Hari
ke 6 : Osaka
Hari ini saya memutuskan untuk jalan
sekitar Osaka saja supaya tidak terlalu capai. Rencana untuk ke Biwa Lake
dibatalkan. Jadi saya berkunjung ke icon kota Osaka yaitu Osaka Castle atau
Kastil Osaka.
Kastil Osaka sendiri adalah salah
satu landmark paling terkenal di Jepang dan memiliki peran penting dalam
penyatuan negara Jepang pada abad ke-16 selama periode Azuchi-Momoyama (sekitar
tahun 1568 sampai dengan tahun 1600). Dibangun sekitar akhir abad ke-16
oleh Hideyoshi Toyotomi yang merupakan pemersatu Jepang di masa itu. Perlu
waktu lebih dari 16 tahun untuk membangun kastil ini hingga selesai.
Bangunan utama Kastil Osaka saat ini
berupa sebuah museum dengan tinggi 55 meter dan 8 lantai yang memberikan
informasi mengenai sejarah kastil dan Toyotomi Hideyoshi. Taman Nishinomaru adalah sebuah taman yang mengelilingi Kastil Osaka. merupakan
salah satu tempat favorit untuk melakukan hanami (kegiatan menikmati indahnya
bunga sakura ketika sedang mekar)
Saya hanya menikmati Osaka Castle
dari luar saja dan foto di depannya. Duduk-duduk sebentar menikmati suasana
lalu melanjutkan perjalanan menuju lokasi selanjutnya Osaka Expo. Dalam
perjalanan menuju stasiun untuk menuju Osaka Expo saya melewati Gedung NHK (Nippon
Housou Kyokai) adalah stasiun penyiaran di Jepang dan Museum Sejarah Osaka
dimana di bagian depan gedungnya terdapat replika rumah tradisional Jepang.
Setelah menempuh perjalanan
menggunakan kereta menuju ke stasiun Yumeshima yang dibangun di pulau reklamasi
yang bernama Yumeshima tempat diselenggarakannya Osaka Expo. Ketika keluar
stasiun suasana ramai langsung terasa. Pemandangan antrian yang mengular tampak
di depan mata. Ada rombonga anak sekolah di beberapa bagian dan antrian
pengunjung di bagian lain. Semuanya teratur rapi. Saya tidak berniat masuk ke
Expo karena harga karcisnya cukup lumayan jadi memutuskan untuk bertanya apakah
ada bagian dari Expo yang bisa dilihat tanpa karcis yang ternyata tidak ada.
Sebenarnya jika kita membeli karcis setelah jam 6 sore mendapat harga diskon
tetapi saya memang tidak berniat untuk masuk sejak awal dan hendak membeli merchandisenya
saja. Tetapi merchandise juga tidak bisa dibeli di Expo ini melainkan dijual di
pop up store di Osaka City Station.
Osaka
Expo 2025 adalah acara internasional dengan tema utama “Designing Future
Society for Our Lives”. Pameran ini bertujuan
untuk menjawab tantangan global melalui inovasi dan kolaborasi lintas budaya. Expo
ini bukan cuma sekadar pameran biasa, tapi juga kesempatan untuk melihat masa
depan dan bagaimana teknologi serta kreativitas bisa membentuk kehidupan kita.
Diadakan setiap lima tahun sekali, World Expo sudah menjadi tradisi global
untuk berbagi ide-ide cemerlang dan solusi dari seluruh dunia. Osaka, yang
sebelumnya pernah jadi tuan rumah Expo pada 1970 kembali jadi tuan rumah di
tahun 2025 ini. Expo berlangsung dari tanggal 13 April hingga 13 Oktober 2025,
diikuti oleh lebih dari 160 negara dan organisasi internasional, menampilkan
pameran dan inovasi dari berbagai bidang. Pameran ini bertujuan untuk menjadi
laboratorium hidup bagi masyarakat global dalam merancang masa depan yang lebih
baik.
