Friday, 3 July 2026

Weekend Trip to Banyuwangi

Saya sudah janji dengan teman kantor yang kampung halamannya di Banyuwangi, kalau dia menikah nanti saya akan datang. Biasa, ini alasan untuk sekalian jalan-jalan. Seperti sebelumnya sewaktu ada teman kantor yang menikah di Solo dan Sragen saya juga datang. Sebelumnya saya sudah pernah ke Banyuwangi, ikut open trip ke kawah ijen, snorkeling di taman nasional Bali Barat dan Taman Nasional Baluran. Jalan-jalan di kotanya malah belum pernah dan inilah waktu yang tepat. Ketika sudah menerima undangan saya segera pesan tiket kereta ke Banyuwangi, saat ini sudah ada kereta yang langsung kesana, keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen, nama keretanya Kereta Blambangan Express, merupakan kereta dengan jarak terjauh se Indonesia, dengan waktu perjalanan sekitar 13 jam. Lama banget ya. Harga tiket sekitar 500 ribu utk kelas ekonomi tapi dengan kursi yang sudah model baru dengan sandaran yang bisa disetel bukan yang model sandaran tegak. Tetapi karena sudah niat jalan-jalan jadi ya seneng aja sih walau di jalan bakal lama. Saya membeli tiket pp berangkat hari kamis siang, sampai Banyuwangi hari Jumat subuh – acara kawinannya Jumat sore, menginap semalam dan pulang hari Sabtu sore. Untuk hotel saya memilih hotel bernuansa villa yang sepertinya hotel lama, yaitu Mirah Hotel and Resort Banyuwangi. Sengaja pilih hotel yang model villa gini supaya beda dengan hotel sebelumnya yang selalu di bangunan modern.
Perjalanan ke Banyunwangi dimulai dari Stasiun Pasar Senen dengan kereta Blambangan Express, perjalanan lancar di jalur kereta paling jauh se Indonesia ini. Sampai di Banyuwangi sekitar jam 5 pagi dan saya berjalan keluar stasiun mencari transportasi ke hotel. Sampai di luar stasiun saya bertemu dengan tukang becak yang sedang menunggu penumpang. Tanpa pikir panjang saya langsung menerima tawarannya untuk naik becak. Perjalanan menuju hotel melewati pelabuhan penyeberangan Gilimanuk yang terlihat sangat bagus saat sunrise. Sampai di hotel saya meminta untuk bisa check in segera dan ternyata bisa dengan membayar Rp 100.000,- Siplah. Lumayan bisa istirahat dulu. Setelah ganti baju saya sempatkan ngopi dan duduk menikmati halaman hotel yang hijau, setelah itu menuju ke lokasi sarapan dengan menu makanan tradisional bernama Sego Cawuk di dekat alun-alun. Untuk transportasi saya memakai ojek online seperti biasa. Akhirnya sampai juga di lokasi tempat sarapan sego cawuk di Warung Osing 0 Kilometer, di Jalan Kalimas, yang direkomendasikan oleh teman saya Lik Benyus yang asli wong Banyuwangi. Sego Cawuk ini tidak bakal ditemukan di tempat lain selain di Banyuwangi, jadi harus di coba ya ges. Sego (nasi) Cawuk adalah hidangan sarapan tradisional khas Banyuwangi, Jawa Timur, yang terdiri dari nasi putih dengan kuah khas berbahan parutan kelapa muda, serutan jagung bakar, dan kuah pindang. Nama "cawuk" berasal dari kebiasaan Suku Osing yang menyantap makanan ini langsung menggunakan tangan (dicawuk).
Perpaduan rasa yang unik dan kuah yang segar dan ringan menambah selera makan saya pagi itu. Di warung ini si ibu juga menjual aneka jajanan pasar jadi saya sekalian membelinya. Saya juga sempat ngobrol dengan ibu penjualnya yang menanyakan dalam rangka apa saya ke Banyuwangi dan kenapa sendiri. Jadi saya cerita dalam rangka menghadiri kawinan teman kantor. Karena lokasi jauh dan sedang sibuk, saya lah yang mewakili teman-teman kantor untuk menghadiri undangan tersebut. Pastinya sekalian jalan-jalan, Bu. Setelah kenyang saya melanjutkan perjalanan menuju instalasi seni Lorong Bambu yang berada di jalan Veteran, di depan Gedung Seni dan Budaya. Lokasi tersebut bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari warung Sego Cawuk. Instalasi Lorong Bambu ini konon dirancang oleh seniman asal Yogyakarta.
Sesampainya di Lorong Bambu saya berfoto ria dan melanjutkan perjalanan ke Taman Sritanjung dan Taman Blambangan serta melewati alun-alun Banyuwangi serta rumah dinas Bupati Banyuwangi yang bernama Sabha Swagata. Di Taman Sritanjung terdapat air mancur dan ada kucing juga disana, jadi saya sempat berhenti sejenak memberi makan kucing yang diperhatikan oleh seorang bapak-bapak yang menegur saya, suka kucing ya...
