Setiap tahun saya selalu menjadwalkan mengikuti 1 lomba Trail Run di luar kota. Setelah melihat-lihat di sosmed, saya tertarik mengikuti lomba trail di G Muria, Kudus. Selain karena ada yang berjarak 15 km dengan COT 7 jam, sehingga cukup santai, saya juga belum pernah ke Kudus, jadi bisa sekalian jalan-jalan. Di Kudus juga ada teman yang tinggal di sana jadi bisa menemani jalan-jalan.
Awal daftar saya mendapat harga early bird, lumayan
terjangkau untuk ukuran race trail pada umumnya, mungkin karena race ini baru
pertama kali diadakan (setelah race terakhirnya sebelum pandemi). Sebenarnya saya agak ragu dengan EO nya, tapi
setelah saya kirim pesan melalui Instagram sepertinya OK. Saya juga bertanya ke
teman-teman pelari trail lain dan sepertinya tidak ada masalah.
Setelah sekitar 1 bulan berlalu dari awal pendaftaran
saya mendapat info kalau race ini akan
mendapat 1 poin ITRA (International Train Running Association) dan UTMB (Ultra
Trail du Mont Blanc) jadi untuk rute harus sesuai dengan pedoman dari ITRA dan
UTMB tersebut dan cot nya berubah jadi 6 jam. Aduh, saya jadi agak stress nih,
bisa nggak ya saya finish under cot, mana EGnya sekitar 1000 m. Bisa tuker kategori menjadi 7K sih, tapi
waktu tahun lalu saya ikut UGM trail run 7 km itu terlalu dekat dan kurang menantang.
Jadi saya bertekad untuk tetap ikut kategori 15K dengan latihan lebih intens
ditambah latihan strength training. Saya ikut latihan bersama Idea Strength
Camp 1x seminggu. Untuk long run ditambah jadi lebih dari 10 km tapi itu saja
cuma beberapa kali sampai 13-14 km, selebihnya sekitar 10km aja. Huhu..kadang
masih males nih. Saya juga beberapa kali latihan ke Sentul tapi sepertinya agak
kurang jadi sebelum hari H saya latihan di bukit GBK, turun naik berkali-kali. Oh iya, kalo pas CFD saya rutenya juga
muter-muter di semanggi dan simpang susun untuk berlatih di rute menanjak.
Untuk jalan-jalannya, saya menghubungi Lia, teman
saya yang tinggal di Kudus untuk membantu mencari penginapan di dekat start, Graha
Muria, Colo, Kudus. Oleh Lia saya di pesankan kamar di Guest House milik
temannya Guest House Kopi Montel yang lokasinya tidak jauh dari Start hanya
sekitar 200m. Untuk di kota Kudus, saya
juga tinggal di guest house yang sudah di pesan oleh Lia, lokasinya tidak
terlalu jauh dari Museum Kretek di daerah Getas, Pejaten, Kudus. Jadi untuk
penginapan sudah aman.
Transportasi ke Kudus saya memakai kereta api ke
Semarang dilanjut travel ke Kudus dan pulangnya saya naik sleeper bus dari
Kudus.
![]() |
| Stasiun Semarang |
![]() |
| Stasiun Semarang |
Akhirnya hari H tiba juga, tanggal 22 Agustus 2025, saya naik kereta malam dari
Stasiun Pasar Senen dengan tujuan akhir di Stasiun Tawang, Semarang pada pagi
hari, lanjut ke Kudus dengan menggunakan travel. Saya dan Lia janjian di
pemberhentian di sebuah pom bensin dan
setelah menunggu beberapa saat, teman saya Lia menjemput dengan menggunakan
motor. Dari sana kami langsung menuju ke guest house untuk meletakkan tas dan
langsung menuju ke daerah Pasar Lentog, disana banyak warung yang semuanya
menjual menu makanan khas kudus yang cocok untuk sarapan, Lentog Tanjung. Lentog
Tanjung adalah kuliner khas Kudus yang terdiri dari lontong (disebut lentog di
Kudus) dengan sayur nangka muda (gori), sayur lodeh tahu tempe, kuah santan,
serta taburan bawang goreng, sering dinikmati sebagai sarapan dengan pelengkap
sate-satean dan kerupuk.
