Bulan Februari tahun 2025 saya ada trip
lagi ke Singapore. Ini akibat dari trip ke Jepang yang batal dan pesawat di
refund full. Penerbangan lanjutan dari Kuala Lumpur ke Jakarta tidak dapat di
refund sehingga saya akhirnya membeli tiket Jakarta ke Singapore dan pulang
dari KL ke Jakarta.
Sampai di airport Changi hari Sabtu
siang tanggl 1 Februari 2025, saya segera menuju ke rumah Cipit di Bedok dengan
turun di stasiun Tanah Merah. Dalam waktu kurang dari 3 bulan bisa balik lagi
ke Singapore itu menyenangkan sekali.
Baru saja datang dan beristirahat saya
sudah diajak Cipit untuk jalan-jalan ke kawasan heritage di east coast yaitu
seputar joo chiat road. Sebelum ke Spore kemarin sempat wa Cipit kalau saya
pengen main ke daerah ini dan ternyata dekat dari Bedok hanya naik bus 1x sudah
sampai. Oh iya, kali ini Anais si bungsu ikut serta.
Sampai di seputar Joo Chiat Road kami
disambut oleh bangunan rumah warna warni pastel bergaya peranakan. Selain itu
banyak pula mural-mural yang lucu dan unik sepanjang jalan. Beberapa bangunan
di area tersebut, seperti di 125 Joo Chiat Road, telah menerima Penghargaan
UNESCO Asia-Pasifik untuk Konservasi Warisan Budaya.
Jadilah saya sibuk foto dan video di sini
sampai puas, sambil menunggu Cipit masuk ke beberapa toko untuk window
shopping.
Setelah puas menjelajah kami naik bus
rute yang sama untuk pulang. Sampai di rumah tidak ada kata istirahat, saya
menemani Anais main sepeda di taman. Mamanya sibuk masak jadi saya kebagian
tugas jadi aunty. Anais sudah janjian sama temannya untuk main di taman
kompleks.
Hanya berjalan sekitar 200 meter kami
sudah sampai di taman yang terletak di samping sungai. Terdapat permainan anak
dan alat olahraga di sana. Anais segera bergabung dengan teman-temannya dan
sambil mengawasi saya jalan-jalan ke arah sungai. Suka banget sama suasana di sini,
udaranya segar dan bersih, tamannya rapi dan teratur. Rasanya gak pengen pulang
ke Jakarta. Huhu..
Hujan rintik-rintik turun menyebabkan
anak-anak bubar pulang ke rumah masing-masing. Sampai di rumah saya
segera mandi dan beres-beres, makan malam dan ngobrol sama Cipit sambil
menyiapkan sepeda untuk besok. Yes, besok kami akan bersepeda ke arah Marina
Bay. Jadi malam ini harus segera tidur supaya besok bisa bangun pagi.
Jam 5.30 pagi Cipit sudah ketok-ketok
kamar dan membangunkan saya yang masih ngantuk. Berharap Cipit bangun agak
siang tetapi ternyata doi semangat banget mau sepedaan pagi itu. Setelah
siap-siap jam 6 saya keluar rumah dan ternyata di luar masih gelap sekali
seperti jam 5 pagi. Jadi dengan memakai headlamp kami berdua bersepeda menembus
gelap malam. Oh iya, sebelum mulai sempat ada hambatan sedikit, tiba-tiba
rantai sepeda saya keluar jadi dibetulin dulu sama Benji.
Cipit sudah hafal rute perjalanan ke
daerah Marina Bay karena dia sering bersepeda ke sana jadi saya tinggal
ngikutin aja. Sepeda yang dipakai jenis sepeda mini jadi agak berat (saya biasa
pakai road bike) tapi lama-lama saya terbiasa. Yang berat jika harus meyeberang
melalui jembatan bawah tanah, tanjakan yang curam membuat saya harus turun dari
sepeda.
Sampai di daerah pantai east coast kami
mampir dulu di Starbucks untuk membeli kopi dan lanjut lagi untuk foto di depan
menara berwarna kuning Amber Beacon Tower. Tempat tersebut konon terkenal
horror karena pernah ada kejadian pembunuhan dan sampai sekarang pembunuhnya
tidak tertangkap. Pagi itu menara terlihat normal karena bersamaan dengan
sunrise dan cuaca mulai terang serta sudah banyak orang yang berolahraga.
Kami kembali melanjutkan perjalanan
menuju Marina Bay dan sampai di sana kami foto-foto dan duduk dahulu untuk
beristirahat sambil makan cemilan yang dibawa dari rumah. Sepeda mini kami ada
keranjang di depan jadi tas bisa ditaruh disana.
Dalam perjalanan pulang kami mampir dulu
di supermarket untuk belanja dan sarapan di kedai kopi dengan menu kopi, telur
setengah matang dan roti srikaya. Lumayan juga perjalanan kami pagi itu karena
total kalori yang terbakar hampir 1000 kalori. Langsung berasa kurus.