Setelah puas foto-foto dengan tulisan latar Banyuwangi, saya segera kembali menuju hotel untuk istirahat dan bersiap-siap karena acara pesta pernikahan adalah jam 4 sore. Sekitar jam 3 saya berangkat ke lokasi acara di hotel Luminor, Banyuwangi. Lokasinya tidak jauh dari hotel, hanya berjarak sekitar 2 km. Sampai di hotel Luminor saya bergegas naik lift menuju lokasi acara yang berada di lantai paling atas alias di rooftop. Saya keluar lift, mengisi buku tamu dan diarahkan ke tempat acara. Sepertinya baru saya saja tamu yang datang, yang lain keluarga dari pengantin. Pemandangan dari tempat resepsi sangat memanjakan mata, rooftop dengan dua pemandangan sekaligus, pemandangan lautan lepas di satu sisi dan pemandangan perbukitan hijau di sisi yang lain. Saya sibuk foto-foto sambil menunggu acara dimulai. Akhirnya saat yang ditunggu tiba, mempelai memasuki ruangan dengan diiringi musik dan naik ke atas pelaminan. Teman saya, Yunika, terlihat cantik dan manglingi. Saya juga foto dan video untuk di share di grup kantor. Selamat menempuh hidup baru Yunika dan Suami, semoga langgeng dan bahagia selalu.
Setelah rangkaian acara selesai, tamu-tamu dipersilakan untuk menikmati hidangan dan saya ternyata duduk bersama dengan tamu-tamu dari mempelai pria dan akhirnya kami mengobrol karena sama-sama dari Jakarta. Hujan sempat turun rintik-rintik ketika matahari mulai tenggelam, sehingga kami semua masuk ke ruangan hotel untuk berteduh. Karena acara juga sudah selesai, saya segera pamit dan kembali ke hotel. Saya pamit ke Yunika dan suami, ngobrol sebentar dan segera balik ke hotel. Hujan sudah berhenti, jadi saya naik Gojek aja supaya cepat. Sampai hotel ganti baju, pesan ojek online lagi untuk menuju ke Pantai Boom. Karena besok sudah kembali ke Jakarta tidak ada waktu lagi untuk ke Pantai Boom selain malam ini dan memang disarankan untuk ke Pantai Boom saat malam hari karena ada jembatan dengan lampu yang berwarna warni. Jalan menuju ke Pantai Boom ternyata sepi, wajar saja sih karena habis hujan pasti membuat pengunjung malas keluar rumah. Bapak ojol menurunkan saya di suatu tempat batas ojek online boleh menurunkan penumpang dan saya segera berjalan mencari jembatan pantai Boom. Akhirnya sampai juga saya di jembatan tersebut yang memang cukup meriah dengan warna warni lampu seperti pelangi. Saya membuat foto dan video disana dan berjalan sampai ujung jembatan.
Karena malam, pemandangan pantai ke arah laut tidak kelihatan apa-apa, jadi center of pointnya ya jembatan Boom itu. Tak disangka di ujung jembatan ada wahana hantu dan ada pocong jadi-jadian yang sedang diajak foto bersama pengunjung. Hahaha.. ada-ada aja. Saya sempat ngobrol dengan pengunjung yang tadi foto sama pocong dan bilang kalau wahananya lumayan seram. Ih jadi inget film Agak Laen. Untungnya saya bukan penakut jadi ya biasa aja liat tu pocong di tengah kegelapan. Setelah puas foto-foto di jembatan (bukan foto sama pocong), saya minta tolong mbak yang tadi ngobrol sama saya untuk bantu foto, saya segera pesan ojol untuk pulang ke hotel. Untung saya cepat dapat driver, karena lokasinya yang agak masuk ke dalam. Alhamdulillah selamat sampai di kamar hotel. Sebenarnya saya sudah terbiasa tidur sendiri di hotel. Tetapi kamar hotel ini lebih besar dari kamar hotel biasa dengan kamar mandi yang agak masuk ke dalam jadi lumayan bikin kepikiran, takut ada sesuatu yang tiba-tiba muncul. Jadi malamnya sama tidur dengan lampu menyala. TV ada tetapi hanya bisa 1 channel dengan siaran lagu-lagu dangdut koplo, jadi saya matikan saja. Untuk membantu supaya cepat tidur saya minum tablet andalan Lelap. Sukses tidur sampai pagi tanpa ada gangguan. Pagi hari sesuai rencana saya jalan pagi menuju pantai terdekat yaitu pantai Klatak, disana saya duduk-duduk menikmati suasana pagi di pantai. Balik ke hotel saya sempatkan untuk berenang dan setelah itu sarapan pagi.