![]() |
| Lentog Tanjung yg enak |
Lia memilih salah satu warung disana dan segera
memesan 2 porsi lentog. Hmm, suapan pertama rasanya mirip sayur nangka, tetapi kuahnya
lebih ringan, ada sedikit rasa manis dan gurih yang saling melengkapi. Cara penyajiannya juga unik diletakkan di
piring beralas daun pisang. Dalam sekejap Lentog Tanjung ini segera tandas,
kenyangnya pas ditambah minum es teh manis, nikmat tiada tara.
Selesai makan saya berfoto di depan patung khas desa
lentog tanjung berupa dua pikulan yang menjadi ciri khas penjual lentog sebelum
berjualan menetap.
Saya diantar Lia kembali ke penginapan dan saya
melanjutkan beristirahat. Nanti siang Lia akan menjemput lagi untuk makan siang
dan jalan-jalan ke obyek wisata yang ada di Kudus.
Sekitar jam 12 siang Lia telah menjemput saya dan
tujuan pertama adalah Museum Kretek yang lokasinya tidak terlalu jauh dari
tempat saya menginap.
Saya mengenai Museum Kretek dari Series di Netflix,
Gadis Kretek yang sempat hits beberapa waktu lalu. Museum Kretek adalah satu-satunya
museum tentang rokok yang ada di Indonesia. Memberikan informasi mengenai
perkembangan kretek dan menunjukkan bahwa kretek identik dengan Kota Kudus
sebagai daerah penghasil rokok kretek terbesar. Museum ini menyimpan
sebanyak 1.195 koleksi, yang berkaitan dengan sejarah rokok kretek. Terdapat dokumentasi
perjalanan Nitisemito yang dijuluki Raja Kretek Kudus, sekaligus pendiri Pabrik
Rokok Bal Tiga. Disini juga terdapat bahan dan alat produksi rokok kretek
tradisional, foto para pendiri pabrik kretek, alat promosi rokok kretek di masa
lalu hingga sekarang, alat giling, alat perajang tembakau, diorama proses
pembuatan rokok kretek dan masih banyak lagi. Bau tembakau yang khas menemani
saya selama menikmati museum ini. Rokok kretek adalah rokok asli dari Indonesia,
terbuat dari tembakau dan cengkih, dipadukan dengan saus perasa. Nama “Kretek”
berasal dari suara keretek-keretek karena komposisi tembakau saat rokok dihisap.
Rokok kretek berdasarkan catatan sejarah ditemukan oleh Jamhari pada 1890-an. Jamhari
kemudian meramu tembakau dan cengkeh untuk dijadikan obat. Ramuan itu dibuat
dengan cara melintingnya di dalam kelobot atau kulit jagung.
Setelah puas berkeliling museum dan foto-foto kami
melanjutkan perjalanan ke Mesjid Sunan Kudus atau sering disebut juga Masjid
Menara Kudus.
Mesjid ini adalah salah satu mesjid yang bersejarah
yang dibangun oleh salah satu dari Wali Songo yaitu Sunan Kudus atau Ja’far
Shadiq tahun 1549 Masehi. Mesjid Sunan Kudus ini mempunyai arsitektur yang unik
yang merupakan asimilasi budaya Islam
dan Hindu. Hal ini dapat dilihat pada struktur dan bentuk atap berupa tumpang
bersusun tiga serta bangunan menara
masjid yang mempunyai tinggi 17 meter yang terbuat dari susunan bata merah
tanpa perekat. Pintu gerbang Masjid
Menara Kudus juga didesain menyerupai candi belah atau Candi Bentar. Budaya
Hindu terdapat dalam mesjid ini karena pada saat Sunan Kudus datang ke Kudus mengajarkan
Islam, masyarakat Kudus saat itu sudah
memeluk ajaran agama Hindu. Sunan Kudus juga melarang masyarakat untuk makan
daging sapi yang berlaku sampai sekarang.