Sesiangan itu saya dan Cipit
beristirahat sambil ngobrol dan nonton Netflix dan sekitar jam 2 siang saya
pergi ke Orchard untuk janjian dengan Mbak Nira, teman lari di Jakarta yang
pindah ke Singapore. Sekalian juga janjian dengan Nino karena besok senin saya
akan melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur dengan bus.
Akhirnya kami bertemu ber 3 dan asyik
ngobrol sekitar 1 jam karena setelah itu kami masih ada acara masing-masing.
Senang sekali bisa bertemu dengan mbak Nira karena sudah lama sekali tidak
bertemu. Terakhir sebelum pandemi dimana kami sibuk menunggu pak Ganjar di FX
acara pembukaan Borobudur Marathon.
Saya menyeberang jalan menuju Jollie Bee
untuk makan ayam goreng disana. Ayam goreng favorit kalau saya ke Singapore dan
saya juga membeli oleh-oleh ayam untuk Cipit dan anak-anak. Selalu antri
kalau beli ayam goreng ini dan karena bertepatan dengan hari Minggu banyak
sekali warlok pinoy di sana.
Seperti biasa malam hari dihabiskan dengan mengobrol di dapur lanjut di ruang tamu sambil nonton Netflix sampai mengantuk.
Besok pagi saya ikut Cipit mengantar
Anais ke sekolah yang ternyata terletak di daerah Joo Chiat Road, jadi saya
masih bisa menikmati daerah heritage itu sekali lagi. Setelah mengantar, mampir
ke supermarket dan toko makanan kecil baru pulang lagi dengan bus.
Sampai rumah aduh ternyata sudah siang, saya segera mandi dan beres-beres dan menuju ke seberang jalan untuk naik bus ke stasiun Tanah Merah. Ya ampun, baru naik bus ternyata charger ketinggalan di kamar. Telpon Cipit dengan panik dan dia bilang akan mengantar ke seberang jalan. Setelah turun bus dengan lari kecil saya segera balik lagi dan akhirnya berhasil mengambil charger. Menunggu bus lagi untuk ke stasiun, naik kereta ke Bugis dan setelah salah jalan sedikit (bingung karena ada perbaikan jalan) sampai juga di meeting poin Bus Cityline Singapore – KL.
Syukurlah bus ternyata belum datang dan
masih ada waktu menunggu. Ada beberapa orang penumpang lain yang sama-sama
menunggu disana. Setelah bus datang saya segera naik. Busnya bersih, ac dingin
dan nyaman. Supir bus orang india dan dengan memperlihatkan barcode pemesanan
tiket saya segera naik dan duduk di kursi yang sudah dipilih. Deretan sebelah
kiri bus untuk 1 orang jadi tidak ada penumpang disebelah saya dan memang bus
tidak terlalu penuh juga.
Bye Singapore, bus masuk ke imigrasi di
Woodland, Singapore dan supir bus memberitahu kalau kita harus turun dengan
membawa tas dan masuk ke imigrasi untuk pemeriksaan paspor. Di sini imigrasinya
sepi karena semua pemeriksaan memakai mesin scan. Setelah selesai kami menuju
bus yang sudah menunggu dan lanjut lagi masuk ke imigrasi Malaysia di Johor
Baru. Ketika petugas melihat paspor hijau saya dia mengarahkan saya ke dalam
untuk pemeriksaan imigrasi manual dengan petugas. Sedangkan di depan saya adalah
orang jepang dipersilakan menuju pemeriksaan paspor dengan mesin. Derita paspor
hijau memang nyata adanya.
Pemeriksaan paspor dan barang bawaan
berjalan lancar dan kami menuju bus lagi untuk menunggu para penumpang yang
lain dan setelah itu bus menuju ke Kuala Lumpur. Pemandangan sepanjang jalan didominasi
perkebunan sawit dan perumahan penduduk serta ada perbukitan di kejauhan.
Kami mampir dulu untuk beristirahat di
rest area dan disana ternyata banyak tukang jualan. Saya tertarik dengan
penjual es krim durian dan membelinya. Setelah buru-buru menghabiskan es
tersebut, penjualnya agak lama melayani jadi cukup makan waktu, saya segera
naik dan bus segera melanjutkan perjalanan.
Memasuki kota KL kami mengalami sedikit
macet dan sekitar pukul 5 bus sampai di KL Sentral. Saya jalan kaki menuju ke
Sentral Hotel, check in, istirahat sebentar dan segera pergi lagi untuk janjian
dengan Habib di jalan depan apartemennya. Habib teman lari saya di Indorunners
memang pindah dan bekerja di KL, saya janjian untuk bertemu sekalian diantar
jalan-jalan.
Seru sekali saya dibonceng dengan vespa
lucunya yang berwarna pastel menuju ke nasi lemak Wanjo yang terkenal itu.
Sehabis makan nasi lemak kami mencari durian Musang King dan lanjut balik ke
hotel. Besok pagi mau lari pagi ke Botanical Garden dan sekitarnya.
