Anniversary Wisata Kreatif Jakarta ke 8 tahun ini
dirayakan pada hari Minggu tanggal 9 februari 2025 dengan free gift tour ke
gedung Produksi Film Negara (PFN) yang sekarang sudah menjadi Cagar Budaya. PFN
sendiri sangat terkenal pada jamannya karena memproduksi film boneka si Unyil
yang legendaris dan Film Gerakan 30 September yang pastinya tidak bisa
dilupakan pada tahun 80an karena selalu diputar di TV pada tanggal 30
September.
Setelah mengadakan pengumuman di IG WKJ, terpilihlah
50 orang peserta termasuk wakil dari Kotekasiana alias Komunitas Traveler
Kompasiana dan menjadi Kotekatrip yang ke 3.
Beruntungnya saya bisa ikutan karena pada tanggal itu
saya tidak ada kegiatan lain. Dengan penuh semangat saya menyiapkan dress code
yang sesuai karena kebetulan saya mempunyai baju warna merah dan celana jeans
yang berbentuk overall atau baju kodok atau celana montir yang beken di pakai
di tahun 80-90an. Oh iya, sebelumnya memang ada pengumuman di IG kalau dress
code adalah baju warna merah atau baju tema era 80-90an.
Seluruh peserta berkumpul di gedung PFN di Jalan
Otista Jakarta Timur sekitar pukul 14.30 sore. Beruntung sekali cuaca sore itu
cerah bahkan mengarah ke terik sehingga acara bisa berlangsung lancar. Karena
setelah mendapat pengarahan dari pak Iwan Setiawan selaku Head of Asset dan
Manajemen Bisnis, kami diantar beliau menelusuri kompleks gedung PFN sambil
diceritakan sejarahnya.
Sebagai gambaran awal sejarah PFN bermula dari Tahun 1934 dengan berdirinya Java Pasific Film pada jaman Belanda oleh Albert Balink. Film pertama yang dihasilkan berjudul Pareh dan diakui sebagai salah satu karya sinematik terbaik Hindia Belanda. Tahun 1936 JPF berubah menjadi ANIF dan menghasilan film Terang Bulan yang sukses besar di tingkat Internasional pada tahun 1937.
Pada jaman Jepan tahun 1945, ANIF diambil alih oleh
pihak Jepang dan diubah namanya menjadi Perusahaan Film Jepang dan dihadian
propaganda. Setelah merdeka barulah berdiri Perum Produksi Film Negara sebagai
Berita Film Indonesia oleh RM Soetarto dibawah kementrian Penerangan yang saat
itu dibawah kepemimpinan Amir Syarifuddin. Setelah menjadi BUMN pada tahun 1988
akhirnya PFN menjadi Perusahaan Perseroan pada tahun 2023. Kompleks gedung PFN
pun menjadi Cagar Budaya dan mempunyai nama PFN Heritage.
Kami diajak menelusuri gedung-gedung yang terdapat di
kompleks PFN dan menuju gedung utama yang di dalamnya terdapat ruangan yang
kedap suara dimana ada hiasan tentang perkembangan film Indonesia yang terbuat
dari gabus. Unik sekali. Selain itu boneka-boneka yang dipakai saat syuting
film si Unyil juga diletakkan di sana. Pembuatan boneka si Unyil dan
teman-temannya itu ternyata bisa disamakan dengan pembuatan keris karena
mempunyai empunya masing-masing. Sebelum pembuatan boneka tersebut para empu
mempunyai ritual dan tirakat bahkan puasa supaya boneka yang dihasilkan
terlihat sempurna dan seperti mempunyai jiwa. Tapi benar juga ya, boneka si
Unyil itu benar-benar berkesan bahkan sampai sekarang setelah puluhan tahun
berlalu. Selain itu ada pula projector jadul yang merupakan peninggalan dari
jaman dulu.
Setelah berfoto bersama di depan gedung PFN kami
melanjutkan perjalanan menelusuri gedung-gedung yang lain. Selain gedung lama,
ada juga gedung yang direnovasi dan disewakan untuk umum yang berminat
mempunyai virtual office selain itu juga menyewakan ruangan yang bisa digunakan
untuk Podcast.