Selain sebagai masjid dan tempat ibadah, Masjid
Menara Kudus juga sering dijadikan tempat untuk berziarah ke makam Sunan Kudus.
Selain Sunan Kudus, di pemakaman yang terletak di bagian belakang kompleks
masjid juga terdapat makam beberapa orang yang merupakan keluarga sang sunan.
Saya sempat masuk ke dalam untuk melihat sekilas makam keluarga Sunan Kudus,
tetapi tidak sampai ke dalam ke tempat makan Sunan Kudus.
Karena hari sudah siang kami memutuskan untuk makan
di Soto dan Sop Pindang kerbau di H Sulichan.
Soto dan Pindang Kerbau Kudus berasal dari awal masa Sunan Kudus yang melakukan penyebaran agama
Islam di Kudus. Beliau mengajarkan toleransi dengan menghindari penggunaan
daging sapi yang merupakan hewan sakral dalam agama Hindu dan menggantinya
dengan daging kerbau untuk hidangan seperti soto dan pindang. Hal ini menjadi simbol
kerukunan agama yang bertahan hingga kini di kota Kudus.
Rumah makan H Sulichan ini lumayan ramai sewaktu saya
datang, saya memesan pindang kerbau dan Lia memesan Soto kerbaunya. Daging
kerbau sendiri mempunyai serat besar tapi over all tetap empuk dan enak,
kuahnya light, manis dan gurih, disajikan di piring di atas daun pisang dengan
taburan bawang goreng.
Setelah makan saya kembali diantar ke penginapan dan
akan dijemput lagi setelah maghrib untuk mengambil racepack dan makan malam.
Racepack hari 1 diadakan di gedung yang menjadi
Museum Jenang di Jalan Sunan Muria. Sebelumnya saya sudah mengisi form
pengambilan race pack di aplikasi disertai kelengkapan wajib yang harus dibawa
sehingga sampai di lokasi saya hanya melakukan pemeriksaan kesehatan yang
merupakan syarat wajib untuk mengikuti lomba. Pihak panitia sudah bekerja sama
dengan rumah sakit setempat dimana ada petugas kesehatan yang datang, sehingga saya tinggal mengikuti pemeriksaan
dan menyerahkan hasil ke panitia dan mendapatkan paket lomba berupa jersey dan
no BIB serta beberapa produk dari sponsor termasuk jenang Mubarok. Di halaman
ada mobil Siksorogo Lawu Ultra yang menjadi supporting dari lomba ini dalam hal
timing. Pengen ikut Siksorogo sebenernya, tapi nanti aja deh tahun depan.
Pemanasan ikut Muria dulu.
Museum Jenang didirikan oleh PT Mubarokfood Cipta Delicia—perusahaan yang memproduksi jenang merek Mubarok—sebagai tempat untuk mengenalkan produk jenang dan sejarahnya kepada khalayak luas. Museum Jenang digagas tepat pada momentum jenang merek Mubarok berusia satu abad, yaitu pada 2010. Disini terdapat ruangan-ruangan yang berisi informasi mengenai sejarah jenang di Kudus dan proses pembuatan jenang.
Selesai mengambil race pack saya dan Lia bergegas
menuju ke daerah Menara Kudus lagi untuk makan malam. Di dekat sana ada sate
kerbau yang bukanya sore hari. Sate ini sangat terkenal sehingga cepat habis
dan benar saya ketika saya datang pas banget tersisa 1 porsi sate kerbau.
Asyik. Menurut saya walaupun sate kerbau mempunyai serat yang lebih kasar dan
padat dari pada daging sapi, sate ini tetap terasa empuk dengan kuah kacang
yang pas rasanya. Pokoknya harus coba kulineran serba daging kerbau di Kudus!
Karena lokasinya yang dekat dengan Menara Kudus, saya
akhirnya bisa foto Menara Kudus saat malam. Menara berdiri dengan gagahnya
bersinar di tengah gelapnya malam.