Setelah sarapan dan check out (titip koper di resepsionis) dengan menggunakan ojek online saya menuju ke Desa Wisata Osing di Kemiren. Driver ojek online yang saya tumpangi adalah anak muda yang menawarkan untuk menunggu saya menikmati desa tersebut supaya saya bisa pulang lagi ke kota dengan mudah. Karena lokasinya yang di pinggir kota pastinya susah mendapat ojek lagi untuk pulang. Di kafe tersebut saya menemukan brosur dengan no telepon dan saya menghubungi nomor tersebut melalui wa. Sambil menunggu jawaban, saya melihat rumah-rumah yang terlihat sepi. Disana juga ada semacam aula dengan beberapa perabot tradisional. Saya mendapat jawaban di wa dari pengurus desa wisata tersebut dimana kalau tidak ada rombongan yang datang maka di desa tersebut tidak ada kegiatan. Jadi memang khusus untuk rombongan baru ada penampilan tari-tarian dan makanan tradisional.
Desa Kemiren berasal dari kata kemiri dan duren. Desa Kemiren dihuni oleh masyarakat suka Osing yang merupakan suku asli Banyuwangi atau Sisa Masyarakat Blambangan. Kepala desa yang pertama bernama Walik yang pertama menjabat pada tahun 1657. Desa Kemiren dihuni oleh penduduk suku Osing yang masih menjaga tradisi adat sejak dulu. Saya memang tidak mencari info lebih detail sebelum datang ke desa Kemiren ini jadi cukup puas walau hanya bisa melihat keadaan desa tanpa ada keramaian. Setelah menikmati desa Kemiren saya segera pulang kembali ke kota dan diantar oleh driver ojek online menuju Museum Blambangan yang ternyata tutup. Yah, penonton kecewa deh. Jadi saya hanya bisa menikmati kereta Kyai Raja Peni yang ada di luar museum serta bagian museum berupa aula yang ada boneka dengan baju adat khas Banyuwangi.
Setelah itu saya berjalan mencari tempat makan yang menjual rujak soto dan akhirnya berhasil menemukan lokasinya setelah bertanya ke penduduk sekitar. Ibu penjual rujak soto ini berada di halaman sebuah rumah dan dengan cekatan meracik rujak soto dan tanpa menunggu lama, semangkuk rujak soto telah terhidang di depan saya.
Rujak Soto adalah kuliner khas Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Makanan ini merupakan perpaduan unik antara rujak sayur dengan soto daging sapi atau babat. Cita rasanya adalah gabungan dari rasa segar, pedas, manis dari bumbu kacang dan petis, yang disiram dengan kuah soto gurih dan hangat. Bagian rujaknya terdiri dari sayur kangkung, toge rebus, tahu, tempe dan lontong yang diulek bersama bumbu kacang, cabai, gula merah, dan petis. Kuah sotonya berwarna kuning dengan isian potongan daging sapi, babat, atau jeroan lainnya. Saya berusaha menikmati rujak soto disetiap suapan tetapi sepertinya saya tidak cocok dengan makanan ini. Walapun tidak suka tetapi saya masih bisa memakannya sampai habis. Efek lapar juga karena sudah jalan-jalan dari pagi. Hehe.. Setelah itu saya memutuskan untuk menghabiskan waktu sambil menunggu kereta pulang ke Jakarta di Dialoog Hotel.
Wah, hotelnya keren sekali, puas sekali saya menikmati pemandangan pantai selat Bali dengan latar belakang pegunungan. Pemandangan paling spektakuler di trip saya tahun 2025. Walaupun trip kemarin saya ke pantai di Jepang tapi pantai di Indonesia lebih cantik. Saya menikmati kopi dan camilan yang saya pesan di restaurant di sebelah infinity pool, sambil menikmati pemandangan pantai yang luar biasa. Tak terasa waktu terus berjalan dan sampailah saatnya tiba untuk pulang ke Jakarta. Oh iya, ada fenomena unik ketika berada di sini, jam saya tiba-tiba bisa berubah ke waktu indonesia tengah karena berada di perbatasan dengan pulau Bali. Sempat panik karena takut salah jam dan ketinggalan kereta. Untunglah ketika saya di resto jam normal kembali. Jam sempat berubah karena saya jalan-jalan ke pantainya.
Dengan taksi online saya menuju ke stasiun kereta api, tidak lupa mampir dulu ke hotel untuk mengambil koper. Sampai di stasiun, kereta belum datang jadi bisa foto-foto dulu di stasiun Banyuwangi, yang merupakan stasiun paling ujung di pulau Jawa. Sungguh perjalanan yang sangat berkesan sebagai penutup tahun 2025.

