2025

Trip Jepang 2025 - Osaka, Nara, Kobe (Area Kansai) Part 3




Hari ke 6 : Osaka

Hari ini saya memutuskan untuk jalan sekitar Osaka saja supaya tidak terlalu capai. Rencana untuk ke Biwa Lake dibatalkan. Jadi saya berkunjung ke icon kota Osaka yaitu Osaka Castle atau Kastil Osaka.



Kastil Osaka sendiri adalah salah satu landmark paling terkenal di Jepang dan memiliki peran penting dalam penyatuan negara Jepang pada abad ke-16 selama periode Azuchi-Momoyama (sekitar tahun 1568 sampai dengan tahun 1600). Dibangun sekitar akhir abad ke-16 oleh Hideyoshi Toyotomi yang merupakan pemersatu Jepang di masa itu. Perlu waktu lebih dari 16 tahun untuk membangun kastil ini hingga selesai.

Bangunan utama Kastil Osaka saat ini berupa sebuah museum dengan tinggi 55 meter dan 8 lantai yang memberikan informasi mengenai sejarah kastil dan Toyotomi Hideyoshi. Taman Nishinomaru adalah sebuah taman yang mengelilingi Kastil Osaka. merupakan salah satu tempat favorit untuk melakukan hanami (kegiatan menikmati indahnya bunga sakura ketika sedang mekar)

Saya hanya menikmati Osaka Castle dari luar saja dan foto di depannya. Duduk-duduk sebentar menikmati suasana lalu melanjutkan perjalanan menuju lokasi selanjutnya Osaka Expo. Dalam perjalanan menuju stasiun untuk menuju Osaka Expo saya melewati Gedung NHK (Nippon Housou Kyokai) adalah stasiun penyiaran di Jepang dan Museum Sejarah Osaka dimana di bagian depan gedungnya terdapat replika rumah tradisional Jepang.




Setelah menempuh perjalanan menggunakan kereta menuju ke stasiun Yumeshima yang dibangun di pulau reklamasi yang bernama Yumeshima tempat diselenggarakannya Osaka Expo. Ketika keluar stasiun suasana ramai langsung terasa. Pemandangan antrian yang mengular tampak di depan mata. Ada rombonga anak sekolah di beberapa bagian dan antrian pengunjung di bagian lain. Semuanya teratur rapi. Saya tidak berniat masuk ke Expo karena harga karcisnya cukup lumayan jadi memutuskan untuk bertanya apakah ada bagian dari Expo yang bisa dilihat tanpa karcis yang ternyata tidak ada. Sebenarnya jika kita membeli karcis setelah jam 6 sore mendapat harga diskon tetapi saya memang tidak berniat untuk masuk sejak awal dan hendak membeli merchandisenya saja. Tetapi merchandise juga tidak bisa dibeli di Expo ini melainkan dijual di pop up store di Osaka City Station. 

 






Osaka Expo 2025 adalah acara internasional dengan tema utama “Designing Future Society for Our Lives”. Pameran ini bertujuan untuk menjawab tantangan global melalui inovasi dan kolaborasi lintas budaya. Expo ini bukan cuma sekadar pameran biasa, tapi juga kesempatan untuk melihat masa depan dan bagaimana teknologi serta kreativitas bisa membentuk kehidupan kita. Diadakan setiap lima tahun sekali, World Expo sudah menjadi tradisi global untuk berbagi ide-ide cemerlang dan solusi dari seluruh dunia. Osaka, yang sebelumnya pernah jadi tuan rumah Expo pada 1970 kembali jadi tuan rumah di tahun 2025 ini. Expo berlangsung dari tanggal 13 April hingga 13 Oktober 2025, diikuti oleh lebih dari 160 negara dan organisasi internasional, menampilkan pameran dan inovasi dari berbagai bidang. Pameran ini bertujuan untuk menjadi laboratorium hidup bagi masyarakat global dalam merancang masa depan yang lebih baik.

