Friday, 3 July 2026

Weekend Trip to Banyuwangi

Saya sudah janji dengan teman kantor yang kampung halamannya di Banyuwangi, kalau dia menikah nanti saya akan datang. Biasa, ini alasan untuk sekalian jalan-jalan. Seperti sebelumnya sewaktu ada teman kantor yang menikah di Solo dan Sragen saya juga datang. Sebelumnya saya sudah pernah ke Banyuwangi, ikut open trip ke kawah ijen, snorkeling di taman nasional Bali Barat dan Taman Nasional Baluran. Jalan-jalan di kotanya malah belum pernah dan inilah waktu yang tepat. Ketika sudah menerima undangan saya segera pesan tiket kereta ke Banyuwangi, saat ini sudah ada kereta yang langsung kesana, keberangkatan dari Stasiun Pasar Senen, nama keretanya Kereta Blambangan Express, merupakan kereta dengan jarak terjauh se Indonesia, dengan waktu perjalanan sekitar 13 jam. Lama banget ya. Harga tiket sekitar 500 ribu utk kelas ekonomi tapi dengan kursi yang sudah model baru dengan sandaran yang bisa disetel bukan yang model sandaran tegak. Tetapi karena sudah niat jalan-jalan jadi ya seneng aja sih walau di jalan bakal lama. Saya membeli tiket pp berangkat hari kamis siang, sampai Banyuwangi hari Jumat subuh – acara kawinannya Jumat sore, menginap semalam dan pulang hari Sabtu sore. Untuk hotel saya memilih hotel bernuansa villa yang sepertinya hotel lama, yaitu Mirah Hotel and Resort Banyuwangi. Sengaja pilih hotel yang model villa gini supaya beda dengan hotel sebelumnya yang selalu di bangunan modern.
Perjalanan ke Banyunwangi dimulai dari Stasiun Pasar Senen dengan kereta Blambangan Express, perjalanan lancar di jalur kereta paling jauh se Indonesia ini. Sampai di Banyuwangi sekitar jam 5 pagi dan saya berjalan keluar stasiun mencari transportasi ke hotel. Sampai di luar stasiun saya bertemu dengan tukang becak yang sedang menunggu penumpang. Tanpa pikir panjang saya langsung menerima tawarannya untuk naik becak. Perjalanan menuju hotel melewati pelabuhan penyeberangan Gilimanuk yang terlihat sangat bagus saat sunrise. Sampai di hotel saya meminta untuk bisa check in segera dan ternyata bisa dengan membayar Rp 100.000,- Siplah. Lumayan bisa istirahat dulu. Setelah ganti baju saya sempatkan ngopi dan duduk menikmati halaman hotel yang hijau, setelah itu menuju ke lokasi sarapan dengan menu makanan tradisional bernama Sego Cawuk di dekat alun-alun. Untuk transportasi saya memakai ojek online seperti biasa. Akhirnya sampai juga di lokasi tempat sarapan sego cawuk di Warung Osing 0 Kilometer, di Jalan Kalimas, yang direkomendasikan oleh teman saya Lik Benyus yang asli wong Banyuwangi. Sego Cawuk ini tidak bakal ditemukan di tempat lain selain di Banyuwangi, jadi harus di coba ya ges. Sego (nasi) Cawuk adalah hidangan sarapan tradisional khas Banyuwangi, Jawa Timur, yang terdiri dari nasi putih dengan kuah khas berbahan parutan kelapa muda, serutan jagung bakar, dan kuah pindang. Nama "cawuk" berasal dari kebiasaan Suku Osing yang menyantap makanan ini langsung menggunakan tangan (dicawuk).
Perpaduan rasa yang unik dan kuah yang segar dan ringan menambah selera makan saya pagi itu. Di warung ini si ibu juga menjual aneka jajanan pasar jadi saya sekalian membelinya. Saya juga sempat ngobrol dengan ibu penjualnya yang menanyakan dalam rangka apa saya ke Banyuwangi dan kenapa sendiri. Jadi saya cerita dalam rangka menghadiri kawinan teman kantor. Karena lokasi jauh dan sedang sibuk, saya lah yang mewakili teman-teman kantor untuk menghadiri undangan tersebut. Pastinya sekalian jalan-jalan, Bu. Setelah kenyang saya melanjutkan perjalanan menuju instalasi seni Lorong Bambu yang berada di jalan Veteran, di depan Gedung Seni dan Budaya. Lokasi tersebut bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari warung Sego Cawuk. Instalasi Lorong Bambu ini konon dirancang oleh seniman asal Yogyakarta.