Setelah puas foto-foto di Osaka Expo
saya meneruskan perjalanan menuju ke Tempozan Ferish Wheel dan Tempozan Market
Place dimana di sini juga terdapat Legoland Discovery Center dan Osaka Aquarium
Kaiyukan. Osaka Aquarium Kaiyukan adalah salah satu akuarium terbesar dan
terbaik di dunia, menampilkan berbagai spesies laut dari Samudra Pasifik dan
wilayah lainnya dalam tampilan yang memukau dan edukatif. Saya makan siang di KFC yang ada di mall ini, sekalian pengen ngerasain KFC di Jepang. Rasanya biasa aja sih kayaknya lebih enak KFC di Indonesia, lebih gurih, mungkin karena micin. Hehe..
Pulangnya saya mampir ke Osaka City
Station untuk membeli merchandise Osaka Expo dan oleh-oleh juga untuk teman
kantor. Saya hanya membeli gantungan kunci dan tempat file yang lucu dengan
hiasan hello kitty dan maskot Osaka Expo.
Myaku-Myaku adalah maskot resmi Expo
2025 yang dirancang dengan wajah biru dan bola merah yang menyerupai mata.
Maskot ini melambangkan semangat kehidupan dan harapan untuk masa depan yang
lebih baik.
Di belakang gedung Osaka City
Station sedang ada pertandingan sepak bola mini wanita dimana pesertanya adalah
para tuna netra yang dalam pertandingannya dibantu oleh para pemandu. Saya
sempat beberapa saat melihat pertandingan tersebut sebelum memutuskan untuk
pulang ke penginapan.
Hari ke 7 : Minoh National Park –
Ikeda, Osaka
Setelah memutuskan untuk merubah
itinerary dan batal ke Biwa Lake saya menemukan lokasi baru yang cukup seru supaya bisa
sekalian hiking. Tempat tersebut adalah Minoh Nastional Park dimana disana
terdapat air terjun yang cukup bagus. Perjalanan dari kota Osaka menuju Minoh Station sekitar 30 menit. Walaupun
pagi itu mendung dan hujan turun rintik-rintik saya tetap semangat untuk jalan
kesana.
Setelah turun di Minoh Station dengan
mengandalkan google map saya mengikuti jalan menuju ke air terjun. Menurut
informasi yang saya dapat perjalanan pulang pergi sejauh 5km, cukup lumayan
untuk hiking pagi. Mengikuti jalan yang sudah bagus dengan hutan yang cukup
lebat di kiri kanan dan suasana pagi yang mendung dengan hujan rintik sungguh
menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Beberapa rumah-rumah dengan gaya
tradisional Jepang menjadi selingan di perjalanan. Saya juga berjumpa dengan
beberapa ibu-ibu yang sudah tua sedang jalan pagi, ada pelari juga dan ada
seorang wanita muda yang sedang hamil juga sedang jalan pagi dan sendirian
pula. Sebenarnya pemandangan lebih bagus jika sedang musim gugur karena
daun-daun berubah menjadi gradasi kecoklatan. Jika musim semi daun-daun
mayoritas hijau saja.
Sesampai di air terjun hujan yang tadinya rintik-rintik berubah agak deras, beruntung ada seorang wanita yang masih mau membantu mengambilkan foto
sehingga mendapat hasil yang cukup bagus. Saya berteduh sebentar sampai hujan
agak berkurang dan langsung kembali lagi ke stasiun. Sebenarnya di jalan itu
ada jalan lain menuju ke kuil kecil, tapi saya tidak eksplore lebih jauh karena
sepi dan hujan juga. Tujuan utama hanya ke air terjun saja.
