Wednesday 14 November 2007

Back To Madiun




Ini cerita yang udah lama tapi baru sempet diposting. Lebaran yang lalu, karena libur Lebaran yang lumayan lama, dari tanggal 7 Oktober saya sudah berangkat mudik ke Madiun. Saya berempat dengan Raiyan, Papa dan Mama, berangkat dengan pesawat Sriwijaya Air tujuan Solo. Dari Solo kami dijemput oleh om dan tante baru menuju ke Madiun dengan jarak tempuh sekitar 2 jam-an. Pesawat mengalami delay hampir 1 jam dan akhirnya sampai di Madiun sekitar jam 3 sore. Akhirnya, saya tiba juga di rumah eyang tercinta setelah hampir 10 tahun saya tidak ke Madiun. Ternyata kotanya sudah cukup banyak berubah, sudah ada mall baru dan banyak tempat makan baru. Bahkan Mbak Jingkrak-pun buka cabang di Madiun. Untuk transportasi kemana-mana saya selalu naik becak. Kota Madiun merupakan kota kecil tapi bersih dan rapi, khas kota kecil di Jawa. Rumah eyang cukup strategis di pusat kota dan dekat dengan RSUD Madiun, jadi kalau pas sahur tidak ada lauk tinggal jalan sedikit udah ada tukang jualan pecel beserta lauk pauknya.

Sebelum berangkat saya sudah menyiapkan daftar tempat-tempat makan yang direkomendasikan teman-teman di milis Jalansutra. Dari hari pertama sampai, begitu buka puasa, saya dan mama langsung berburu makanan.
Tempat makan pertama yang dicoba adalah Gado-Gado Pak Tomo, di Jalan Biliton. Warung makan model jaman dulu dengan banyak kalender di dindingnya. Modelnya gado-gadonya adalah gado-gado siram yang bumbunya coklat kekuningan. Rasanya agak manis. Menu lain adalah kupat tahu yang kuahnya pakai petis. Dua-duanya enak. Harga Rp 9000,- per porsi.

Berikutnya, kami mencoba pecel Bu Murni, Jl. H Agus Salim. Pecelnya enak, bumbunya pas. Tapi sewaktu datang ke sana warungnya agak sepi
Dua nasi pecel berikutnya yang saya coba adalah nasi Pecel S Wirjo di Jl. Cokroaminoto. Ini masih termasuk saudara. Besannya eyang, saya memanggilnya Eyang Mingan. Konon kabarnya dulu pecel ini lumayan terkenal di Madiun tapi karena tidak ada proses regenerasi jadi tidak terlalu laris lagi sekarang. Sewaktu kami ke sana, membeli nasi pecel untuk dibungkus sebanyak 15 porsi, ternyata nasinya hanya cukup untuk 13 porsi, jadi sewaktu ada pembeli lain yang datang terpaksa ditolak karena nasi sudah habis. Menurut eyang, masak nasinya emang pas-pasan karena pembelinya tidak terlalu banyak. Yang melayani eyang Mingan sendiri yang sudah sepuh jadi ya…lambreta. So, karena sudah lapar, saya makan pecelnya dibecak dalam perjalanan pulang.
Pecel lain yang saya coba adalah pecel Yu Gembrot di Pasar Besi, Jalan Imam Bonjol. Sewaktu kesana rumah makan ini penuh banget. Maklum, udah deket-deket Lebaran, jadi orang-orang yang mudik udah pada dateng. Yang paling asyik di sini lauk gorengannya lengkap, ada empal, paru, dan lain-lain termasuk kesukaan saya otak goreng. Hmm….enak deh, makan nasi pecel pake otak goreng.

Di Madiun ini saya juga sempat mencoba sate Kuda di kompleks PLN, Manisrejo. Lokasinya rumah biasa di perumahan Manisrejo. Ada spanduk dengan gambar kuda dan tulisan Sate Kuda. Rasanya…mirip-mirip sate kambing, tapi dagingnya lebih alot. Mungkin karena saya makannya ketika sudah dingin. Maklum, tante saya yang rumahnya dekat dengan tempat makan ini sudah datang duluan dan sudah pesan sewaktu om saya jemput ke rumah eyang. Alhasil, pas saya datang sudah dingin. Cukup deh, sekali aja saya makan. O iya, di trans tv saya pernah liat proses pemotongan kuda sewaktu dagingnya akan dijadikan sate (ini di kota Semarang). Keterlaluan banget, kok tega-teganya, proses pemotongan kuda di siarin di TV. Kalo inget saya pernah makan satenya jadi nyesel.
Makanan lain yang saya coba adalah Soto Kondang di Jalan Cokroaminoto. Soto kuah bening yang dihidangkan di piring bukan di mangkok seperti biasanya. Campurannya standar, toge, telur dan soun. Rasanya gurih dan segar.
Saya juga sempat beli putu di ujung jalan Bali, putunya besar-besar, taburannya kelapa yang dikasih gula halus. Enak banget. Harganya Rp 5000,- 4 buah putu. Selain itu saya juga nyoba beli cemoe. Bingung juga sewaktu lihat di pinggir jalan, ada warung dengan tulisan : sedia ronde dan cemoe. Eh ternyata, cemoe ini sama seperti wedang ronde tapi isiannya terdiri dari ketan, roti dan kacang hijau.
Hari terakhir di Madiun, saya dibelikan adik saya rujak cingur. Aduh, ternyata, saya tidak cocok dengan petisnya. Jadi saya nggak bisa makan, cuma makan cingur dua potong dan beberapa potong tahu, abis itu nyerah deh….
Hari Sabtunya, sewaktu Lebaran pertama, sesudah sholat Ied, kami, saya, si kecil dan suami (yang menyusul ke Madiun hari Jumat) dengan Travel menuju Surabaya untuk kemudian terbang ke Makassar.




11 comments:

  1. wah, kok ga ketemu ya mbak ? hihi ...
    pecel murni, yg punya teman smu ... bisa makan gratis sepuasnya :))

    ReplyDelete
  2. pecel madiun wemang muuuuaaannntttaaappppp............ !!!

    ReplyDelete
  3. uhh..sate kuda bikin panas badan kan?

    ReplyDelete
  4. Waduh...
    iki..
    menjadi pengen pulang lagi nih...
    kumpul ama anak anak SMUDA, SH TERATE, Trus ke sarangan..
    :((... rindu masa masa indah

    ReplyDelete
  5. waduh..gado gado pak Tomo, jadi inget di taon 1996-1998, waktu itu msh SMU....Biliton 24, tempat dimana pesta " duka cita " terjadi alias pesta karena ditolak cinta.....he..he...waktu itu ada Dahlan, Azaz, Oce, dll....ditolak cinta malah pesta " duka cita "...

    ReplyDelete
  6. kamu gak bilang2 sih kalo ke madiun juga....kapan ke sana lagi...

    ReplyDelete
  7. lebaran kemarin pulang kampung nggak?

    ReplyDelete