Di bagian belakang terdapat gedung-gedung yang
sepertinya terbengkalai, tetapi terbengkalainya itu bisa digunakan untuk
syuting film, biasanya film horor. Dan ada juga gedung yang dulunya dipakai
untuk syuting film si Unyil. Di bagian belakang gedung juga terdapat
mural-mural hasil dari acara Festival Mural Internasional yang pernah diadakan
di sana. Menurut info dari pak Iwan, saat ini PFN sedang memproduksi film
Hoegeng, polisi yang terkenal berani dan jujur. Pastinya akan jadi film yang
bagus jika sudah jadi.
Setelah usai jalan-jalan, kami kembali ke ruangan
utama untuk melanjutkan acara yaitu perayaan ulang tahun Wisata Kreatif Jakarta
ke 8. Sebelumnya para peserta sudah diberikan info untuk membawa makanan supaya
bisa saling dinikmati. Tradisi ini sudah sering diadakan oleh Wisata Kreatif
Jakarta dengan nama bekennya «potluck». Seperti tahun-tahun sebelumnya yang
special di Ultah WKJ itu adalah adanya Bintang Tamu. Saya yang belum pernah
ikut acara ultah WKJ sebelumnya sempat bertanya-tanya siapakah bintang tamu
itu. Dan ternyata bintang tamunya adalah keluarga Roti Buaya khas Betawi.
Bapak, Ibu dan anak buaya jadi maskot acara ultah WKJ. Saya yang belum pernah
makan roti buaya sangat terkesan dan tak melewatkan foto bersama keluarga
buaya. Selain roti buaya ada pula
bintang tamu lain boneka maskot Jakarta, yang bernama Je Ka dan Te. Je adalah
representasi dari Ondel-Ondel Jakarta. Ka adalah macan kemayoran dan Te adalah
lidah api Monas. Ada cerita menarik di balik adanya boneka-boneka ini. Dari
sayembara pembuatan boneka maskot Jakarta, dari sekian banyak desain yang masuk
ternyata pemenangnya dipilih karena dia memberikan 3 desain sekaligus yaitu
maskot JeKaTe ini.
Setelah acara makan dan berbungkus makanan kami
segera masuk ke ruangan untuk mendengarkan presentasi dari pihak PFN yang
menceritakan sejarah dan produk dari PFN yang dihasilkan saat ini sejak berubah
statusnya menjadi Perseroan. Berbeda dengan sebelumnya yang berbentuk Perum
atau Perusahaan Umum, jika berbentuk Perseroan otomatis mempunyai tujuan untuk
menarik pihak luar supaya bisa bekerjasama guna mendapat keuntungan bagi
perusahaan. Beberapa lokasi di PFN juga bisa digunakan untuk tempat syuting
film atau acara dan tempat konser musik juga dengan menggandeng PT V2 Indonesia
sebagai penyedia videotron yang canggih. Kebetulan kantor saya bekerja sama
dengan V2 karena bergerak di bidang audio visual juga. Jadi sudah tidak asing
dengan perusahaan ini.
Sebagai penutup acara dan sebagai yang ditunggu-tunggu
peserta adalah pemutaran Film si Unyil. Ternyata film si Unyil sudah dibuat
dalam bentuk yang lebih modern dan kekinian. Bonekanya bisa dibuat dengan mulut
yang bisa bergerak mengikuti ucapan dan matanya bisa berkedip-kedip. Ceritanya
juga disesuaikan dengan kondisi sekarang. Tetapi film boneka si Unyil yang
versi lama juga diputar. Ketika melihat penata musik dan penulis skenarionya
kita semua baru sadar kenapa film si Unyil itu sangat berkesan. Jelas saja
penata musiknya Purwatjaraka dan penulis skenarionya Arswendo Atmowiloto!
Terakhir sekali adalah pengumuman pemenang best dress
pada hari itu dan ternyata saya adalah salah satu pemenangnya! Hore! Selain
best dress ada pemenang dari lomba sosial media IG Story.
Sungguh pengalaman yang sangat berkesan di hari
Minggu ini, kalau tidak bersama Wisata Kreatif Jakarta tentu saya tidak akan
pernah datang ke PFN.