Minoh waterfall ini sudah terkenal
sejak periode Edo. Mempunyai sejarah panjang sebagai tempat spiritual sejak Era
Asuka (sekitar 1300 tahun lalu), menjadi lokasi meditasi pendiri Shugendo
En-no-Gyouja, dan kini menjadi taman nasional yang populer untuk menikmati
keindahan alam, terutama dedaunan musim gugur, dengan jalur pendakian yang
melewati Kuil Ryuanji dan museum serangga. Nama "Minoh" sendiri
berasal dari bentuk air terjun yang menyerupai alat penampi padi tradisional,
"minoh", mencerminkan hubungan eratnya dengan alam dan pertanian
Jepang kuno. Ditetapkan sebagai Taman Kuasi-nasional Meiji-no-mori Minoh pada tahun
1967, menjadikannya salah satu taman nasional tertua di Jepang yang mudah
diakses dari kota. Ada legenda tentang seorang utusan Tiongkok yang takut
melewati jalan curam dan kembali, sehingga batu di dekat air terjun dinamai
"Toujin Modori Iwa" (batu yang kembali dari kematian).
Sesampai di stasiun Minoh saya
istirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan menuju Cupnoodle Museum Ikeda. Pas sekali saya
mendapat info museum ini yang ternyata lokasinya masih satu arah dengan Minoh
Park. Cup Noodles Museum di Ikeda (Osaka, Jepang) adalah museum khusus mi
instan yang memperkenalkan sejarah dan perkembangan mi instan dari penemunya
yang bernama Momofuku Ando, menawarkan pengalaman interaktif seperti membuat
desain mi sendiri (My CUPNOODLES Factory), melihat terowongan 800 produk
Nissin, dan mempelajari inovasi mi instan dari seluruh dunia.
Di depan gedung museum ada patung
penemu mie instan dan di dalam museum juga ada diorama sejarah penemu mie
instant. Mi instan pertama di dunia, Chicken Ramen, diciptakan pada tahun 1958
oleh Momofuku Ando, pendiri Nissin Food Products. Gudang di mana Ando
mengabdikan dirinya untuk penelitian selama satu tahun tanpa henti dibangun
ulang secara detail. Pesan yang disampaikan adalah Anda tidak memerlukan
peralatan khusus untuk melakukan sesuatu yang hebat, jika Anda memiliki ide,
setiap orang memiliki kesempatan untuk menciptakan penemuan baru dengan
peralatan yang biasa saja (info dari google).
Tapi saya tidak ikut acara untuk
membuat mie instan sendiri dan setelah puas melihat isi museum saya melanjutkan
perjalanan lagi. Kali ini mampir ke kedai kecil di ujung jalan untuk makan
ramen instan Nissin ini sambil menunggu hujan agak reda.
Ikeda adalah kota pinggiran di
Prefektur Osaka, bagian dari wilayah metropolitan Kyoto-Osaka-Kobe. Kota ini
memiliki sejarah panjang, menjadi pusat bagi Klan Ikeda di masa lalu. Klan
Ikeda di Osaka merujuk pada Klan Ikeda yang pernah memerintah wilayah sekitar
Kota Ikeda di Prefektur Osaka pada periode Muromachi hingga Sengoku, dengan
Kastil Ikeda sebagai markas mereka, serta Kota Ikeda yang kini menjadi bagian
dari wilayah metropolitan Osaka, sebuah kota pinggiran yang bersejarah. Klan
ini adalah klan samurai terkemuka yang berasal dari Seiwa Genji dan memiliki
cabang-cabang daimyo (penguasa feodal) penting, seperti di Domain Tottori dan
Okayama.
Ikeda station sendiri adalah stasiun
kereta api bersejarah Hankyu Railway, yang juga menjadi kantor pusat Hankyu
Hanshin Holdings.
Hujan rintik-rintik masih terus
turun sampai saya Kembali ke penginapan. Tetapi karena ada titipan di GU saya
harus kesana sekalian jalan-jalan karena masih sore. Jadi saya menuju ke Mall
terdekat yaitu Miu Mall yang letaknya di dekat gedung Abeno Harukas. Abeno
Harukas sendiri merupakan gedung tertinggi di Osaka. Suasana sore itu sangat
ramai walaupun hujan masih turun. Di bagian jalan penghubung antar gedung
terdapat performing dari musisi jalanan yang banyak penontonnya. Seru sekali.