Setelah puas foto-foto di Osaka Expo saya meneruskan perjalanan menuju ke Tempozan Ferish Wheel dan Tempozan Market Place dimana di sini juga terdapat Legoland Discovery Center dan Osaka Aquarium Kaiyukan. Osaka Aquarium Kaiyukan adalah salah satu akuarium terbesar dan terbaik di dunia, menampilkan berbagai spesies laut dari Samudra Pasifik dan wilayah lainnya dalam tampilan yang memukau dan edukatif.  Saya makan siang di KFC yang ada di mall ini, sekalian pengen ngerasain KFC di Jepang. Rasanya biasa aja sih kayaknya lebih enak KFC di Indonesia, lebih gurih, mungkin karena micin. Hehe.. 









Pulangnya saya mampir ke Osaka City Station untuk membeli merchandise Osaka Expo dan oleh-oleh juga untuk teman kantor. Saya hanya membeli gantungan kunci dan tempat file yang lucu dengan hiasan hello kitty dan maskot Osaka Expo.

Myaku-Myaku adalah maskot resmi Expo 2025 yang dirancang dengan wajah biru dan bola merah yang menyerupai mata. Maskot ini melambangkan semangat kehidupan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Di belakang gedung Osaka City Station sedang ada pertandingan sepak bola mini wanita dimana pesertanya adalah para tuna netra yang dalam pertandingannya dibantu oleh para pemandu. Saya sempat beberapa saat melihat pertandingan tersebut sebelum memutuskan untuk pulang ke penginapan.






Hari ke 7 : Minoh National Park – Ikeda, Osaka



Setelah memutuskan untuk merubah itinerary dan batal ke Biwa Lake saya menemukan lokasi baru yang cukup seru supaya bisa sekalian hiking. Tempat tersebut adalah Minoh Nastional Park dimana disana terdapat air terjun yang cukup bagus. Perjalanan dari kota Osaka menuju Minoh Station sekitar 30 menit. Walaupun pagi itu mendung dan hujan turun rintik-rintik saya tetap semangat untuk jalan kesana.







Setelah turun di Minoh Station dengan mengandalkan google map saya mengikuti jalan menuju ke air terjun. Menurut informasi yang saya dapat perjalanan pulang pergi sejauh 5km, cukup lumayan untuk hiking pagi. Mengikuti jalan yang sudah bagus dengan hutan yang cukup lebat di kiri kanan dan suasana pagi yang mendung dengan hujan rintik sungguh menjadi pengalaman yang tidak terlupakan.  Beberapa rumah-rumah dengan gaya tradisional Jepang menjadi selingan di perjalanan. Saya juga berjumpa dengan beberapa ibu-ibu yang sudah tua sedang jalan pagi, ada pelari juga dan ada seorang wanita muda yang sedang hamil juga sedang jalan pagi dan sendirian pula. Sebenarnya pemandangan lebih bagus jika sedang musim gugur karena daun-daun berubah menjadi gradasi kecoklatan. Jika musim semi daun-daun mayoritas hijau saja.


















Sesampai di air terjun hujan yang tadinya rintik-rintik berubah agak deras, beruntung ada seorang wanita yang masih mau membantu mengambilkan foto sehingga mendapat hasil yang cukup bagus. Saya berteduh sebentar sampai hujan agak berkurang dan langsung kembali lagi ke stasiun. Sebenarnya di jalan itu ada jalan lain menuju ke kuil kecil, tapi saya tidak eksplore lebih jauh karena sepi dan hujan juga. Tujuan utama hanya ke air terjun saja.

