Wednesday, 26 November 2025

Singapore - Kuala Lumpur Trip

 


Bulan Februari tahun 2025 saya ada trip lagi ke Singapore. Ini akibat dari trip ke Jepang yang batal dan pesawat di refund full. Penerbangan lanjutan dari Kuala Lumpur ke Jakarta tidak dapat di refund sehingga saya akhirnya membeli tiket Jakarta ke Singapore dan pulang dari KL ke Jakarta.

Sampai di airport Changi hari Sabtu siang tanggl 1 Februari 2025, saya segera menuju ke rumah Cipit di Bedok dengan turun di stasiun Tanah Merah. Dalam waktu kurang dari 3 bulan bisa balik lagi ke Singapore itu menyenangkan sekali.











Baru saja datang dan beristirahat saya sudah diajak Cipit untuk jalan-jalan ke kawasan heritage di east coast yaitu seputar joo chiat road. Sebelum ke Spore kemarin sempat wa Cipit kalau saya pengen main ke daerah ini dan ternyata dekat dari Bedok hanya naik bus 1x sudah sampai. Oh iya, kali ini Anais si bungsu ikut serta.

Sampai di seputar Joo Chiat Road kami disambut oleh bangunan rumah warna warni pastel bergaya peranakan. Selain itu banyak pula mural-mural yang lucu dan unik sepanjang jalan. Beberapa bangunan di area tersebut, seperti di 125 Joo Chiat Road, telah menerima Penghargaan UNESCO Asia-Pasifik untuk Konservasi Warisan Budaya.

Jadilah saya sibuk foto dan video di sini sampai puas, sambil menunggu Cipit masuk ke beberapa toko untuk window shopping.

Setelah puas menjelajah kami naik bus rute yang sama untuk pulang. Sampai di rumah tidak ada kata istirahat, saya menemani Anais main sepeda di taman. Mamanya sibuk masak jadi saya kebagian tugas jadi aunty. Anais sudah janjian sama temannya untuk main di taman kompleks.







Hanya berjalan sekitar 200 meter kami sudah sampai di taman yang terletak di samping sungai. Terdapat permainan anak dan alat olahraga di sana. Anais segera bergabung dengan teman-temannya dan sambil mengawasi saya jalan-jalan ke arah sungai. Suka banget sama suasana di sini, udaranya segar dan bersih, tamannya rapi dan teratur. Rasanya gak pengen pulang ke Jakarta. Huhu..

Hujan rintik-rintik turun menyebabkan anak-anak bubar pulang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah saya segera mandi dan beres-beres, makan malam dan ngobrol sama Cipit sambil menyiapkan sepeda untuk besok. Yes, besok kami akan bersepeda ke arah Marina Bay. Jadi malam ini harus segera tidur supaya besok bisa bangun pagi.

Jam 5.30 pagi Cipit sudah ketok-ketok kamar dan membangunkan saya yang masih ngantuk. Berharap Cipit bangun agak siang tetapi ternyata doi semangat banget mau sepedaan pagi itu. Setelah siap-siap jam 6 saya keluar rumah dan ternyata di luar masih gelap sekali seperti jam 5 pagi. Jadi dengan memakai headlamp kami berdua bersepeda menembus gelap malam. Oh iya, sebelum mulai sempat ada hambatan sedikit, tiba-tiba rantai sepeda saya keluar jadi dibetulin dulu sama Benji.







Cipit sudah hafal rute perjalanan ke daerah Marina Bay karena dia sering bersepeda ke sana jadi saya tinggal ngikutin aja. Sepeda yang dipakai jenis sepeda mini jadi agak berat (saya biasa pakai road bike) tapi lama-lama saya terbiasa. Yang berat jika harus meyeberang melalui jembatan bawah tanah, tanjakan yang curam membuat saya harus turun dari sepeda.

Sampai di daerah pantai east coast kami mampir dulu di Starbucks untuk membeli kopi dan lanjut lagi untuk foto di depan menara berwarna kuning Amber Beacon Tower. Tempat tersebut konon terkenal horror karena pernah ada kejadian pembunuhan dan sampai sekarang pembunuhnya tidak tertangkap. Pagi itu menara terlihat normal karena bersamaan dengan sunrise dan cuaca mulai terang serta sudah banyak orang yang berolahraga.

Kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Marina Bay dan sampai di sana kami foto-foto dan duduk dahulu untuk beristirahat sambil makan cemilan yang dibawa dari rumah. Sepeda mini kami ada keranjang di depan jadi tas bisa ditaruh disana.

Dalam perjalanan pulang kami mampir dulu di supermarket untuk belanja dan sarapan di kedai kopi dengan menu kopi, telur setengah matang dan roti srikaya. Lumayan juga perjalanan kami pagi itu karena total kalori yang terbakar hampir 1000 kalori. Langsung berasa kurus.