Saya juga ikut menonton beberapa saat.
Merk GU ini masih 1 grup dengan
Uniqlo dan terkenal dengan barangnya yang mempunyai kualitas setara Uniqlo
tetapi dengan harga yang lebih murah. Idaman banyak turis Indo kalau lagi
jalan-jalan di Jepang.
Setelah puas belanja saya segera
pulang dan mampir dulu di kombini untuk jajan seperti biasa.
Hari ke 8 – Osaka
Bangun pagi disambut dengan cuaca yang
mendung ketika saya membuka jendela agak lebar. Udara sejuk menyapa saya yang
masih sedikit mengantuk. Selama stay di hotel ini saya agak susah tidur, nggak
tau juga kenapa. Mungkin karena terlalu excited malah jadi susah tidur. Kalau karena
tidur sendirian sih kayaknya bukan. Untung kebantu dengan pil lelap dan cream
aromatherapy jadi tetap bisa tidur walau tidak terlalu nyenyak.
Pagi ini saya tetap semangat untuk
lari pagi walau cuaca mendung dan akhirnya gerimis ketika saya sudah sampai di
taman Tennoji. Saya berlari memutari taman yang ada danaunya dan bertemu dengan
beberapa ibu-ibu yang sedang membawa dogienya jalan-jalan. Lucu banget, para
dogie berkumpul seperti sedang arisan.
Saya melanjutkan lari lagi dan melewati gedung Osaka City Museum and Fine Arts dan akhirnya end up di taman depan Tennoji Zoo. Di taman ini ada tulisan OSAKA yang pas banget untuk foto. Saya cari Tennoji temple tapi gak nemu, hanya mendengar bunyi lonceng saja yang sepertinya dari temple itu. Ketika saya sedang berjalan ke depan taman yang menghadap jalan raya, hujan semakin deras. Saya terpaksa berteduh dulu di bagian taman yang ada atapnya bersama ibu-ibu yang sedang berlatih yoga. Bodohnya saya lupa membawa kartu SUICA jadi saya nggak bisa neduh di kafe yang ada di taman itu. Ketika hujan sudah agak reda saya nekat lari saja ke hotel daripada berdiam diri jadi tambah dingin. Kalau dipakai lari lumayan agak hangat. Di sini juga ada stadion futsal yang namanya Captain Tsubasa. Hehe..
Setelah sampai
hotel saya segera ganti baju dan pergi lagi ke onsen yang berupa public bath di
dekat Tsutenkaku Tower. Lokasinya tepat
berada di depan tower itu jadi strategis banget. Namanya Radium Onsen. Karena
ini sudah yang ke dua kalinya ke onsen saya sudah pengalaman dan tidak terlalu
canggung lagi.
![]() |
| Radium Onsen |
Sempat ngobrol dengan ibu-ibu asli
Jepang yang sudah selesai berendam ketika saya datang. Ngobrolnya pakai google
translate dan cukup lumayan nyambung juga. Ketika kedua belah pihak mengerti
kita berdua sama-sama tertawa lebar.
Hanya ada beberapa orang di ruangan
onsen dan mereka melihat saya dengan tatapan ingin tahu. Soalnya memang jarang
turis yang berendam di onsen public bath seperti ini. Ada ibu-ibu yang berusaha
kasih penjelasan mengenai bagian bak rendam yang airnya terlihat hitam. Tapi
karena beliau nyerocos pakai bahasa jepang saya hanya senyum saja. Sepertinya
mereka ingin memberi tahu kalau mau berendam di bak itu harus hati-hati karena
memang kolamnya dalam dan panas.
Di bagian luar ada kolam dimana kita
bisa berendam di udara terbuka. Enak banget setelah dingin kehujanan bisa berendam
di kolam air panas. Sekitar 1 jam saya berendam sampai puas, setelah itu saya mandi
dan ganti baju lalu melanjutkan perjalanan mencari tempat makan ramen halal yang
berlokasi di daerah Namba.