Minoh waterfall ini sudah terkenal sejak periode Edo. Mempunyai sejarah panjang sebagai tempat spiritual sejak Era Asuka (sekitar 1300 tahun lalu), menjadi lokasi meditasi pendiri Shugendo En-no-Gyouja, dan kini menjadi taman nasional yang populer untuk menikmati keindahan alam, terutama dedaunan musim gugur, dengan jalur pendakian yang melewati Kuil Ryuanji dan museum serangga. Nama "Minoh" sendiri berasal dari bentuk air terjun yang menyerupai alat penampi padi tradisional, "minoh", mencerminkan hubungan eratnya dengan alam dan pertanian Jepang kuno. Ditetapkan sebagai Taman Kuasi-nasional Meiji-no-mori Minoh pada tahun 1967, menjadikannya salah satu taman nasional tertua di Jepang yang mudah diakses dari kota. Ada legenda tentang seorang utusan Tiongkok yang takut melewati jalan curam dan kembali, sehingga batu di dekat air terjun dinamai "Toujin Modori Iwa" (batu yang kembali dari kematian).

Sesampai di stasiun Minoh saya istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan menuju  Cupnoodle Museum Ikeda. Pas sekali saya mendapat info museum ini yang ternyata lokasinya masih satu arah dengan Minoh Park. Cup Noodles Museum di Ikeda (Osaka, Jepang) adalah museum khusus mi instan yang memperkenalkan sejarah dan perkembangan mi instan dari penemunya yang bernama Momofuku Ando, menawarkan pengalaman interaktif seperti membuat desain mi sendiri (My CUPNOODLES Factory), melihat terowongan 800 produk Nissin, dan mempelajari inovasi mi instan dari seluruh dunia.









Di depan gedung museum ada patung penemu mie instan dan di dalam museum juga ada diorama sejarah penemu mie instant. Mi instan pertama di dunia, Chicken Ramen, diciptakan pada tahun 1958 oleh Momofuku Ando, pendiri Nissin Food Products. Gudang di mana Ando mengabdikan dirinya untuk penelitian selama satu tahun tanpa henti dibangun ulang secara detail. Pesan yang disampaikan adalah Anda tidak memerlukan peralatan khusus untuk melakukan sesuatu yang hebat, jika Anda memiliki ide, setiap orang memiliki kesempatan untuk menciptakan penemuan baru dengan peralatan yang biasa saja (info dari google).

Tapi saya tidak ikut acara untuk membuat mie instan sendiri dan setelah puas melihat isi museum saya melanjutkan perjalanan lagi. Kali ini mampir ke kedai kecil di ujung jalan untuk makan ramen instan Nissin ini sambil menunggu hujan agak reda.







Ikeda adalah kota pinggiran di Prefektur Osaka, bagian dari wilayah metropolitan Kyoto-Osaka-Kobe. Kota ini memiliki sejarah panjang, menjadi pusat bagi Klan Ikeda di masa lalu. Klan Ikeda di Osaka merujuk pada Klan Ikeda yang pernah memerintah wilayah sekitar Kota Ikeda di Prefektur Osaka pada periode Muromachi hingga Sengoku, dengan Kastil Ikeda sebagai markas mereka, serta Kota Ikeda yang kini menjadi bagian dari wilayah metropolitan Osaka, sebuah kota pinggiran yang bersejarah. Klan ini adalah klan samurai terkemuka yang berasal dari Seiwa Genji dan memiliki cabang-cabang daimyo (penguasa feodal) penting, seperti di Domain Tottori dan Okayama.

Ikeda station sendiri adalah stasiun kereta api bersejarah Hankyu Railway, yang juga menjadi kantor pusat Hankyu Hanshin Holdings.

Hujan rintik-rintik masih terus turun sampai saya Kembali ke penginapan. Tetapi karena ada titipan di GU saya harus kesana sekalian jalan-jalan karena masih sore. Jadi saya menuju ke Mall terdekat yaitu Miu Mall yang letaknya di dekat gedung Abeno Harukas. Abeno Harukas sendiri merupakan gedung tertinggi di Osaka. Suasana sore itu sangat ramai walaupun hujan masih turun. Di bagian jalan penghubung antar gedung terdapat performing dari musisi jalanan yang banyak penontonnya. Seru sekali. Saya juga ikut menonton beberapa saat.