Sesampainya di Lorong Bambu saya berfoto ria dan melanjutkan perjalanan ke Taman Sritanjung dan Taman Blambangan serta melewati alun-alun Banyuwangi serta rumah dinas Bupati Banyuwangi yang bernama Sabha Swagata. Di Taman Sritanjung terdapat air mancur dan ada kucing juga disana, jadi saya sempat berhenti sejenak memberi makan kucing yang diperhatikan oleh seorang bapak-bapak yang menegur saya, suka kucing ya...
Setelah puas foto-foto dengan tulisan latar Banyuwangi, saya segera kembali menuju hotel untuk istirahat dan bersiap-siap karena acara pesta pernikahan adalah jam 4 sore. Sekitar jam 3 saya berangkat ke lokasi acara di hotel Luminor, Banyuwangi. Lokasinya tidak jauh dari hotel, hanya berjarak sekitar 2 km. Sampai di hotel Luminor saya bergegas naik lift menuju lokasi acara yang berada di lantai paling atas alias di rooftop. Saya keluar lift, mengisi buku tamu dan diarahkan ke tempat acara. Sepertinya baru saya saja tamu yang datang, yang lain keluarga dari pengantin. Pemandangan dari tempat resepsi sangat memanjakan mata, rooftop dengan dua pemandangan sekaligus, pemandangan lautan lepas di satu sisi dan pemandangan perbukitan hijau di sisi yang lain. Saya sibuk foto-foto sambil menunggu acara dimulai. Akhirnya saat yang ditunggu tiba, mempelai memasuki ruangan dengan diiringi musik dan naik ke atas pelaminan. Teman saya, Yunika, terlihat cantik dan manglingi. Saya juga foto dan video untuk di share di grup kantor. Selamat menempuh hidup baru Yunika dan Suami, semoga langgeng dan bahagia selalu.
Setelah rangkaian acara selesai, tamu-tamu dipersilakan untuk menikmati hidangan dan saya ternyata duduk bersama dengan tamu-tamu dari mempelai pria dan akhirnya kami mengobrol karena sama-sama dari Jakarta. Hujan sempat turun rintik-rintik ketika matahari mulai tenggelam, sehingga kami semua masuk ke ruangan hotel untuk berteduh. Karena acara juga sudah selesai, saya segera pamit dan kembali ke hotel. Saya pamit ke Yunika dan suami, ngobrol sebentar dan segera balik ke hotel. Hujan sudah berhenti, jadi saya naik Gojek aja supaya cepat. Sampai hotel ganti baju, pesan ojek online lagi untuk menuju ke Pantai Boom. Karena besok sudah kembali ke Jakarta tidak ada waktu lagi untuk ke Pantai Boom selain malam ini dan memang disarankan untuk ke Pantai Boom saat malam hari karena ada jembatan dengan lampu yang berwarna warni. Jalan menuju ke Pantai Boom ternyata sepi, wajar saja sih karena habis hujan pasti membuat pengunjung malas keluar rumah. Bapak ojol menurunkan saya di suatu tempat batas ojek online boleh menurunkan penumpang dan saya segera berjalan mencari jembatan pantai Boom. Akhirnya sampai juga saya di jembatan tersebut yang memang cukup meriah dengan warna warni lampu seperti pelangi. Saya membuat foto dan video disana dan berjalan sampai ujung jembatan.
Karena malam, pemandangan pantai ke arah laut tidak kelihatan apa-apa, jadi center of pointnya ya jembatan Boom itu. Tak disangka di ujung jembatan ada wahana hantu dan ada pocong jadi-jadian yang sedang diajak foto bersama pengunjung. Hahaha.. ada-ada aja. Saya sempat ngobrol dengan pengunjung yang tadi foto sama pocong dan bilang kalau wahananya lumayan seram. Ih jadi inget film Agak Laen. Untungnya saya bukan penakut jadi ya biasa aja liat tu pocong di tengah kegelapan. Setelah puas foto-foto di jembatan (bukan foto sama pocong), saya minta tolong mbak yang tadi ngobrol sama saya untuk bantu foto, saya segera pesan ojol untuk pulang ke hotel. Untung saya cepat dapat driver, karena lokasinya yang agak masuk ke dalam. Alhamdulillah selamat sampai di kamar hotel. Sebenarnya saya sudah terbiasa tidur sendiri di hotel. Tetapi kamar hotel ini lebih besar dari kamar hotel biasa dengan kamar mandi yang agak masuk ke dalam jadi lumayan bikin kepikiran, takut ada sesuatu yang tiba-tiba muncul. Jadi malamnya sama tidur dengan lampu menyala. TV ada tetapi hanya bisa 1 channel dengan siaran lagu-lagu dangdut koplo, jadi saya matikan saja. Untuk membantu supaya cepat tidur saya minum tablet andalan Lelap. Sukses tidur sampai pagi tanpa ada gangguan. Pagi hari sesuai rencana saya jalan pagi menuju pantai terdekat yaitu pantai Klatak, disana saya duduk-duduk menikmati suasana pagi di pantai. Balik ke hotel saya sempatkan untuk berenang dan setelah itu sarapan pagi.