Sebelum pulang, saya dan Lia mampir ke Susu Moeria yang
sudah berdiri sejak tahun 1938. Info yang saya saya dapat dari websitenya : https://susumoeria.com/
Pemerahan Susu sapi moeria ini adalah perusahaan
keluarga yang dibangun dari tahun 1938, oleh Ang Hien Siok. Perusahaan ini
berawal mula dari sebuah peternakan sapi perah kecil. Susu murni yang diperah
setiap subuh dan siang hari oleh keluarga Ang Hien Siok ini yang kemudian
dikemas ke dalam botol – botol kaca dan diantarkan oleh para loper ke rumah –
rumah di kota Kudus dengan sepeda onthel.
Lokasinya mirip dengan Cimory yang ada di puncak.
Awalnya pasti masih sederhana, tetapi setelah jaman makin berkembang akhirnya
Susu Moeria menjadi one stop shopping untuk susu dan olahannya serta ada
kafenya juga dengan beraneka makanan. Disini juga ada peternakan sapi dan bisa
melihat langsung proses memerah susunya.
Karena hari sudah malam, sapinya sudah tidur, jadi
nggak bisa dilihat deh. Wkwkw. Untuk minuman susunya rasanya standar susu pada
umumnya dengan olahan berbagai rasa dan ada kemasan di cup juga.
Besok paginya saya sempat jalan-jalan di sekitar
penginapan dan makan pagi sambil melihat sawah, setelah itu melihat GOR
Bulutangkis asuhan PB Djarum yang ada disana. Lewat depan asramanya juga dimana
ada murid-murid yang sedang santai.
![]() |
| Pemandangan belakang penginapan |
![]() |
| GOR Bulutangkis Djarum Kudus |
Setelah itu saya bersiap-siap packing dan memesan
makan siang lewat Gofood yaitu bebek mentok. Bingung soalnya mau pesen makan
apa.
![]() |
| Bebek Mentok |
Sekitar jam 12.30an Lia menjemput saya dengan motornya
dan kami menuju ke lokasi lomba Ultra Trail Mount Moeria di Grha Muria, Colo.
Perjalanan kami kali ini cukup jauh dengan jalan yang menanjak, satu arah
dengan makam Sunan Muria. Ketika kami melewati pabrik rokok Nojorono Kudus,
aroma cengkih yang kuat menyapa indra penciuman.
Di tengah perjalanan tiba-tiba mesin motor mati,
memang motor ini katanya sudah lama tidak ganti oli, menurut Lia. Beruntung
motor berhenti di depan sebuah toko, sehingga kami bisa duduk terasnya. Saya
memutuskan untuk menelpon panitia lomba untuk meminta bantuan. Mas Bram selaku
pic panitia cepat tanggap dan segera datang ke tempat saya. Mas Bram menanyakan
ke anak-anak kecil yang lewat dan ternyata tidak jauh dari sana ada bengkel
jadi kami segera ke sana untuk menaruh motor supaya di service dan saya bersama
mas Bram melanjutkan ke penginapan yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat
start. Nanti saya menunggu kabar selanjutnya dari Lia mengenai motornya. Setelah
melewati tanjakan terakhir yang cukup curam, tibalah saya di Kopi Montel, Coffe
dan Homestay.
Rumah sederhana dengan kedai kopi di sudut halaman
menyambut saya di siang yang agak mendung. Saya disambut oleh ibu pemilik
homestay yang ramah dan segera mengantar ke kamar yang akan saya tempati.
Setelah beres-beres saya segera keluar dan duduk-duduk sambil memesan kopi,
menikmati pemandangan hutan hijau yang memanjakan mata. Menjelang sore saya akan
pergi ke acara briefing di Graha Moeria. Ketika saya sedang asyik menikmati
kopi tiba-tiba Lia datang. Ternyata motornya sudah bisa dibetulkan sehingga dia
bisa melanjutkan perjalanan dan memilih untuk ke kopi Montel dulu bertemu
dengan saya dan ibu pemilik homestay yang sudah menjadi teman Lia sejak lama.