Merk GU ini masih 1 grup dengan Uniqlo dan terkenal dengan barangnya yang mempunyai kualitas setara Uniqlo tetapi dengan harga yang lebih murah. Idaman banyak turis Indo kalau lagi jalan-jalan di Jepang.

Setelah puas belanja saya segera pulang dan mampir dulu di kombini untuk jajan seperti biasa.

Hari ke 8 – Osaka

Bangun pagi disambut dengan cuaca yang mendung ketika saya membuka jendela agak lebar. Udara sejuk menyapa saya yang masih sedikit mengantuk. Selama stay di hotel ini saya agak susah tidur, nggak tau juga kenapa. Mungkin karena terlalu excited malah jadi susah tidur. Kalau karena tidur sendirian sih kayaknya bukan. Untung kebantu dengan pil lelap dan cream aromatherapy jadi tetap bisa tidur walau tidak terlalu nyenyak.

Pagi ini saya tetap semangat untuk lari pagi walau cuaca mendung dan akhirnya gerimis ketika saya sudah sampai di taman Tennoji. Saya berlari memutari taman yang ada danaunya dan bertemu dengan beberapa ibu-ibu yang sedang membawa dogienya jalan-jalan. Lucu banget, para dogie berkumpul seperti sedang arisan.








Saya melanjutkan lari lagi dan melewati gedung Osaka City Museum and Fine Arts dan akhirnya end up di taman depan Tennoji Zoo. Di taman ini ada tulisan OSAKA yang pas banget untuk foto. Saya cari Tennoji temple tapi gak nemu, hanya mendengar bunyi lonceng saja yang sepertinya dari temple itu. Ketika saya sedang berjalan ke depan taman yang menghadap jalan raya, hujan semakin deras. Saya terpaksa berteduh dulu di bagian taman yang ada atapnya bersama ibu-ibu yang sedang berlatih yoga. Bodohnya saya lupa membawa kartu SUICA jadi saya nggak bisa neduh di kafe yang ada di taman itu. Ketika hujan sudah agak reda saya nekat lari saja ke hotel daripada berdiam diri jadi tambah dingin. Kalau dipakai lari lumayan agak hangat. Di sini juga ada stadion futsal yang namanya Captain Tsubasa. Hehe..















Setelah sampai hotel saya segera ganti baju dan pergi lagi ke onsen yang berupa public bath di dekat Tsutenkaku Tower.  Lokasinya tepat berada di depan tower itu jadi strategis banget. Namanya Radium Onsen. Karena ini sudah yang ke dua kalinya ke onsen saya sudah pengalaman dan tidak terlalu canggung lagi.


Radium Onsen


Sempat ngobrol dengan ibu-ibu asli Jepang yang sudah selesai berendam ketika saya datang. Ngobrolnya pakai google translate dan cukup lumayan nyambung juga. Ketika kedua belah pihak mengerti kita berdua sama-sama tertawa lebar.

Hanya ada beberapa orang di ruangan onsen dan mereka melihat saya dengan tatapan ingin tahu. Soalnya memang jarang turis yang berendam di onsen public bath seperti ini. Ada ibu-ibu yang berusaha kasih penjelasan mengenai bagian bak rendam yang airnya terlihat hitam. Tapi karena beliau nyerocos pakai bahasa jepang saya hanya senyum saja. Sepertinya mereka ingin memberi tahu kalau mau berendam di bak itu harus hati-hati karena memang kolamnya dalam dan panas.

Di bagian luar ada kolam dimana kita bisa berendam di udara terbuka. Enak banget setelah dingin kehujanan bisa berendam di kolam air panas. Sekitar 1 jam saya berendam sampai puas, setelah itu saya mandi dan ganti baju lalu melanjutkan perjalanan mencari tempat makan ramen halal yang berlokasi di daerah Namba.

