![]() |
sunrise gili lawa |
Subuh
telah tiba. Suasana di kapal mulai sibuk dengan satu kegiatan, antri kamar
mandi untuk membersihkan diri dan gosok gigi serta sholat. Yang belum kebagian
giliran duduk menikmati udara pagi yang dingin sambil minum kopi dan makan roti
yang sudah tersedia. Roti tawar dengan aneka selai disediakan untuk sekedar
pengganjal perut sebelum kami memulai aktivitas pagi dengan mendaki bukit di
Pulau Gili Lawa untuk menyaksikan sunrise. Kali ini kami mendaki bukit yang
berbeda letaknya dengan kemarin.
Jalan
menanjak yang kami lalui sepertinya lebih terjal dari kemarin tetapi akhirnya
sampai juga kami di atas. Jangan lupa membawa minum karena tenaga lumayan
terkuras sesampai di atas. Kejadian itu menimpa saya, ketika ubek-ubek tas,
saya nggak nemu botol minum satupun. Terpaksa deh minta sedikit minum ke
teman-teman.
Dengan
takjub kami semua menikmati detik-detik matahari terbit dari atas bukit. Dari
yang awalnya matahari bersinar malu-malu sampai akhirnya panas mulai menyengat,
kami tetap menikmatinya sambil berfoto ria. Pemandangan di Gili Lawa ini memang bagus dan tiada tara. Selain
pemandangan laut, kami foto-foto dengan
pemandangan bukit dengan rumputnya yang berwarna coklat. Duh, pokoknya keren
banget.
Setelah
puas menikmati sunrise, kami kembali ke
kapal untuk menikmati sarapan nasi goreng dengan telur mata sapi yang sudah
disiapkan. Nikmat banget makan nasi goreng setelah lelah mendaki. Pokoknya,
selama perjalanan ini semua makanan yang dihidangkan selalu enak.
Sambil
makan kapal kembali berlayar menuju Manta Point untuk melakukan snorkeling.
Tetapi menurut tour guide kami karena saat ini arus bawah laut sangat kencang,
maka pari manta sulit ditemukan, sehingga kami hanya berhenti sebentar di area
Manta Point dan beberapa dari kami yang berminat bisa turun ke pulau Taka
Makassar untuk foto-foto.
Taka
Makassar ini adalah pulau pasir yang
menyembul ke daratan. Di pulau ini kita
bisa menghabiskan waktu dengan berenang dan snorkeling. Saya termasuk rombongan yang menunggu di kapal
karena destinasi berikutnya adalah Pink Beach, dimana kami akan snorkeling disana.
Jadi setelah rombongan yang foto-foto di Taka Makassar kembali, kami semua menyiapkan diri untuk Pink Beach yang spektakuler itu.
![]() |
taka makassar |
Tiba
di Pink Beach, bagi yang berminat bisa ikut snorkeling dan menikmati alam bawah
laut sekitar pantai yang bagus. Tapi sayang karena arus deras maka ikan-ikan
banyak yang menuju ke laut yang lebih dalam, sehingga kami gagal menikmati
keindahan bawah laut pantai Pink ini. Kami hanya menikmati pantai dengan
leyeh-leyeh dan mengagumi pasir pantai yang berwarna pink. Warna pink di pasir
pantai berasal dari adanya
hewan mikroskopik bernama foraminifera yang memproduksi warna merah atau pink
terang pada terumbu karang. Tetapi ada juga yang menyebutnya berasal
dari pecahan karang berwarna merah. Apapun itu semuanya membuat pantai ini unik
dan merupakan salah satu dari 7 pantai di dunia yang pasirnya berwarna pink.
Keren ya..
![]() |
pink beach |
Setelah puas menikmati pantai, kami kembali ke kapal untuk menikmati
makan siang dan setelah itu tour guide membawa kami ke bagian laut yang masih
di area dekat pink beach dengan pantainya yang bernama pantai Namo. Saya dan
dua teman yang belum snorkeling di kesempatan pertama akhirnya bisa menikmati
juga keindahan bawah laut taman nasional Komodo. Ikan-ikan berwarna warni dapat
dinikmati dengan leluasa karena airnya sangat jernih. Terumbu karangnya juga
beraneka ragam. Semuanya sungguh luar biasa indahnya yang membuat saya tidak
putus mengucap syukur kepada Tuhan.
Setelah puas snorkeling kami berenang menuju pantai Namo untu
beristirahat sejenak dan foto-foto.
Pasir di pantai ini juga berwarna
pink loh. Rasanya nggak mau balik ke kapal deh. Tetapi karena hari semakin sore
akhirnya kami balik juga ke kapal. Di kapal saya segera mandi dan bersiap-siap
karena kapal akan berlabuh di satu-satunya desa yang ada di Pulau Komodo yaitu
Desa Komodo.
Desa Komodo merupakan
salah satu desa yang terpencil lantaran letak wilayah geografisnya berada di
pulau paling luar dari Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Desa
yang berpenduduk 1500 jiwa itu memang satu-satunya desa yang ada di taman
nasional Komodo dan berada di Pulau Komodo. Secara fisik, masyarakat Suku
Komodo memang berbeda dari suku-suku lain seperti Manggarai, Flores, Bugis atau
Bima. Kulit orang Suku Komodo terlihat lebih cerah ketimbang masyarakat Flores
yang berkulit lebih gelap. Bahasa yang digunakan pun berbeda, baik dari sisi
logat hingga perbendaharaan kata. Hal ini unik, karena secara teritorial mereka
bermukim dalam satu wilayah administrasi yang sama. Di Desa Komodo, Suku Komodo
menjadi suku mayoritas penghuni desa. Sementara itu, sisanya adalah peranakan
Bugis atau Bima. Rata-rata penduduk di sini berprofesi sebagai nelayan. Ada
pula yang bekerja sebagai pemahat dan perajin suvenir kayu khas Pulau Komodo.
Desa Komodo hanya memiliki satu SD dan satu SMP. Jika ingin meneruskan sekolah,
mereka harus melanjutkan pendidikan ke sekolah-sekolah yang ada di Labuan Bajo.
![]() |
Desa Komodo |
Kami berjalan kaki
menyusuri desa dan berinteraksi dengan penduduk. Banyak anak-anak yang sedang
bermain dan ketika bedug maghrib terdengar kami juga ikut sholat di masjid
disana.
Hari sudah gelap ketika
kami sampai di kapal dan tidak terlalu
lama menunggu, makan malam sudah
siap untuk dinikmati.
Satu malam lagi saya
habiskan di laut. Rasanya tidak ingin liburan ini berakhir.
No comments:
Post a Comment