Esok pagi saya bangun agak kesiangan,
jam 6.30 saya baru bangun dan bersiap-siap. Di kamar tidak ada jendela jadi
saya tidak bisa melihat ke luar. Ketika sudah sampai lobby dan keluar saya
kaget karena cuaca masih gelap gulita. Saya lihat jam sudah pukul 7, tapi
suasana masih gelap seperti jam 5 pagi tapi sudah ada beberapa orang yang lalu
lalang. Saya agak bingung antara ingin menunggu sampai agak terang atau lari
saja. Saya memutuskan untuk lanjut lari karena takut kesiangan. Jadi saya lari
pelan-pelan sambil melihat google map. Sepertinya di sini aman, walau saya
lihat ada juga homeless di pinggir jalan.
Matahari mulai bersinar di tengah
perjalanan dan akhirnya saya sampai di Botanical Garden dan sempat lari
beberapa saat di dalam taman. Saya keluar melalui pintu yang sama dan
menelusuri jalan menuju ke Dataran Merdeka. Disana saya duduk cukup lama
melihat keadaan dan foto-foto. Di depan dataran merdeka ada Gedung Sultan Abdul
Samad yang selesai dibangun pada tahun 1897 dengan gaya Mughal / Moorish
rancangan A.C. Norman dan saat ini menjadi gedung Kementrian serta Kantor Pos.
Di gedung ini terdapat menara jam dengan tinggi 41 meter. Jam sempat berbunyi
ketika saya berada di sana.
Selama saya menunggu ada 1 bus wisata
berisi turis asing yang turun dan foto-foto. Karena sudah mulai ramai saya
melanjutkan perjalanan pulang dan mampir di seven eleven untuk ngopi dan makan
roti. Lanjut lagi perjalanan pulang dengan lari kecil karena tas saya penuh
jajanan. Lewat Pasar Seni yang masih tutup sampailah di hotel dan segera mandi
serta wfa di lantai atas hotel. Lumayan juga rooftopnya bisa melihat MRT yang
lewat dan KL Tower di kejauhan.
Jam makan siang tiba, saya makan di kios
makan kecil (semacam warteg) di sebelah hotel. Lumayanlah murah meriah. Setelah
itu saya siap-siap untuk jalan lagi menuju menara Petronas Twin Tower. Disana
saya janjian dengan teman saya orang KL untuk makan malam.
Walaupun cuaca cerah di siang hari,
ketika saya sedang duduk di taman seberang Twin Tower hujan turun dengan
lebatnya. Saya berteduh di pondok kecil yang ada di taman itu bersama
orang-orang yang juga terjebak. Cukup lama saya menunggu disana sampai agak
hari gelap dan hujan jadi rintik-rintik sekitar jam 7 malam dan lampu di menara Petronas mulai menyala. Dan
lampunya bukan hanya putih seperti malam sebelumnya, tetapi ada 4 warna yaitu
merah, putih, hijau dan biru, seperti warna bendera Malaysia. Aduh cantik
sekali. Wah pas banget warna lampu menara berubah ketika saya disana. Jadi ada
pengalaman yang agak berbeda.
Karena hujan turun yang awalnya mau
makan malam di kafe outdoor dekat sana (supaya bisa sambil melihat Twin Tower) berubah
jadi malan malam di mall Suria KLCC. Oriental Kopi yang cukup viral itu penuh –
harus antri dulu, sehingga akhirnya kami memutuskan makan di Madam Kwan yang
ada di lantai yang sama. Ternyata ketika malam hari di depan mall ada
pertunjukan air mancur menari yang bagus sekali, senang masih bisa menikmati
beberapa lagu sebelum pertunjukan berakhir. Dengan perasaan senang dan puas
saya pulang ke hotel dengan naik monorel.
Esok paginya saya breakfast di kedai
kopi yang cukup terkenal di KL di daerah China Town, Ho Kow Hainam Kopitiam, yang sudah berdiri
sejak tahun 1956. Sebelum menuju ke sana saya lewat daerah China Town dan
foto-foto di mural yang intagramable. Dari China Town saya menuju Petaling
Street sekalian membeli oleh-oleh. Saya terpaksa menukar uang SGD saya menjadi
RM dan mendapat jumlah yang lumayan untuk beli oleh-oleh. Maklum deh biasanya
pake tap card aja jadi pas giliran harus bayar cash jadi panik karena kurang.
Puas belanja dengan
berjalan kaki lagi saya menuju hotel. Sempat ada kejadian memalukan saya jatuh
di deket stasiun MRT dan diliatin orang-orang. 😊 Untung gak apa-apa.
Sampai hotel, packing,
beres-beres, dan menuju ke KL Sentral dan menuju airport dengan naik KLIA
Express. Sebenernya bisa lebih murah
dengan naik bus, tapi saya mau yang cepat saja jadi pilih naik kereta ini.
Sampai di KLIA, saya
sempat makan dulu dan dapat ruang tunggu dengan interior yang ada banyak
muralnya. Perjalanan dengan pesawat AA lancar dan mendarat di Soekarno Hatta
Airport dengan selamat.


























































































No comments:
Post a Comment