Saya berjalan kaki mengikuti map,
melewati daerah pertokoan jadul Shinsekai dan melewati jalan-jalan kecil yang
cukup sepi. Oh iya, di sekitar Shinsekai ini saya melihat kucing di Osaka untuk
pertama kalinya. Kalau dilihat dari bentuknya sih sepertinya dia ada yang punya
dan bukan stray cat. Berhasil saya foto 1x sebelum kabur naik ke atap sebuah
rumah dan tidak berhasil saya pegang.
Akhirnya sesuai arahan google map
saya sampai di sebuah bangunan kecil berlantai 4. Sempat bingung juga karena petunjuk
kurang jelas. Akhirnya baca di review di google dan mendapat info kalau ramen
berada di lantai 4. Ada lift kecil di gedung itu dan saya segera naik. Restaurant
berada tepat di depan lift, saya segera ketuk pintu dan dibuka oleh seorang
wanita mudah berhijab. Pas banget resto baru buka ketika saya datang, jadi saya
merupakan pelanggan pertama hari itu. Saya memesan ramen ayam dan gyoza untuk
dibawa pulang. Ternyata mbak itu adalah orang Indonesia. Dia bercerita kalau
resto itu pemiliknya adalah orang Indonesia dan Jepang. Mbak ini bekerja
sampingan di resto itu selama dia belajar bahasa di Jepang. Keren mbaknya, gigih
sekali mencapai cita-cita.
Ramen datang di mangkuk yang lumayan
besar dan rasanya enak sekali. Entah karena lapar dan lelah sehabis jalan kaki yang
menambah rasa ramen jadi lebih enak tapi memang ramen adalah salah satu comfort
food untuk saya. Mbaknya baik sekali, saya diberi oleh-oleh coklat dan saya tidak
perlu membayar Gyoza pesanan saya alias dikasih gratis. Duh senangnya. Semoga
sukses selalu ya.
Ketika saya sampai di penginapan
ternyata saya sakit perut. Aduh ini pasti karena masuk angin. Saya beberapa
kali ke toilet dan sebelum makin parah saya segera minum diatab. Sorenya saya pergi
ke Donquijote (Donki) untuk membeli oleh-oleh.
![]() |
| Kyocera Dome Osaka |
Hari
ke 9 (last day) Osaka
Sesuai
dengan itinerary yang disusun ketika sudah sampai di Osaka, pagi ini saya memutuskan
untuk pergi ke Universal Citywalk Osaka. Disini kita bisa
ikut merasakan keseruan Universal Studio dan masih bisa berfoto di depan bola dunia
Universal tanpa membeli tiket. Disini banyak terdapat resto serta toko souvenir
yang menjual pernak pernik tokoh kartun maskot Universal Studio. Lucu-lucu
banget souvenirnya, saya hampir tergoda untuk membeli tetapi langsung sadar
kalau itu hanya lapar mata.
Puas menikmati suasana Universal saya
segera melanjutkan perjalanan ke Namba Park. Namba Park ini adalah mall dimana terdapat
taman di rooftopnya yang memanjang dari lantai 2 hingga lantai 9 yang berbentuk
teras. Di lantai 8 terdapat amfiteater dengan kapasitas sekitar 200 orang, dan
lantai 9 memiliki taman bermain untuk anak-anak yang disebut "Harappa
Square" Dengan sekitar 500 jenis tanaman, banyak burung dan serangga yang
datang, menjadikannya tempat yang pas untuk menikmati tanaman dan bunga-bunga.
Karena berkunjung di musim semi hampir semua tempat di Osaka penuh dengan
bunga-bunga cantik yang menyejukkan mata.