Friday, 13 March 2026

Race Trail Mount Moeria dan Jalan-jalan di Kudus

 


Setiap tahun saya selalu menjadwalkan mengikuti 1 lomba Trail Run di luar kota. Setelah melihat-lihat di sosmed, saya tertarik mengikuti lomba trail di G Muria, Kudus. Selain karena ada yang berjarak 15 km dengan COT 7 jam, sehingga cukup santai, saya juga belum pernah ke Kudus, jadi bisa sekalian jalan-jalan. Di Kudus juga ada teman  yang tinggal di sana jadi bisa menemani jalan-jalan.

Awal daftar saya mendapat harga early bird, lumayan terjangkau untuk ukuran race trail pada umumnya, mungkin karena race ini baru pertama kali diadakan (setelah race terakhirnya sebelum pandemi).   Sebenarnya saya agak ragu dengan EO nya, tapi setelah saya kirim pesan melalui Instagram sepertinya OK. Saya juga bertanya ke teman-teman pelari trail lain dan sepertinya tidak ada masalah.

Setelah sekitar 1 bulan berlalu dari awal pendaftaran saya mendapat info kalau race ini  akan mendapat 1 poin ITRA (International Train Running Association) dan UTMB (Ultra Trail du Mont Blanc) jadi untuk rute harus sesuai dengan pedoman dari ITRA dan UTMB tersebut dan cot nya berubah jadi 6 jam. Aduh, saya jadi agak stress nih, bisa nggak ya saya finish under cot, mana EGnya sekitar 1000 m.  Bisa tuker kategori menjadi 7K sih, tapi waktu tahun lalu saya ikut UGM trail run 7 km itu terlalu dekat dan kurang menantang. Jadi saya bertekad untuk tetap ikut kategori 15K dengan latihan lebih intens ditambah latihan strength training. Saya ikut latihan bersama Idea Strength Camp 1x seminggu. Untuk long run ditambah jaraknya menjadi lebih dari 10 km tapi karena ada beberapa kegiatan, saya berlari sekitar 13-14 km hanya beberapa kali saja, selebihnya sekitar 10km. Saya juga latihan di Sentul tapi sepertinya agak kurang jadi sebelum hari H saya latihan di bukit GBK, turun naik berkali-kali.  Oh iya, kalo pas CFD saya rutenya juga muter-muter di semanggi dan simpang susun untuk berlatih tanjakan.

Untuk jalan-jalannya, saya menghubungi Lia, teman saya yang tinggal di Kudus, membantu mencari penginapan di dekat start, Graha Muria, Colo, Kudus. Oleh Lia saya di pesankan kamar di Guest House milik temannya Guest House Kopi Montel yang lokasinya tidak jauh dari Start hanya sekitar 200m.  Untuk di kota Kudus, saya juga tinggal di guest house yang sudah di pesan oleh Lia, lokasinya tidak terlalu jauh dari Museum Kretek di daerah Getas, Pejaten, Kudus. Jadi untuk penginapan sudah aman.

Transportasi ke Kudus saya memakai kereta api ke Semarang dilanjut travel ke Kudus dan pulangnya saya naik sleeper bus dari Kudus.

Stasiun Semarang

Stasiun Semarang


Akhirnya hari H tiba juga, tanggal 22  Agustus 2025, saya naik kereta malam dari Stasiun Pasar Senen dengan tujuan akhir di Stasiun Tawang, Semarang pada pagi hari, lanjut ke Kudus dengan menggunakan travel. Saya dan Lia janjian di pemberhentian di sebuah  pom bensin dan setelah menunggu beberapa saat, teman saya Lia menjemput dengan menggunakan motor. Dari sana kami langsung menuju ke guest house untuk meletakkan tas dan langsung menuju ke daerah Pasar Lentog, disana banyak warung yang semuanya menjual menu makanan khas kudus yang cocok untuk sarapan, Lentog Tanjung. Lentog Tanjung adalah kuliner khas Kudus yang terdiri dari lontong (disebut lentog di Kudus) dengan sayur nangka muda (gori), sayur lodeh tahu tempe, kuah santan, serta taburan bawang goreng, sering dinikmati sebagai sarapan dengan pelengkap sate-satean dan kerupuk.





Lentog Tanjung yg enak





Lia memilih salah satu warung disana dan segera memesan 2 porsi lentog. Hmm, suapan pertama rasanya mirip sayur nangka, tetapi kuahnya lebih ringan, ada sedikit rasa manis dan gurih yang saling melengkapi.  Cara penyajiannya juga unik diletakkan di piring beralas daun pisang. Dalam sekejap Lentog Tanjung ini segera tandas, kenyangnya pas ditambah minum es teh manis, nikmat tiada tara.