Sekitar jam 3 sore saya berjalan kaki ke Graha Moeria
untuk mengikuti briefing. Briefing diikuti oleh semua kategori, 50K, 30K, 15K
dan 7K. Race Director memberikan
pengarahan mengenai race besok atau untuk kategori 50K dan 30K akan start nanti
malam. Yang paling saya ingat setelah start kita akan naik tangga menuju ke
arah makam Sunan Muria. Selain itu ada info mengenai water station dan info
mengenai jalur yang hendak dilalui dan keterangan EG nya.
![]() |
| Gapura Taman Ria Colo |
![]() |
| Jalan ke arah start |
Setelah briefieng selesai saya kembali ke homestay, dan
setelah Lia pulang, saya memesan makan malam. Harus makan banyak persiapan race
besok. Menu malam itu
adalah pecel sayur dan peyek kacang, hmm.. enak pecelnya dan pas porsinya. Setelah makan saya segera beristirahat karena
besok pagi sekali jam 5.30 lomba sudah dimulai.
Finally,
hari yang dinanti tiba. Sekitar jam 4.30 saya sudah dibangunkan oleh ibu dan
alarm juga sudah berbunyi. Saya segera makan dan bersiap-siap,
setelah itu dengan berjalan kaki menuju ke tempat lomba dan segera bersiap di
garis start. Saya memang sendirian tetapi di garis start tidak merasa sendirian
karena bersama dengan peserta yang lain menunggu lomba dimulai. Perasaan deg-degan dan excited
bercampur menjadi satu tetapi saya sudah bertekad harus finis sebelum COT.
3..2..1...
go.. saya mulai berlari mengikuti jalur dan langsung
berhadapan dengan tangga menuju ke arah makam Sunan Muria. Setelah briefing
saya mencari info mengenai tangga ini dan ternyata berjumlah sekitar 400 anak
tangga. Sambil naik tangga secepatnya kami bertemu dengan para peziarah yang
juga mau naik atau turun. Sepanjang tangga juga banyak lapak yang berjualan
souvenir dan para penjual ada juga yang kasih semangat. Mereka juga pasti ikut
bersemangat seperti peserta.
![]() |
| Naik 400 anak tangga ke arah makam Sunan Muria |
Lepas naik tangga kami berbelok menuju jalur ke arah
pegunungan. Karena sebelah kanan itu makam Sunan Muria, saya sempat melihatnya
sekilas. Saya berhenti di beberapa spot yang mempunyai pemandangan indah untuk
sekedar berfoto karena tidak dikejar harus cepat finish jadi hanya foto
sebentar mestinya tidak masalah. Jalur bervariasi antara tanjakan tajam dan
turunan landai silih berganti. Beberapa kali kami harus melewati pohon yang
menghalangi lintasan. Beruntung cuaca tadi malam kering sehingga hari itu tidak
terlalu becek dan berlumpur hanya di tempat tertentu saja agak licin terutama
di bagian turunan yang curam yang agak menyulitkan saya sehingga saya merosot
saja supaya aman. Biarlah bagian bokong saya kotor yang penting selamat tidak
jatuh.
Tidak terasa setengah perjalanan dilalui dan sampai
di suatu tempat yang namanya Puncak Ternadi. 7 km lagi harus dilalui di jalan
menurun yang cukup melelahkan tetapi akhirnya berhasil di lalui. Saya sempat
bertanya-tanya juga apakah jalur yang dilalui sudah benar karena saya sendirian
di jalur tersebut, peserta lain sudah jauh di depan. Tetapi kalau dilihat dari
waktu masih cukup bisa finish under COT.