Sesiangan itu saya dan Cipit beristirahat sambil ngobrol dan nonton Netflix dan sekitar jam 2 siang saya pergi ke Orchard untuk janjian dengan Mbak Nira, teman lari di Jakarta yang pindah ke Singapore. Sekalian juga janjian dengan Nino karena besok senin saya akan melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dengan bus.





Akhirnya kami bertemu ber 3 dan asyik ngobrol sekitar 1 jam karena setelah itu kami masih ada acara masing-masing. Senang sekali bisa bertemu dengan mbak Nira karena sudah lama sekali tidak bertemu. Terakhir sebelum pandemi dimana kami sibuk menunggu pak Ganjar di FX acara pembukaan Borobudur Marathon.

Saya menyeberang jalan menuju Jollie Bee untuk makan ayam goreng disana. Ayam goreng favorit kalau saya ke Singapore dan saya juga membeli oleh-oleh ayam untuk Cipit dan anak-anak. Selalu antri kalau beli ayam goreng ini dan karena bertepatan dengan hari Minggu banyak sekali warlok pinoy di sana.

Seperti biasa malam hari dihabiskan dengan mengobrol di dapur lanjut di ruang tamu sambil nonton Netflix sampai mengantuk.

Besok pagi saya ikut Cipit mengantar Anais ke sekolah yang ternyata terletak di daerah Joo Chiat Road, jadi saya masih bisa menikmati daerah heritage itu sekali lagi. Setelah mengantar, mampir ke supermarket dan toko makanan kecil baru pulang lagi dengan bus.





Sampai rumah aduh ternyata sudah siang, saya segera mandi dan beres-beres dan menuju ke seberang jalan untuk naik bus ke stasiun Tanah Merah. Ya ampun, baru naik bus ternyata charger ketinggalan di kamar. Telpon Cipit dengan panik dan dia bilang akan mengantar ke seberang jalan. Setelah turun bus dengan lari kecil saya segera balik lagi dan akhirnya berhasil mengambil charger. Menunggu bus lagi untuk ke stasiun, naik kereta ke Bugis dan setelah salah jalan sedikit (bingung karena ada perbaikan jalan) sampai juga di meeting poin Bus Cityline Singapore – KL.






Syukurlah bus ternyata belum datang dan masih ada waktu menunggu. Ada beberapa orang penumpang lain yang sama-sama menunggu disana. Setelah bus datang saya segera naik. Busnya bersih, ac dingin dan nyaman. Supir bus orang india dan dengan memperlihatkan barcode pemesanan tiket saya segera naik dan duduk di kursi yang sudah dipilih. Deretan sebelah kiri bus untuk 1 orang jadi tidak ada penumpang disebelah saya dan memang bus tidak terlalu penuh juga.

Bye Singapore, bus masuk ke imigrasi di Woodland, Singapore dan supir bus memberitahu kalau kita harus turun dengan membawa tas dan masuk ke imigrasi untuk pemeriksaan paspor. Di sini imigrasinya sepi karena semua pemeriksaan memakai mesin scan. Setelah selesai kami menuju bus yang sudah menunggu dan lanjut lagi masuk ke imigrasi Malaysia di Johor Baru. Ketika petugas melihat paspor hijau saya dia mengarahkan saya ke dalam untuk pemeriksaan imigrasi manual dengan petugas. Sedangkan di depan saya adalah orang jepang dipersilakan menuju pemeriksaan paspor dengan mesin. Derita paspor hijau memang nyata adanya.

Pemeriksaan paspor dan barang bawaan berjalan lancar dan kami menuju bus lagi untuk menunggu para penumpang yang lain dan setelah itu bus menuju ke Kuala Lumpur.  Pemandangan sepanjang jalan didominasi perkebunan sawit dan perumahan penduduk serta ada perbukitan di kejauhan.






Kami mampir dulu untuk beristirahat di rest area dan disana ternyata banyak tukang jualan. Saya tertarik dengan penjual es krim durian dan membelinya. Setelah buru-buru menghabiskan es tersebut, penjualnya agak lama melayani jadi cukup makan waktu, saya segera naik dan bus segera melanjutkan perjalanan.

Memasuki kota KL kami mengalami sedikit macet dan sekitar pukul 5 bus sampai di KL Sentral. Saya jalan kaki menuju ke Sentral Hotel, check in, istirahat sebentar dan segera pergi lagi untuk janjian dengan Habib di jalan depan apartemennya. Habib teman lari saya di Indorunners memang pindah dan bekerja di KL, saya janjian untuk bertemu sekalian diantar jalan-jalan.














 

Seru sekali saya dibonceng dengan vespa lucunya yang berwarna pastel menuju ke nasi lemak Wanjo yang terkenal itu. Sehabis makan nasi lemak kami mencari durian Musang King dan lanjut balik ke hotel. Besok pagi mau lari pagi ke Botanical Garden dan sekitarnya.