Selesai makan saya berfoto di depan patung khas desa lentog tanjung berupa dua pikulan yang menjadi ciri khas penjual lentog sebelum berjualan menetap.

Saya diantar Lia kembali ke penginapan dan saya melanjutkan beristirahat. Nanti siang Lia akan menjemput lagi untuk makan siang dan jalan-jalan ke obyek wisata yang ada di Kudus.

Sekitar jam 12 siang Lia telah menjemput saya dan tujuan pertama adalah Museum Kretek yang lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat saya menginap.

Saya mengenai Museum Kretek dari Series di Netflix, Gadis Kretek yang sempat hits beberapa waktu lalu. Museum Kretek adalah satu-satunya museum tentang rokok yang ada di Indonesia. Memberikan informasi mengenai perkembangan kretek dan menunjukkan bahwa kretek identik dengan Kota Kudus sebagai daerah penghasil rokok kretek terbesar. Museum ini menyimpan sebanyak 1.195 koleksi, yang berkaitan dengan sejarah rokok kretek. Terdapat dokumentasi perjalanan Nitisemito yang dijuluki Raja Kretek Kudus, sekaligus pendiri Pabrik Rokok Bal Tiga. Disini juga terdapat bahan dan alat produksi rokok kretek tradisional, foto para pendiri pabrik kretek, alat promosi rokok kretek di masa lalu hingga sekarang, alat giling, alat perajang tembakau, diorama proses pembuatan rokok kretek dan masih banyak lagi. Bau tembakau yang khas menemani saya selama menikmati museum ini. Rokok kretek adalah rokok asli dari Indonesia, terbuat dari tembakau dan cengkih, dipadukan dengan saus perasa. Nama “Kretek” berasal dari suara keretek-keretek karena komposisi tembakau saat rokok dihisap. Rokok kretek berdasarkan catatan sejarah ditemukan oleh Jamhari pada 1890-an. Jamhari kemudian meramu tembakau dan cengkeh untuk dijadikan obat. Ramuan itu dibuat dengan cara melintingnya di dalam kelobot atau kulit jagung.













Setelah puas berkeliling museum dan foto-foto kami melanjutkan perjalanan ke Mesjid Sunan Kudus atau sering disebut juga Masjid Menara Kudus.










Mesjid ini adalah salah satu mesjid yang bersejarah yang dibangun oleh salah satu dari Wali Songo yaitu Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq tahun 1549 Masehi. Mesjid Sunan Kudus ini mempunyai arsitektur yang unik yang merupakan asimilasi  budaya Islam dan Hindu. Hal ini dapat dilihat pada struktur dan bentuk atap berupa tumpang bersusun tiga serta  bangunan menara masjid yang mempunyai tinggi 17 meter yang terbuat dari susunan bata merah tanpa perekat.  Pintu gerbang Masjid Menara Kudus juga didesain menyerupai candi belah atau Candi Bentar. Budaya Hindu terdapat dalam mesjid ini karena pada saat Sunan Kudus datang ke Kudus mengajarkan Islam, masyarakat Kudus  saat itu sudah memeluk ajaran agama Hindu. Sunan Kudus juga melarang masyarakat untuk makan daging sapi yang berlaku sampai sekarang.

Selain sebagai masjid dan tempat ibadah, Masjid Menara Kudus juga sering dijadikan tempat untuk berziarah ke makam Sunan Kudus. Selain Sunan Kudus, di pemakaman yang terletak di bagian belakang kompleks masjid juga terdapat makam beberapa orang yang merupakan keluarga sang sunan. Saya sempat masuk ke dalam untuk melihat sekilas makam keluarga Sunan Kudus, tetapi tidak sampai ke dalam ke tempat makan Sunan Kudus.

Karena hari sudah siang kami memutuskan untuk makan di Soto dan Sop Pindang kerbau di H Sulichan.





Soto dan Pindang Kerbau Kudus berasal dari awal masa  Sunan Kudus yang melakukan penyebaran agama Islam di Kudus. Beliau mengajarkan toleransi dengan menghindari penggunaan daging sapi yang merupakan hewan sakral dalam agama Hindu dan menggantinya dengan daging kerbau untuk hidangan seperti soto dan pindang. Hal ini menjadi simbol kerukunan agama yang bertahan hingga kini di kota Kudus.

Rumah makan H Sulichan ini lumayan ramai sewaktu saya datang, saya memesan pindang kerbau dan Lia memesan Soto kerbaunya. Daging kerbau sendiri mempunyai serat besar tapi over all tetap empuk dan enak, kuahnya light, manis dan gurih, disajikan di piring di atas daun pisang dengan taburan bawang goreng.