Saya berjalan kaki mengikuti map, melewati daerah pertokoan jadul Shinsekai dan melewati jalan-jalan kecil yang cukup sepi. Oh iya, di sekitar Shinsekai ini saya melihat kucing di Osaka untuk pertama kalinya. Kalau dilihat dari bentuknya sih sepertinya dia ada yang punya dan bukan stray cat. Berhasil saya foto 1x sebelum kabur naik ke atap sebuah rumah dan tidak berhasil saya pegang.










Akhirnya sesuai arahan google map saya sampai di sebuah bangunan kecil berlantai 4. Sempat bingung juga karena petunjuk kurang jelas. Akhirnya baca di review di google dan mendapat info kalau ramen berada di lantai 4. Ada lift kecil di gedung itu dan saya segera naik. Restaurant berada tepat di depan lift, saya segera ketuk pintu dan dibuka oleh seorang wanita mudah berhijab. Pas banget resto baru buka ketika saya datang, jadi saya merupakan pelanggan pertama hari itu. Saya memesan ramen ayam dan gyoza untuk dibawa pulang. Ternyata mbak itu adalah orang Indonesia. Dia bercerita kalau resto itu pemiliknya adalah orang Indonesia dan Jepang. Mbak ini bekerja sampingan di resto itu selama dia belajar bahasa di Jepang. Keren mbaknya, gigih sekali mencapai cita-cita.





Ramen datang di mangkuk yang lumayan besar dan rasanya enak sekali. Entah karena lapar dan lelah sehabis jalan kaki yang menambah rasa ramen jadi lebih enak tapi memang ramen adalah salah satu comfort food untuk saya. Mbaknya baik sekali, saya diberi oleh-oleh coklat dan saya tidak perlu membayar Gyoza pesanan saya alias dikasih gratis. Duh senangnya. Semoga sukses selalu ya.

Ketika saya sampai di penginapan ternyata saya sakit perut. Aduh ini pasti karena masuk angin. Saya beberapa kali ke toilet dan sebelum makin parah saya segera minum diatab. Sorenya saya pergi ke Donquijote (Donki) untuk membeli oleh-oleh.



Selama saya di Osaka ini hampir setiap kali turun di stasiun Shin Imamiya dan setiap kali pula lewat di depan bangunan dengan hiasan 2 bola berwarna hijau pupus yang besar di depannya. Karena penasaran itu bangunan apa saya google dan mendapat info kalau itu adalah stadion Kyocera Dome Osaka, stadion besar di kota Osaka yang biasanya digunakan untuk pertandingan Baseball atau pertunjukan musik dan yang lain. Sayang saya tidak kepikiran untuk turun di stasiun terdekat dan mampir untuk lihat-lihat, jadi hanya foto saja dari kereta.


Kyocera Dome Osaka





 

Hari ke 9 (last day) Osaka

Sesuai dengan itinerary yang disusun ketika sudah sampai di Osaka, pagi ini saya memutuskan untuk pergi ke Universal Citywalk Osaka.  Disini kita bisa ikut merasakan keseruan Universal Studio dan masih bisa berfoto di depan bola dunia Universal tanpa membeli tiket. Disini banyak terdapat resto serta toko souvenir yang menjual pernak pernik tokoh kartun maskot Universal Studio. Lucu-lucu banget souvenirnya, saya hampir tergoda untuk membeli tetapi langsung sadar kalau itu hanya lapar mata.



















Puas menikmati suasana Universal saya segera melanjutkan perjalanan ke Namba Park. Namba Park ini adalah mall dimana terdapat taman di rooftopnya yang memanjang dari lantai 2 hingga lantai 9 yang berbentuk teras. Di lantai 8 terdapat amfiteater dengan kapasitas sekitar 200 orang, dan lantai 9 memiliki taman bermain untuk anak-anak yang disebut "Harappa Square" Dengan sekitar 500 jenis tanaman, banyak burung dan serangga yang datang, menjadikannya tempat yang pas untuk menikmati tanaman dan bunga-bunga. Karena berkunjung di musim semi hampir semua tempat di Osaka penuh dengan bunga-bunga cantik yang menyejukkan mata.