Terdapat
perubahan lokasi water station yang membuat saya agak bertanya-tanya karena
cukup jauh dari lokasi awal. Water station itu menjadi tanda kalau garis finish
sudah dekat. Ada kejadian yang membuat saya agak drop, karena setelah water
station terakhir saya kira sudah tinggal jalan mendatar menuju ke finish tetapi
kenyataan yang harus dihadapi adalah tanjakan yang cukup curam untuk menuju ke
jalur jalan raya
Tanjakan akhirnya berhasil di lalui, jalan raya yang
menanjak sudah dilewati sampai akhirnya..ahh... saya sampai di garis
Finish. Senangnya luar biasa berhasil
finish dengan waktu 30 menit sebelum jam 12 di cuaca yang cukup terik. Semua
rasa capai dan kaki yang pegal serta sakit tidak terasa lagi yang penting sudah
bisa finish, mendapat medali dan dapet 1 poin ITRA dan dapet poin UTMB.
Setelah foto-foto dan beristirahat sebentar sambil
makan soto yang disediakan oleh panitia saya kembali ke tempat finish untuk
melihat peserta lain yang finish. Seru banget liatnya, detik-detik terakhir
sampai ke garis finish setelah perjuangan melewati km demi km naik turun di
pegunungan Muria. Beberapa peserta yang
bareng dengan saya di race menyapa dan memberi selamat. Kami ngobrol sebentar. Senang sekali ikut
race trail di luar kota kita jadi lebih akrab ke sesama peserta. Selama di race
juga sesama peserta banyak saling tegur sapa menanyakan kabar kita. Karena
bagian pantat saya penuh lumpur (karena merosot itu) saya disapa peserta lain
karena dikira jatuh.
Setelah makanan habis dan puas menikmati suasana race
di siang yang cukup panas itu, saya kembali ke penginapan. Karena ke arah
penginapan jalannya menanjak dan saya sudah tidak ada tenaga lagi, saya minta
tolong ke mas panitia yang sedang ada disana untuk mengantar dengan motor,
hehe. Lumayan, hemat tenaga.
Sampai di penginapan saya memberi kabar dengan penuh
semangat ke ibu pemilik penginapan dan beliau ikut senang sekali dan langsung
memberi selamat. Saya segera mandi, ganti baju, makan dan beristirahat. Karena
tadi sudah makan dan masih capek sekali saya belum pesan makan lagi. Nanti saja
bareng sama Lia yang akan datang menjemput.
Sekitar jam 3 sore Lia datang bersama anak bungsunya. Kita semua makan siang dan setelah ngobrol sebentar kami pulang ke kota Kudus. Kembali ke rumah ibu pemilik penginapan, tempat saya menyimpan koper. Tidak lama saya kembali diantar Lia untuk membeli oleh-oleh jenang kudus dan balik lagi ambil koper dan lanjut pesan grab car menuju Terminal.
Transportasi pulang ke Jakarta saya sudah pesan
sleeper bus Muji Jaya Putra Mandiri (MJPM) dengan harga tiket 330 ribu di
Traveloka yang berangkat jam 9 malam. Bus datang sekitar jam 8.30 malam,
beberapa bus sekaligus untuk tujuan yang berbeda. Saya naik ke bus tujuan Lebak
Bulus, dapat tempat duduk di atas dan belakang supir supaya dapat pemandangan
ke jalanan depan. Tempat duduknya tidak berbeda jauh dengan sleeper bus
sebelumnya sewaktu saya ke Yogya, bisa rebah ke belakang, lengkap dengan
selimut dan bantal serta tempat charge, snack, makanan dan minuman. Saya nggak
minat nonton jadi tidak terlalu memperhatikan apakah ada TV kecil di depan
saya. Karena setelah bus berjalan saya langsung tidur cukup nyenyak. Sempat terbangun ketika di tol Cikampek dan
akhirnya bus sampai juga di Lebak Bulus. Dengan naik Gocar saya tiba kembali
dengan selamat sampai di rumah.
![]() |
| Di dalam sleeper bus |
![]() |
| Snack di bus |
Perjalanan dan lomba yang sangat berkesan dan tidak
akan terlupakan, terutama karena bisa meraih poin ITRA pertama.































