Setelah makan saya kembali diantar ke penginapan dan akan dijemput lagi setelah maghrib untuk mengambil racepack dan makan malam.

Racepack hari 1 diadakan di gedung yang menjadi Museum Jenang di Jalan Sunan Muria. Sebelumnya saya sudah mengisi form pengambilan race pack di aplikasi disertai kelengkapan wajib yang harus dibawa sehingga sampai di lokasi saya hanya melakukan pemeriksaan kesehatan yang merupakan syarat wajib untuk mengikuti lomba. Pihak panitia sudah bekerja sama dengan rumah sakit setempat dimana ada petugas kesehatan yang datang,  sehingga saya tinggal mengikuti pemeriksaan dan menyerahkan hasil ke panitia dan mendapatkan paket lomba berupa jersey dan no BIB serta beberapa produk dari sponsor termasuk jenang Mubarok. Di halaman ada mobil Siksorogo Lawu Ultra yang menjadi supporting dari lomba ini dalam hal timing. Pengen ikut Siksorogo sebenernya, tapi nanti aja deh tahun depan. Pemanasan ikut Muria dulu.

Museum Jenang didirikan oleh PT Mubarokfood Cipta Delicia—perusahaan yang memproduksi jenang merek Mubarok—sebagai tempat untuk mengenalkan produk jenang dan sejarahnya kepada khalayak luas. Museum Jenang digagas tepat pada momentum jenang merek Mubarok berusia satu abad, yaitu pada 2010. Disini terdapat ruangan-ruangan yang berisi informasi mengenai sejarah jenang di Kudus dan proses pembuatan jenang.

Selesai mengambil race pack saya dan Lia bergegas menuju ke daerah Menara Kudus lagi untuk makan malam. Di dekat sana ada sate kerbau yang bukanya sore hari. Sate ini sangat terkenal sehingga cepat habis dan benar saya ketika saya datang pas banget tersisa 1 porsi sate kerbau. Asyik. Menurut saya walaupun sate kerbau mempunyai serat yang lebih kasar dan padat dari pada daging sapi, sate ini tetap terasa empuk dengan kuah kacang yang pas rasanya. Pokoknya harus coba kulineran serba daging kerbau di Kudus!







Karena lokasinya yang dekat dengan Menara Kudus, saya akhirnya bisa foto Menara Kudus saat malam. Menara berdiri dengan gagahnya bersinar di tengah gelapnya malam.

 

Sebelum pulang, saya dan Lia mampir ke Susu Moeria yang sudah berdiri sejak tahun 1938. Info yang saya saya dapat dari websitenya : https://susumoeria.com/ 




Pemerahan Susu sapi moeria ini adalah perusahaan keluarga yang dibangun dari tahun 1938, oleh Ang Hien Siok. Perusahaan ini berawal mula dari sebuah peternakan sapi perah kecil. Susu murni yang diperah setiap subuh dan siang hari oleh keluarga Ang Hien Siok ini yang kemudian dikemas ke dalam botol – botol kaca dan diantarkan oleh para loper ke rumah – rumah di kota Kudus dengan sepeda onthel.

Lokasinya mirip dengan Cimory yang ada di puncak. Awalnya pasti masih sederhana, tetapi setelah jaman makin berkembang akhirnya Susu Moeria menjadi one stop shopping untuk susu dan olahannya serta ada kafenya juga dengan beraneka makanan. Disini juga ada peternakan sapi dan bisa melihat langsung proses memerah susunya.

Karena hari sudah malam, sapinya sudah tidur, jadi nggak bisa dilihat deh. Wkwkw. Untuk minuman susunya rasanya standar susu pada umumnya dengan olahan berbagai rasa dan ada kemasan di cup juga.

Besok paginya saya sempat jalan-jalan di sekitar penginapan dan makan pagi sambil melihat sawah, setelah itu melihat GOR Bulutangkis asuhan PB Djarum yang ada disana. Lewat depan asramanya juga dimana ada murid-murid yang sedang santai.

Pemandangan belakang penginapan

GOR Bulutangkis Djarum Kudus

Setelah itu saya bersiap-siap packing dan memesan makan siang lewat Gofood yaitu bebek mentok. Bingung soalnya mau pesen makan apa.

Bebek Mentok

Sekitar jam 12.30an Lia menjemput saya dengan motornya dan kami menuju ke lokasi lomba Ultra Trail Mount Moeria di Grha Muria, Colo. Perjalanan kami kali ini cukup jauh dengan jalan yang menanjak, satu arah dengan makam Sunan Muria. Ketika kami melewati pabrik rokok Nojorono Kudus, aroma cengkih yang kuat menyapa indra penciuman.