Waktu semakin siang memaksa saya untuk segera pulang untuk bersiap ke Airport. Dengan waktu yang tersisa saya membeli makan siang dulu di kombini dekat hotel dan makan di depan warung kecil bernama Konamon Bar Rikyu yang menjual pancake isi taro. Jadi saya pesan dessert pancake ini supaya bisa numpang makan.  Warung ini lokasinya di depan perempatan jalan sehingga sambil makan saya bisa menikmati keramaian lalu lintas pinggiran kota Osaka. Menikmati detik-detik terakhir liburan di Jepang yang menyenangkan. 9 hari liburan harus berakhir dan saya segera naik kereta menuju Airport dari stasiun Shin Imamiya. Perjalanan Osaka – Xiamen berjalan lancar.



Petualangan terakhir masih menanti saya dimulai dari imigrasi Xiamen Airport. Karena transit 1 malam saya harus keluar Airport dan stay di hotel dekat sana. Di imigrasi saya di interview dengan beberapa pertanyaan. Mulai dari pengecekan tiket, alamat hotel tempat saya menginap, foto-foto saya selama di Jepang, pekerjaan saya dan grup whatsapp kantor juga di cek oleh mereka. Ketika sudah ok semua akhirnya saya bisa lewat dengan lega dan bertukar pesan dengan penjemput saya dari hotel yang dilakukan melalui fitur message di aplikasi Trip. Maklum di Cina kita tidak bisa menggunakan whatsapp dan saya sudah mencoba untuk download aplikasi we chat tetapi gagal. Untungnya masih bisa komunikasi lewat Trip ini, jadi aman.



Petunjuk yang diberikan olah penjemput saya cukup detail dan mudah dimengerti sehingga saya bisa dijemput di tempat yang benar dan tidak menunggu terlalu lama jemputan sudah datang. Memang letak hotel ini tidak jauh, hanya sekitar 1,5 km saja. Sejak saya masuk mobil dan sampai di hotel hanya memerlukan waktu 5 menit saja karena si koko ini nyetirnya ngebut banget. Setelah memberi informasi mengenai waktu penjemputan besok pagi si koko pergi dan saya segera beristirahat. Kamarnya cukup luas karena ini sebenarnya adalah kamar apartemen studio. Jadi ada dapur kecil dan mesin cuci juga selain AC dan TV.  Not bad untuk harga 200 ribu ditambah antar jemput. Si Koko nya juga baik dan informatif. Lumayanlah untuk pengalaman pertama di negeri Cina. Walaupun tetep ada deg-degannya karena sendirian.

Esok paginya ketika saya sedang siap-siap si koko sudah datang menjemput. Aduh cepat juga ya datangnya jadi saya segera beres-beres secepat kilat dan naik ke mobil dimana sudah ada 1 tamu yang juga diantar. Si koko juga tetep ngebut tetapi saya masih bisa video perjalanan dari hotel ke airport, lumayan untuk kenang-kenangan pernah ke Xiamen. Diturunkan di depan airport saya bertanya tempat keberangkatan internasional yang ternyata baru buka jam 6 pagi. Saya datang jam 5.40 jadi harus antri menunggu bersama orang-orang di depan pintu keberangkatan internasional.






Memang Xiamen Gaoqi ini airport kecil jadi kalau malam airport tutup itu yang menyebabkan saya harus pesan hotel karena tidak bisa menginap di Airport.

Tepat jam 6 pagi pintu keberangkatan Internasional dibuka, saya segera antri di depan loket Xiamen Airlines untuk check in. Perjalanan ke Jakarta berjalan lancar dan berakhirlah solo traveling saya ke Jepang tahun ini di Terminal 3 Soekarno Hatta Airport. Senang sekali perjalanan lancar tanpa hambatan dengan banyak sekali pengalaman menarik dan pastinya tidak terlupakan.

Next time liburan ke negara mana lagi ya? 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.

 

 

 

 

 

 


No comments:

Post a Comment