Esok pagi saya bangun agak kesiangan, jam 6.30 saya baru bangun dan bersiap-siap. Di kamar tidak ada jendela jadi saya tidak bisa melihat ke luar. Ketika sudah sampai lobby dan keluar saya kaget karena cuaca masih gelap gulita. Saya lihat jam sudah pukul 7, tapi suasana masih gelap seperti jam 5 pagi tapi sudah ada beberapa orang yang lalu lalang. Saya agak bingung antara ingin menunggu sampai agak terang atau lari saja. Saya memutuskan untuk lanjut lari karena takut kesiangan. Jadi saya lari pelan-pelan sambil melihat google map. Sepertinya di sini aman, walau saya lihat ada juga homeless di pinggir jalan.
























Matahari mulai bersinar di tengah perjalanan dan akhirnya saya sampai di Botanical Garden dan sempat lari beberapa saat di dalam taman. Saya keluar melalui pintu yang sama dan menelusuri jalan menuju ke Dataran Merdeka. Disana saya duduk cukup lama melihat keadaan dan foto-foto. Di depan dataran merdeka ada Gedung Sultan Abdul Samad yang selesai dibangun pada tahun 1897 dengan gaya Mughal / Moorish rancangan A.C. Norman dan saat ini menjadi gedung Kementrian serta Kantor Pos. Di gedung ini terdapat menara jam dengan tinggi 41 meter. Jam sempat berbunyi ketika saya berada di sana.

Selama saya menunggu ada 1 bus wisata berisi turis asing yang turun dan foto-foto. Karena sudah mulai ramai saya melanjutkan perjalanan pulang dan mampir di seven eleven untuk ngopi dan makan roti. Lanjut lagi perjalanan pulang dengan lari kecil karena tas saya penuh jajanan. Lewat Pasar Seni yang masih tutup sampailah di hotel dan segera mandi serta wfa di lantai atas hotel. Lumayan juga rooftopnya bisa melihat MRT yang lewat dan KL Tower di kejauhan.




Jam makan siang tiba, saya makan di kios makan kecil (semacam warteg) di sebelah hotel. Lumayanlah murah meriah. Setelah itu saya siap-siap untuk jalan lagi menuju menara Petronas Twin Tower. Disana saya janjian dengan teman saya orang KL untuk makan malam.

Walaupun cuaca cerah di siang hari, ketika saya sedang duduk di taman seberang Twin Tower hujan turun dengan lebatnya. Saya berteduh di pondok kecil yang ada di taman itu bersama orang-orang yang juga terjebak. Cukup lama saya menunggu disana sampai agak hari gelap dan hujan jadi rintik-rintik sekitar jam 7 malam dan lampu di menara Petronas mulai menyala. Dan lampunya bukan hanya putih seperti malam sebelumnya, tetapi ada 4 warna yaitu merah, putih, hijau dan biru, seperti warna bendera Malaysia. Aduh cantik sekali. Wah pas banget warna lampu menara berubah ketika saya disana. Jadi ada pengalaman yang agak berbeda.






Karena hujan turun yang awalnya mau makan malam di kafe outdoor dekat sana (supaya bisa sambil melihat Twin Tower) berubah jadi malan malam di mall Suria KLCC. Oriental Kopi yang cukup viral itu penuh – harus antri dulu, sehingga akhirnya kami memutuskan makan di Madam Kwan yang ada di lantai yang sama. Ternyata ketika malam hari di depan mall ada pertunjukan air mancur menari yang bagus sekali, senang masih bisa menikmati beberapa lagu sebelum pertunjukan berakhir. Dengan perasaan senang dan puas saya pulang ke hotel dengan naik monorel.

Esok paginya saya breakfast di kedai kopi yang cukup terkenal di KL di daerah China Town,  Ho Kow Hainam Kopitiam, yang sudah berdiri sejak tahun 1956. Sebelum menuju ke sana saya lewat daerah China Town dan foto-foto di mural yang intagramable. Dari China Town saya menuju Petaling Street sekalian membeli oleh-oleh. Saya terpaksa menukar uang SGD saya menjadi RM dan mendapat jumlah yang lumayan untuk beli oleh-oleh. Maklum deh biasanya pake tap card aja jadi pas giliran harus bayar cash jadi panik karena kurang.



















Puas belanja dengan berjalan kaki lagi saya menuju hotel. Sempat ada kejadian memalukan saya jatuh di deket stasiun MRT dan diliatin orang-orang. 😊 Untung gak apa-apa.

Sampai hotel, packing, beres-beres, dan menuju ke KL Sentral dan menuju airport dengan naik KLIA Express.  Sebenernya bisa lebih murah dengan naik bus, tapi saya mau yang cepat saja jadi pilih naik kereta ini.

Sampai di KLIA, saya sempat makan dulu dan dapat ruang tunggu dengan interior yang ada banyak muralnya. Perjalanan dengan pesawat AA lancar dan mendarat di Soekarno Hatta Airport dengan selamat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No comments:

Post a Comment