Di tengah perjalanan tiba-tiba mesin motor mati, memang motor ini katanya sudah lama tidak ganti oli, menurut Lia. Beruntung motor berhenti di depan sebuah toko, sehingga kami bisa duduk terasnya. Saya memutuskan untuk menelpon panitia lomba untuk meminta bantuan. Mas Bram selaku pic panitia cepat tanggap dan segera datang ke tempat saya. Mas Bram menanyakan ke anak-anak kecil yang lewat dan ternyata tidak jauh dari sana ada bengkel jadi kami segera ke sana untuk menaruh motor supaya di service dan saya bersama mas Bram melanjutkan ke penginapan yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat start. Nanti saya menunggu kabar selanjutnya dari Lia mengenai motornya. Setelah melewati tanjakan terakhir yang cukup curam, tibalah saya di Kopi Montel, Coffe dan Homestay.





Rumah sederhana dengan kedai kopi di sudut halaman menyambut saya di siang yang agak mendung. Saya disambut oleh ibu pemilik homestay, Bu Esti, yang ramah dan segera mengantar ke kamar yang akan saya tempati. Setelah beres-beres saya segera keluar dan duduk-duduk sambil memesan kopi, menikmati pemandangan hutan hijau yang memanjakan mata. Menjelang sore saya akan pergi ke acara briefing di Graha Moeria. Ketika saya sedang asyik menikmati kopi tiba-tiba Lia datang. Ternyata motornya sudah bisa dibetulkan sehingga dia bisa melanjutkan perjalanan dan memilih untuk ke kopi Montel dulu bertemu dengan saya dan Bu Esti yang sudah menjadi teman Lia sejak lama.

Sekitar jam 3 sore saya berjalan kaki ke Graha Moeria untuk mengikuti briefing. Briefing diikuti oleh semua kategori, 50K, 30K, 15K dan 7K.  Race Director memberikan pengarahan mengenai race besok atau untuk kategori 50K dan 30K akan start nanti malam. Yang paling saya ingat setelah start kita akan naik tangga menuju ke arah makam Sunan Muria. Selain itu ada info mengenai water station dan info mengenai jalur yang hendak dilalui dan keterangan EG nya.


Gapura Taman Ria Colo


Jalan ke arah start 

Setelah briefieng selesai saya kembali ke homestay, dan setelah Lia pulang, saya memesan makan malam. Harus makan banyak persiapan race besok. Menu malam itu adalah pecel sayur dan peyek kacang, hmm.. enak pecelnya dan pas porsinya.  Setelah makan saya segera beristirahat karena besok pagi sekali jam 5.30 lomba sudah dimulai.

Finally, hari yang dinanti tiba. Sekitar jam 4.30 saya sudah dibangunkan oleh Bu Esti dan alarm juga sudah berbunyi. Saya segera makan dan bersiap-siap, setelah itu dengan berjalan kaki menuju ke tempat lomba dan segera bersiap di garis start. Saya memang sendirian tetapi di garis start tidak merasa sendirian karena bersama dengan peserta yang lain menunggu lomba dimulai. Perasaan deg-degan dan excited bercampur menjadi satu tetapi saya sudah bertekad harus finis sebelum COT. Bu Esti juga saya kirim foto saat di garis dan start dan ikut memberi semangat.




3..2..1... go.. saya mulai berlari mengikuti jalur dan langsung berhadapan dengan tangga menuju ke arah makam Sunan Muria. Setelah briefing saya mencari info mengenai tangga ini dan ternyata berjumlah sekitar 400 anak tangga. Sambil naik tangga secepatnya kami bertemu dengan para peziarah yang juga mau naik atau turun. Sepanjang tangga juga banyak lapak yang berjualan souvenir dan para penjual ada juga yang kasih semangat. Seperti peserta mereka juga pasti excited bisa melihat langsung lomba lari di sini

Naik 400 anak tangga ke arah makam Sunan Muria 

Lepas naik tangga kami berbelok menuju jalur ke arah pegunungan. Karena sebelah kanan itu makam Sunan Muria, saya sempat melihatnya sekilas. Saya berhenti di beberapa spot yang mempunyai pemandangan indah untuk sekedar berfoto karena tidak dikejar harus cepat finish jadi hanya foto sebentar mestinya tidak masalah. Jalur bervariasi antara tanjakan tajam dan turunan landai silih berganti. Beberapa kali kami harus melewati pohon yang menghalangi lintasan. Beruntung cuaca tadi malam kering sehingga hari itu tidak terlalu becek dan berlumpur hanya di tempat tertentu saja agak licin terutama di bagian turunan yang curam yang agak menyulitkan saya sehingga saya merosot saja supaya aman. Biarlah bagian bokong saya kotor yang penting selamat tidak jatuh.