Setelah sarapan dan check out (titip koper di resepsionis) dengan menggunakan ojek online saya menuju ke Desa Wisata Osing di Kemiren. Driver ojek online yang saya tumpangi adalah anak muda yang menawarkan untuk menunggu saya menikmati desa tersebut supaya saya bisa pulang lagi ke kota dengan mudah. Karena lokasinya yang di pinggir kota pastinya susah mendapat ojek lagi untuk pulang. Di kafe tersebut saya menemukan brosur dengan no telepon dan saya menghubungi nomor tersebut melalui wa. Sambil menunggu jawaban, saya melihat rumah-rumah yang terlihat sepi. Disana juga ada semacam aula dengan beberapa perabot tradisional. Saya mendapat jawaban di wa dari pengurus desa wisata tersebut dimana kalau tidak ada rombongan yang datang maka di desa tersebut tidak ada kegiatan. Jadi memang khusus untuk rombongan baru ada penampilan tari-tarian dan makanan tradisional.
Desa Kemiren berasal dari kata kemiri dan duren. Desa Kemiren dihuni oleh masyarakat suka Osing yang merupakan suku asli Banyuwangi atau Sisa Masyarakat Blambangan. Kepala desa yang pertama bernama Walik yang pertama menjabat pada tahun 1657. Desa Kemiren dihuni oleh penduduk suku Osing yang masih menjaga tradisi adat sejak dulu. Saya memang tidak mencari info lebih detail sebelum datang ke desa Kemiren ini jadi cukup puas walau hanya bisa melihat keadaan desa tanpa ada keramaian. Setelah menikmati desa Kemiren saya segera pulang kembali ke kota dan diantar oleh driver ojek online menuju Museum Blambangan yang ternyata tutup. Yah, penonton kecewa deh. Jadi saya hanya bisa menikmati kereta Kyai Raja Peni yang ada di luar museum serta bagian museum berupa aula yang ada boneka dengan baju adat khas Banyuwangi.
Setelah itu saya berjalan mencari tempat makan yang menjual rujak soto dan akhirnya berhasil menemukan lokasinya setelah bertanya ke penduduk sekitar. Ibu penjual rujak soto ini berada di halaman sebuah rumah dan dengan cekatan meracik rujak soto dan tanpa menunggu lama, semangkuk rujak soto telah terhidang di depan saya.
Rujak Soto adalah kuliner khas Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Makanan ini merupakan perpaduan unik antara rujak sayur dengan soto daging sapi atau babat. Cita rasanya adalah gabungan dari rasa segar, pedas, manis dari bumbu kacang dan petis, yang disiram dengan kuah soto gurih dan hangat. Bagian rujaknya terdiri dari sayur kangkung, toge rebus, tahu, tempe dan lontong yang diulek bersama bumbu kacang, cabai, gula merah, dan petis. Kuah sotonya berwarna kuning dengan isian potongan daging sapi, babat, atau jeroan lainnya. Saya berusaha menikmati rujak soto disetiap suapan tetapi sepertinya saya tidak cocok dengan makanan ini. Walapun tidak suka tetapi saya masih bisa memakannya sampai habis. Efek lapar juga karena sudah jalan-jalan dari pagi. Hehe.. Setelah itu saya memutuskan untuk menghabiskan waktu sambil menunggu kereta pulang ke Jakarta di Dialoog Hotel.
Wah, hotelnya keren sekali, puas sekali saya menikmati pemandangan pantai selat Bali dengan latar belakang pegunungan. Pemandangan paling spektakuler di trip saya tahun 2025. Walaupun trip kemarin saya ke pantai di Jepang tapi pantai di Indonesia lebih cantik. Saya menikmati kopi dan camilan yang saya pesan di restaurant di sebelah infinity pool, sambil menikmati pemandangan pantai yang luar biasa. Tak terasa waktu terus berjalan dan sampailah saatnya tiba untuk pulang ke Jakarta. Oh iya, ada fenomena unik ketika berada di sini, jam saya tiba-tiba bisa berubah ke waktu indonesia tengah karena berada di perbatasan dengan pulau Bali. Sempat panik karena takut salah jam dan ketinggalan kereta. Untunglah ketika saya di resto jam normal kembali. Jam sempat berubah karena saya jalan-jalan ke pantainya.
Dengan taksi online saya menuju ke stasiun kereta api dengan mampir dulu ke hotel untuk mengambil koper. Sampai di stasiun kereta belum datang jadi bisa foto-foto dulu di stasiun Banyuwangi yang merupakan stasiun paling ujung di pulau Jawa. Sungguh perjalanan yang sangat berkesan sebagai penutup tahun 2025.

No comments:

Post a Comment