Waktu semakin siang memaksa saya
untuk segera pulang untuk bersiap ke Airport. Dengan waktu yang tersisa saya
membeli makan siang dulu di kombini dekat hotel dan makan di depan warung kecil
bernama Konamon Bar Rikyu yang menjual pancake isi taro. Jadi saya pesan dessert
pancake ini supaya bisa numpang makan. Warung ini lokasinya di depan perempatan jalan
sehingga sambil makan saya bisa menikmati keramaian lalu lintas pinggiran kota
Osaka. Menikmati detik-detik terakhir liburan di Jepang yang menyenangkan. 9 hari
liburan harus berakhir dan saya segera naik kereta menuju Airport dari stasiun
Shin Imamiya. Perjalanan Osaka – Xiamen berjalan lancar.
Petualangan terakhir masih menanti saya
dimulai dari imigrasi Xiamen Airport. Karena transit 1 malam saya harus keluar
Airport dan stay di hotel dekat sana. Di imigrasi saya di interview dengan
beberapa pertanyaan. Mulai dari pengecekan tiket, alamat hotel tempat saya menginap,
foto-foto saya selama di Jepang, pekerjaan saya dan grup whatsapp kantor juga
di cek oleh mereka. Ketika sudah ok semua akhirnya saya bisa lewat dengan lega
dan bertukar pesan dengan penjemput saya dari hotel yang dilakukan melalui fitur
message di aplikasi Trip. Maklum di Cina kita tidak bisa menggunakan whatsapp dan
saya sudah mencoba untuk download aplikasi we chat tetapi gagal. Untungnya
masih bisa komunikasi lewat Trip ini, jadi aman.
Petunjuk yang diberikan olah penjemput
saya cukup detail dan mudah dimengerti sehingga saya bisa dijemput di tempat
yang benar dan tidak menunggu terlalu lama jemputan sudah datang. Memang letak
hotel ini tidak jauh, hanya sekitar 1,5 km saja. Sejak saya masuk mobil dan
sampai di hotel hanya memerlukan waktu 5 menit saja karena si koko ini
nyetirnya ngebut banget. Setelah memberi informasi mengenai waktu penjemputan
besok pagi si koko pergi dan saya segera beristirahat. Kamarnya cukup luas karena
ini sebenarnya adalah kamar apartemen studio. Jadi ada dapur kecil dan mesin
cuci juga selain AC dan TV. Not bad
untuk harga 200 ribu ditambah antar jemput. Si Koko nya juga baik dan informatif.
Lumayanlah untuk pengalaman pertama di negeri Cina. Walaupun tetep ada
deg-degannya karena sendirian.
Esok paginya ketika saya sedang
siap-siap si koko sudah datang menjemput. Aduh cepat juga ya datangnya jadi
saya segera beres-beres secepat kilat dan naik ke mobil dimana sudah ada 1 tamu
yang juga diantar. Si koko juga tetep ngebut tetapi saya masih bisa video
perjalanan dari hotel ke airport, lumayan untuk kenang-kenangan pernah ke Xiamen.
Diturunkan di depan airport saya bertanya tempat keberangkatan internasional
yang ternyata baru buka jam 6 pagi. Saya datang jam 5.40 jadi harus antri menunggu
bersama orang-orang di depan pintu keberangkatan internasional.
Memang Xiamen Gaoqi ini airport
kecil jadi kalau malam airport tutup itu yang menyebabkan saya harus pesan
hotel karena tidak bisa menginap di Airport.
Tepat jam 6 pagi pintu keberangkatan
Internasional dibuka, saya segera antri di depan loket Xiamen Airlines untuk check
in. Perjalanan ke Jakarta berjalan lancar dan berakhirlah solo traveling saya ke
Jepang tahun ini di Terminal 3 Soekarno Hatta Airport. Senang sekali perjalanan
lancar tanpa hambatan dengan banyak sekali pengalaman menarik dan pastinya
tidak terlupakan.
Next
time liburan ke negara mana lagi ya?
.



































































































