Tidak terasa setengah perjalanan dilalui dan sampai di suatu tempat yang namanya Puncak Ternadi. 7 km lagi harus dilalui di jalan menurun yang cukup melelahkan tetapi akhirnya berhasil di lalui. Saya sempat bertanya-tanya juga apakah jalur yang dilalui sudah benar karena saya sendirian di jalur tersebut, peserta lain sudah jauh di depan. Tetapi kalau dilihat dari waktu masih cukup bisa finish under COT.

 Terdapat perubahan lokasi water station yang membuat saya agak bertanya-tanya karena cukup jauh dari lokasi awal. Water station itu menjadi tanda kalau garis finish sudah dekat. Ada kejadian yang membuat saya agak drop, karena setelah water station terakhir saya kira sudah tinggal jalan mendatar menuju ke finish tetapi kenyataan yang harus dihadapi adalah tanjakan yang cukup curam untuk menuju ke jalur jalan raya

Tanjakan akhirnya berhasil di lalui, jalan raya yang menanjak sudah dilewati sampai akhirnya..ahh... saya sampai di garis Finish.  Senangnya luar biasa berhasil finish dengan waktu 30 menit sebelum jam 12 di cuaca yang cukup terik. Semua rasa capai dan kaki yang pegal serta sakit tidak terasa lagi yang penting sudah bisa finish, mendapat medali dan dapet 1 poin ITRA dan dapet poin UTMB.





Setelah foto-foto dan beristirahat sebentar sambil makan soto yang disediakan oleh panitia saya kembali ke tempat finish untuk melihat peserta lain yang finish. Seru banget liatnya, detik-detik terakhir sampai ke garis finish setelah perjuangan melewati km demi km naik turun di pegunungan Muria.  Beberapa peserta yang bareng dengan saya di race menyapa dan memberi selamat.  Kami ngobrol sebentar. Senang sekali ikut race trail di luar kota kita jadi lebih akrab ke sesama peserta. Selama di race juga sesama peserta banyak saling tegur sapa menanyakan kabar kita. Karena bagian pantat saya penuh lumpur (karena merosot itu) saya disapa peserta lain karena dikira jatuh.

Overall race UTMM ini recommended, rutenya asyik dengan elevasi yang cukup menantang untuk kategori 15 km dan COT 6 jam, panitianya baik, ramah dan helpful.

Setelah makanan habis dan puas menikmati suasana race di siang yang cukup panas itu, saya kembali ke penginapan. Karena ke arah penginapan jalannya menanjak dan saya sudah tidak ada tenaga lagi, saya minta tolong ke mas panitia yang sedang ada disana untuk mengantar dengan motor, hehe. Lumayan, hemat tenaga.

Sampai di penginapan saya memberi kabar dengan penuh semangat ke Bu Esti dan beliau ikut senang sekali dan langsung memberi selamat. Saya segera mandi, ganti baju, makan dan beristirahat. Karena tadi sudah makan dan masih capek sekali saya belum pesan makan lagi. Nanti saja bareng sama Lia yang akan datang menjemput.

Sekitar jam 3 sore Lia datang bersama anak bungsunya. Kita semua makan siang dan setelah ngobrol sebentar kami pulang ke kota Kudus. Rasanya agak berat meninggalkan tempat ini karena selain masih pengen beristirahat suasananya juga adem dan bikin betah. Kembali ke rumah ibu pemilik penginapan yang di kota Kudus, tempat saya menyimpan koper.  Tidak lama saya kembali diantar Lia untuk membeli oleh-oleh jenang kudus dan balik lagi ambil koper dan lanjut pesan grab car menuju Terminal.

Transportasi pulang ke Jakarta saya sudah pesan sleeper bus Muji Jaya Putra Mandiri (MJPM) dengan harga tiket 330 ribu di Traveloka yang berangkat jam 9 malam. Bus datang sekitar jam 8.30 malam, beberapa bus sekaligus untuk tujuan yang berbeda. Saya naik ke bus tujuan Lebak Bulus, dapat tempat duduk di atas dan belakang supir supaya dapat pemandangan ke jalanan depan. Tempat duduknya tidak berbeda jauh dengan sleeper bus sebelumnya sewaktu saya ke Yogya, bisa rebah ke belakang, lengkap dengan selimut dan bantal serta tempat charge, snack, makanan dan minuman. Saya nggak minat nonton jadi tidak terlalu memperhatikan apakah ada TV kecil di depan saya. Karena setelah bus berjalan saya langsung tidur cukup nyenyak.  Sempat terbangun ketika di tol Cikampek dan akhirnya bus sampai juga di Lebak Bulus. Dengan naik Gocar saya tiba kembali dengan selamat sampai di rumah.

Di dalam sleeper bus

Snack di bus


Perjalanan dan lomba yang sangat berkesan dan tidak akan terlupakan, terutama karena bisa meraih poin ITRA pertama.